GantiGol

Bagaimana Cara Melumpuhkan Suporter Militer?

sumber gambar: Persegres FC dan diedit oleh Gantigol
Sebarkanlah:

Sejarah baru tercipta di persuporteran dunia. Adalah Indonesia yang mengukirnya dengan melahirkan generasi baru di dunia suporter: yakni suporter militer.

Tanpa flare, tanpa kembang api, suporter militer ini mampu berbuat lebih brutal ketimbang apa yang pernah dilakukan kelompok suporter semacam hooligans atau ultras di dunia. Brutality!

Mereka bahkan sudah membuat Ultras kocar kacir di Gresik. Lebih dari 50 orang Ultras, tragisnya satu di antaranya wanita, mereka hantarkan ke pembaringan rumah sakit. Melesat tak ragu. Fatality!

Di antara Ultras yang berdarah-darah tersebut, juga terdapat suporter anak-anak yang mencoba menghabiskan akhir pekannya dengan refreshing ke stadion. Mereka ikut juga menjadi korban. Babality!

Ya, apa yang mereka tunjukkan di Stadion Petrokimia Putra Gresik lalu seolah membuktikan bahwa mereka menguasai beberapa jurus "Finish Him" ala game Mortal Kombat itu.

,

Lalu, dengan kehebatannya seperti itu apakah mereka bisa dikalahkan? Bagaimanakah cara melumpuhkan barisan suporter militer itu?

Wah, sebuah pertanyaan yang salah. Pertanyaan berbau dendam, mencoba saling mengalahkan. Malah menjadi kalimat tanya retoris, karena kita tahu jawabannya: mereka susah untuk dikalahkan.

Suporter militer ini adalah tenaga terlatih. Kalah jumlah bukan lah masalah berarti bagi mereka. Sebab, mereka dididik untuk mengendalikan massa. Konon perbandingan idealnya: satu orang militer harus bisa mengendalikan 10 orang sipil. Ngeri euy.

Itu masih tangan kosong. Belum dengan senjata. Lebih-lebih mereka memiliki ketrampilan untuk mengubah alat apa saja sebagai senjata. Baik untuk melindungi diri atau untuk melumpuhkan lawan. Di Gresik kemarin mereka sudah menunjukkannya dengan mengalihfungsikan bendera corner sebagai senjata.

Lalu, kalau kita tak boleh bertanya bagaimana melumpuhkannya, berarti kita harus mendiamkan mereka saja dong? Tanpa ada perlawanan. Hanya berdoa saja dan memposisikan diri sebagai orang yang teraniaya agar doa kita dikabulkan? Duh.

Kemudian bagaimana jika kita tidak akan mengganggu mereka dengan umpatan-umpatan ala suporter, meskipun sebenarnya hari menjadi suporteradalah hari bebas mengumpat, tapi mereka yang memulai duluan. Apakah kita harus tetap diam saja?

Hmmm. Jadi begini Bung.
Di sepakbola, memang untuk menunjukkan yang terbaik, harus saling mengalahkan. Saling membalas gol malah membuat jadi seru sebuah laga. Tapi itu untuk gol dan kemenangan di lapangan, untuk tujuan yang baik-baik.

Tapi kalau untuk saling melukai, mencederai, menjatuhkan dan semua yang negatif-negatif lhah pokoknya, tetap tak bisa dibenarkan. Luka dan cedera untuk diobati, tidak untuk membalas melukai. Jatuh untuk bangkit lagi, bukan untuk membalas menjatuhkan lawan. Dendam hanya akan memperkeruh keadaan dan memperpanjang persolan. Tak akan ada habisnya.

Bukankah PSSI beberapa tahun terakhir sudah membuktikannya bahwa saling menjatuhkan itu tak pernah ada habisnya? ISL dijatuhkan IPL, ISL membalas menjatuhkan IPL, ISL dihentikan. Nurdin Halid dijatuhkan Djohar Arifin, Djohar Arifin dijatuhkan La Nyalla, La Nyalla dijatuhkan Menpora, Menpora dijat.. ah entahlah nanti. Yang penting Joko Driono selalu aman dalam pusaran. Hihihi.

Tapi menyangkut si Suporter Militer itu, kita memang tak boleh dan tak harus mengalahkan. Yang kita bisa lakukan adalah menempatkan mereka kembali ke posnya masing-masing sebagai penjaga kedaulatan atau pihak keamanan. Melumpuhkan pergerakan mereka di lapangan sepakbola.

Kunci kesuksesan untuk mengembalikan mereka ke posnya itu adalah: Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Yup! Kebersamaan!

Caranya: setiap klub yang menjamu tim suporter militer, maka suporter tuan rumah klub tersebut melakukan boikot dengan menolak datang ke stadion. Kalau mau digencarkan dengan membuat petisi online agar tak dukung ke stadion, boleh-boleh saja. Gerakan itu juga bisa didukung dengan melaporkan mereka ke Komnasham dan Komisi Perlindungan Anak.

Begitu terus sampai operator kompetisi tidak mengijinkan klub yang dibela Suporter Militer itu bertanding.

Jika serentak bersedia, maka untuk kali pertama suporter Indonesia mampu menunjukkan bahwa mereka bisa bersatu padu. Tidak dalam ranah membela Timnas melulu. Ini adalah kesempatan Bung+Nona sekalian membuktikan sebuah persatuan dan rasa kebersamaan suporter yang katanya terpatri di dada itu. Gerakan kebersamaan tanpa ikatan dinas atau sebuah perintah tugas.

Itu kalau Bung+Nona sekalian bersedia. Tak mau tak apa. Kita memang bangsa pemaaf dan pelupa yang selalu bersembunyi dalam tagar #MenolakLupa. Iya, hanya tanda pagar di dunia maya, tanpa ada bukti di dunia nyata.

Seperti saat ini contohnya. Di Twitter beramai-ramai membuat trending #BubarkanPSTNI tanpa beraksi apa-apa. Hanya dengan jari dan jempol digoyang di monitor sudah merasa andil terhadap sesuatu. Maya itu semu, Bung!

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana