GantiGol

Hari Itu Kumengingat Hari Ini

sumber gambar: Getty Images
Sebarkanlah:

Hari ini, 19 tahun 12 hari yang lalu, adalah momen pertamaku menyaksikan final Liga Champions Eropa. Sama halnya dengan dini hari nanti, di dini hari dari hari itu, dua tim yang akan bertarung memperebutkan trofi  adalah Juventus dan Real Madrid.

Yang pertama akan selalu dikenang, begitu kata orang-orang.  Dan kenangan pertamakali nonton final ini, meski hanya melalui layar televisi,  akan selalu terkenang karena momen tersebut hampir bersamaan dengan sejarah besar negeri ini.

Sebagaimana sebuah partai final, dapat kuceritakan dari ingatanku, bahwa kala itu berita-berita pendukung pertandingan ini juga mengalir dengan derasnya sama dengan hari-hari belakangan ini. Mungkin kadar derasnya hanya karena jenis media saat lebih banyak daripada dulu.

Pemberitaan sepakbola di harian atau dua-tiga tabloid olahraga edisi Mei 1998 juga mengerucut pada final ini. Menjurus ke dua tim dari Italia dan Spanyol tersebut. Final ideal, katanya, dulu atau sekarang.

Banyak kesamaannya, banyak pula bedanya. Tapi kalau disuruh mencari lima perbedaan sebagaimana kuis-kuis kurang kerjaan yang selalu mencari pembeda, sementara kita, manusia, konon adalah sama dan sederajat, aku tak mau. Dan, tak akan kusebutkan satu persatu seperti finisnya kedua tim di liga domestiknya, misalnya, Real dulu tercecer di empat besar La Liga sementara kali ini, di jelang final mereka juara .

Tapi ada satu perbedaan besar yang masih kuingat di antara derasnya berita menyongsong final tersebut. Yakni secuil kolom tentang pembahasan tentang sosok gelandang di harian dan tabloid olahraga kala itu.

Bukan, yang dibahas bukan gelandang Juventus, Zinedine Zidane, yang kali ini menjadi pelatih Real Madrid. Melainkan duel gelandang sesama Belanda! Harap maklum, aku memang fans tim nasional Belanda karena penghormatanku akan pembangunan jalan raya dan pabrik gula di negeri ini. Terimakasih, Belanda!

Dua gelandang Belanda itu berbeda kubu tapi tetap ada samanya jua. Sama-sama berambut gimbal, sama-sama kulit hitam: Edgar Davids di kubu Bianconeri, sementara Clarence Seedorf di kubu Los Blancos. Pertarungan keras keduanya sudah diprediksikan dan diyakini akan melupakan tim nasionalnya demi membela badge di dada yang mengisi rekening pribadi mereka.

Adalah dapat dipahami jika keduanya kala itu menyeruak dalam pembahasan berita. Selain final dilangsungkan di Amsterdam Arena,  Davids dan Seedorf kala itu digadang-gadang sebagai penerus duo gelandang hitam nan gimbal milik Belanda sebelumnya Frank Rijkaard dan Ruud Gullit.

*

Dini hari di hari itu, kick off final pun tiba. Dari layar kaca, ditemani paman, kami berdua asyik menyaksikan bola-bola digulirkan di lapangan Amsterdam Arena. Seperti yang diprediksikan, Seedorf dan Davids tampil beringas di laga ini. Keduanya sama-sama mendapatkan kartu kuning dan sama-sama nyaris, Seedorf nyaris assist melalui umpan tendangan sudutnya, sementara Davids mendapatkan kesempatan dari dalam kotak namun bola tepat di kiper.

Ketat dan sengitnya pertandingan masih membekas dalam benakku. Redondo yang terkenal santun dan flamboyan sampai mencoba diving saat didekati gelandang flamboyan kelas dunia lainnya, Didier Deschamps. Kontrol dada dan dilanjutkan tendangan volley Filippo Inzaghi, tendangan bebas Roberto Carlos dan Zidane yang sama-sama tipis di samping gawang, hingga gol Pedrag Mijatovic yang memutar usai memanfaatkan bola muntah hasil tendangan Roberto Carlos. Masih terekam jelas.

See, yang pertama memang selalu terkenang ????

**

Hari itu, paginya, sekitar pukul delapan, aku bangun kesiangan karena mengkhatamkan final tersebut. Maksud hati bergegas untuk cuci muka saja dan berangkat meski tahu telat terurungkan oleh kedatangan tanteku. Ia yang merupakan guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) di sekolahku, malah pulang lebih dulu. “Hari ini sekolah dibebaskan jam pelajaran. Darurat, setel TV!” kata Tanteku.

Meski jauh dari Jakarta sang ibukota, namun kata “darurat” di Mei 1998 adalah kata dahsyat yang membuat orang tertegun, gusar, dan sejurus kemudian berkecamuknya pikiran antara waspada, takut atau hati-hati. Apalagi aku saat itu kami berada di daerah pesisir bagian dari Situbondo. Sebuah kota yang dua tahun sebelumnya sempat terjadi pembakaran gereja-gereja hampir sekabupaten.

“Kalau orang Jawa bilang ‘ora patheken’”, kalimat dari layar televisi itu yang masih membekas sampai kini di kenanganku. Kalimat yang diucapkan dengan senyum dan setengah tertawa oleh Soeharto.

Ya, hanya selang beberapa jam dari final Liga Champions 1998 yang dimenangkan Real Madrid 1-0 itu, Soeharto resmi meletakkan jabatannya sebagai presiden. Aku, yang masih kelas satu SMA, tak tahu harus gembira atau sedih. Yang kutahu kala itu, Real yang gembira, Juve yang bersedih, dan Soeharto yang tetap tersenyum. Senyum khas seperti yang biasa kugenggam dalam uang saku mingguanku.

***

Hari ini, apakah sejarah hari itu akan terulang? Entahlah.  Aku sendiri  tak ingin itu terulang. Sebab, jika Juventus kembali kalah, bisa-bisa besok ada Presiden mundur dari jabatannya. Eh.

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana