GantiGol

Alfred Riedl Melulu!

sumber gambar: GANTIGOL
Sebarkanlah:

“PSSI adalah kumpulan orang-orang yang ogah berubah untuk maju. Barisan gagal move on!”. Tak usah jauh-jauh harus menelisik transparansi dan keuangan mereka (yang hanya menimbulkan banding demi banding di pengadilan, buang-buang waktu) untuk membuktikan kalimat pembuka paragraf ini, dari pemilihan pelatih tim nasional Indonesia saja sudah terlihat. Alfred Riedl melulu meski tak ada layak-layaknya sedikitpun untuk kembali menangani Timnas.

Sebelum konflik hingga dualisme menyerang PSSI dan sanksi FIFA, si pelatih bangkotan ini selalu ditunjuk jadi pelatih Timnas untuk Piala AFF, yang kesemuanya gagal. Jika pada AFF 2010 masih bisa dimaafkan karena sampai ke final, di AFF 2014 lalu, lolos dari fase grup saja tidak bisa, eh malah ditunjuk lagi.

Penunjukan demi penunjukan yang membuat kita selalu bertanya-tanya, “Ada perjanjian setan apa antara PSSI dengannya?” atau, “Apa sih prestasi dan jasa besar Riedl untuk sepakbola bangsa ini?”.

Dua pertanyaan yang sulit bagi kita untuk menjawabnya. Sebab, untuk pertanyaan yang pertama, hanya Nirwan Bakrie, mantan manajer BTN di era PSSI Nurdin Halid, Iman Arief, serta beberapa kolega mereka yang masih menancapkan kakinya di PSSI sekarang lah yang bisa menjawab. Kita mah apa atuh.

Untuk pertanyaan kedua, sulit bagi kita menjawab prestasi dan jasa besar Riedl, karena memang tak pernah ada jawabannya. Nggak ada prestasinya!

Lagi pula Riedl sudah tak layak lah untuk melatih tim sekaliber Timnas yang kita banggakan bersama ini. Alasannya, sih banyak. Coba kita telaah deh satu-satu;

Yang kesatu, prestasi. Emang dia pernah bawa gelar ke Indonesia? Dua kali AFF menjadi kegagalan Riedl masih kurang? Ah mungkin PSSI butuh kepastian macam orang bijak bilang, “afdholnya sampai tiga kali”. Baru percaya kalau Riedl nggak bawa prestasi di Piala AFF ketiganya bersama tim Garuda Merah Putih.

Dua, si Opa ini sudah tak layak dari segi fisik. Usia 66 tahun adalah masa-masa di mana pikun mulai menyerang. Belum lagi beliau hidup dengan satu ginjal hasil sumbangan, tak boleh capek-capek amat. Toh ginjalnya juga hasil pemberian warga Vietnam, bukan Indonesia. Cukup respek, membantu doa dan menyarankan ia beristirahat total mengisi hari tuanya adalah hal terbaik yang perlu kita berikan padanya. Tak perlu lah sampai menyiksanya dengan menjadi pelatih Timnas untuk berteriak memberi instruksi dari pinggir lapangan.

Tiga, Timnas tandingan. Kita semua pasti tak akan pernah lupa di kala ia memimpin timnas KPSI demi menandingi Timnas Indonesia di bawah asuhan Nil Maizar sebelum ke AFF 2012 lalu. Belum lagi timnas Riedl uji coba melawan tim gereja di Australia, hahahaha.

Empat, efisiensi. Ini maksudnya apalagi kalau bukan bahasa. Jelas, ia butuh translator, untuk menyampaikan instruksinya. Selain makan waktu karena dua kali proses untuk satu instruksi, ujung-ujungnya si penerjemah naik pangkat dan dipaksakan menjabat sebagai asisten pelatih. Syukur-syukur kalau si penerjemah ngerti bola, kalau nggak paham. Waduh, gawat. Si Riedl bilang “Pass!”, dia nerjemahinnya, “Ijinkan!”. Duh!

Kelima, banyak maunya. Sedikit buka-bukaan deh, tentang syarat baru pengiriman pemain Timnas dari PT GTS (Gelora Trisula Semesta): setiap klub maksimal mengirimkan dua pemain ke Timnas. Ini sempat membuat polemik, dan wajar orang bola kita, tahu sedikit nyinyirnya nyelekit. Sejatinya, ini juga karena Riedl yang banyak maunya kok.

Riedl meminta ISC dihentikan selama dua bulan karena ia fokus dengan TC atau pelatnas untuk AFF. Nah, tentu ini membuat klub-klub berang dong karena pendapatan terhenti, begitu juga GTS selaku pemilik dan operator ISC. Walhasil, GTS kemudian mengundang klub-klub untuk manajer meeting di Hotel Parklane Jakarta, 22 Juli lalu.

Permintaan Riedl dijadikan opsi pertama, sementara saran GTS maksimal dua pemain per klub jadi yang kedua. Maka, demi kelangsungan hajat bola orang banyak, maka suara bulat memilih opsi kedua. Duuh Riedl ini memang kok ya.

Keenam dan seterusnya… (silakan Bung berikan di kolom komentar di bawah. Pasti masih banyak lah dan Bung tahu akan hal-hal apa saja yang membuat Riedl tak layak tersebut).

Selain Riedl, sebenarnya masih banyak lah pelatih lokal yang berpotensi dan perlu mulai diberi kepercayaan lagi. Trio pelatih Padang; Nil Maizar, Jafri Sastra dan Indra Sjafri yang para pendahulunya merupakan bapak pemikir di era awal berdirinya negeri ini bisa lah masuk nominasi. Djadjang Nurdjaman juga boleh. Banyak lah, daripada Riedl melulu.

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana