GantiGol

God Save The King

sumber gambar: GANTIGOL
Sebarkanlah:

Bangsa Inggris. Salah satu bangsa yang masih menjadikan wanita sebagai sosok utama di kehidupan dunia. Bangsa yang meletakkan seorang Elizabeth II sebagai Ratu dan junjungan tertinggi, yang titahnya dipercayai sebagai sabda terusan dari Tuhan.

Kepercayaan bangsa Inggris kepada sang Ratu itu sangat mengakar dan membelukar hingga di urusan sepakbola, sebuah olahraga yang juga diakui mereka sebagai penemunya. Di setiap pertandingan internasional sepakbola, mereka lebih memilih “God Save the Queen” sebagai lagu kebangsaan yang diputar sebelum sepakmula.

Tersiratkan pesan jelas bahwa sepakbola adalah olahraga utama, dan doa untuk sang Ratu utama harus disertakan. Sebab, di beberapa cabang olah raga lainnya, lagu kebangsaan itu tak melulu digunakan.

Di rugby misalnya, Inggris juga masih menggunakan tiga lagu lainnya, "Jerusalem", "Land of Hope and Glory" dan “Abide With Me”. Di cricket, sejak 2003 silam, "Jerusalem" lah yang digunakan sebagai anthem. Sementara di lacrosse "God Save The Queen" digunakan untuk menyemangati tim pria, untuk tim nasional wanita lagu “Land of Hope and Glory", lagu ini pula yang dipilih tim nasional Dart Inggris sebagai lagu kebangsaan.

Inggris dan keratu-ratuannya itu mulai berubah semenjak kekuatan raja dari Thailand, King Power, datang ke Leicester. Kearifan dan kebijaksanaan yang cenderung lembut ala sang Ratu mulai diusik oleh pria-pria dengan kekuatan ala raja-raja ini.

Pria-pria yang masuk dalam sebuah pasukan khusus dengan sandiasma Srigala dalam arahan arsitek perang Italia, Claudio Ranieri.

Di dalam pasukan itu banyak jagoan perang macam jago menembak Jamie Vardy, pemanah jarak jauh Ryad Mahrez, pemilik jurus mabuk yang sudah insyaf Danny Drinkwater, tukang pukul kokoh West Morgan, hingga ahli Samurai dari Jepang, Shinji Okazaki.

Ada juga seorang penduduk asli Inggris yang merupakan seorang raja. Andy King namanya. Andy adalah seorang 'Raja di Raja' untuk urusan kompetisi.

Meski berada di tanah Inggris, sepasukan ini berperang di lapangan hijau tidak dengan semangat ala sang Ratu: lembut, tenang tapi penuh propaganda, sesekali menonjolkan sentuhan glamor ala sosialita.

Pasukan kecil Ranieri ini menggunakan semangat seorang pria, seorang raja: berjuang dan melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kekuatan Raja terpatri di dada mereka.

Inggris boleh mendaku diri sebagai United Kingdom (kesatuan kerajaan). Yang artinya ada raja-raja berkumpul dan bersatu untuk tunduk pada sang ratu. Raja-raja kecil yang percaya bahwa memberi selamat kepada sang Ratu maka akan ikut selamat dalam jalan Tuhan. God Save The Queen! God Save The Queen adalah panji-panji yang dipekikkan.

Tapi raja Vichai Srivaddhanaprabha dari Thailand yang mendanai pasukan Srigala ini tak mau tunduk. Citra Gajah Putih, besar dan suci karena tak pernah tunduk dan dijajah, harus tetap dijaga. Tuhan akan berpihak pada Raja, bukan pada sang Ratu.

Mereka pun melawan kepungan pemuja gemerlap sang Ratu di tanah sepakbola dengan gagah berani. Srigala ini menyerang sebagai kesatuan; mereka bermain tidak untuk memunculkan salah satu rekannya sebagai ksatria utama macam Setan Merah yang melahirkan David Beckham atau Cristiano Ronaldo. Leicester bermain sepenuh hati sebagai tim.

Lawan demi lawan memang dikalahkan, tapi mereka tak pernah sampai ikut menyakiti hati mereka. Sifat ksatria sejati ini pun membuat lawan-lawan berbalik ikut mendukung pasukan Srigala ini. Didoakan hingga merebut tahta.

Kini, tahta juara sudah direbut oleh pasukan Srigala ini. Mereka bebas bersuka merayakannya.

Tinggal para lawan yang pernah dikalahkan merenung di antara dua pilihan, mendoakan sang Ratu atau menerima sang Raja baru. Tetap ikut mendendangkan God Save The Queen kah? Sementara sudah terlihat jelas bahwa God Save The King.

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana