GantiGol

Bedah Taktik Barito Putera di Polesan Mundari Karya

sumber gambar: PT GTS/IndonesianSC
Sebarkanlah:

Susah ditebak dan permainannya tergantung lawan yang dihadapi. Itulah Barito Putera di bawah polesan Mundari Karya dalam perjalanannya di putaran pertama Indonesian Soccer Championship (ISC) 2016 ini.

Selain melihat lawan dan materi pemain yang absen, hal itu disebabkan juga ‘kegemaran’ Mundari dalam mengubah skema permainan di tengah-tengah pertandingan. Ia bisa saja berangkat dari formasi 3-5-2 (yang cenderung menjadi 3-4-2-1) lalu berubah menjadi 4-1-4-1. Atau sebaliknya dari 4-1-4-1 tiba-tiba berubah menjadi 3-5-2 di babak kedua.

Inkonsisten? Boleh saja Bung menyebut Barito demikian. Tapi justru itu lah kekuatan mereka. Tak ada template tetap yang membuat pelatih-pelatih lawan kesulitan untuk menakar permainan mereka.

Tak heran kiranya, meski kesulitan masuk papan tengah klasemen, susahnya mereka ditebak membuat Barito menjadi tim yang produktif dalam urusan gol. Bukan sekadar menjadikan Luis Carlos Junior sebagai top skor sementara, Barito juga berada dalam jajaran tim yang sudah mencetak di atas 20 gol dari 14 laga bersama Madura United, Semen Padang, Sriwijaya FC atau Bhayangkara Surabaya United. Rataan gol Laskar Antasari sejauh ini adalah 1.5 per laga.

‘Kegemaran’ Mundari itu juga berimbas pada pertahanan mereka. Barito kerap jadi bulan-bulanan karena instruksi untuk berubah strategi di tengah pertandingan, sementara pemain di lapangan belum siap untuk berubah posisi. Tak heran jika mereka sudah kebobolan 24 gol dari 14 laga putaran pertama ini.

Dan, tim Gantistats yang penasaran dengan ‘taktik bunglon’ Mundari ini mencoba membedahnya. Dapat kami simpulkan sementara bahwa secara garis besar, Barito bermain dengan 3-5-2 dan 4-1-4-1.

Sebagai penjelas, kami coba analisa pada dua pertandingan penting mereka. Yakni saat Barito kalah dari tim papan bawah, Persela Lamongan, serta saat mereka mampu menahan imbang Arema Cronus di Kanjuruhan.

Halaman
Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Gantistats Sepakbola bukan matematika, tapi sepakbola butuh matematika. Demikian.

Menurut Ngana