GantiGol

Jadwal ISC A Layak Diapresiasi

sumber gambar: ISC
Sebarkanlah:

Meski sekadar turnamen jangka panjang guna mengisi kekosongan liga, dan masih banyak kekurangan di sana-sini, namun Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 tetap layak untuk diapresiasi. Terutama dari penyusunan jadwal yang dilakukan oleh PT Gelora Trisula Semesta (GTS).

Ya, melihat dari jadwal untuk ISC A, untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi sepakbola tertinggi di bangsa ini, jadwal disusun dengan sangat rapi dalam tiap gameweek. Setiap tim hanya bermain sekali saja dalam tiap pekan.

Susunan hari pada ISC A ini juga cukup teratur. Di pekan-pekan awal, dalam satu gameweek, empat hari dipilih untuk match day; Jumat, Sabtu, Minggu dan Senin (tak menutup kemungkinan pada hari Rabu pada putaran akhir nanti). Untuk hari Jumat diselenggarakan dua pertandingan, Sabtu dan Minggu masing-masing ada tiga pertandingan, sementara Senin hanya ada satu pertandingan.

Begitupun dengan jam kick off, selain laga pembuka yang digelar jam delapan dan sepuluh malam, pertandingan juga konsisten akan dilakukan pada jam empat untuk pertandingan sore. Sedangkan laga malam dimulai pada jam setengah tujuh atau jam tujuh malam serta jam sembilan malam.

Walau terkesan jam kick off itu atas permintaan pihak Televisi, tapi bagaimana lagi, sepakbola sudah menjadi industri. Toh hak siar juga merupakan pendapatan tersendiri bagi operator liga dan klub.

Sekilas, formulasi jadwal ini sepertinya mempertimbangkan sisi stamina sebuah tim agar dapat menyuguhkan permainan yang prima dalam sebuah pertandingan. Terkuras tenaga karena jadwal padat tak lagi bisa dijadikan alasan.

Ya, jadwal ISC A yang menggunakan sistem kompetisi penuh kali ini amat jauh berbeda dengan penyusunan jadwal pada era-era sebelumnya, terutama ISL saat sama-sama berkomposisikan 18 tim. Di mana, jadwal disusun untuk setiap tim dua kali pertandingan kandang dan dua kali pertandingan tandang.

Efisiensi memang jadi pertimbangan baik ISL atau Ligina mengingat luasnya wilayah Indonesia. Bahkan mereka sampai memecah sistem kompetisi menjadi dua wilayah. Tapi hasilnya, jadwal pun acak-acakan. Bahkan saat ISL 2012 lalu, dalam enam hari dalam sepekan selalu dihiasi pertandingan sepakbola.

Penyusunan jadwal ISL itu pun menjadi boomerang. Tim yang kalah seringkali beralasan tenaga terkuras dan balik menuding padatnya jadwal. Dan, tujuan utama penghematan yang diharapkan dari jadwal itu juga tak kunjung datang, masih banyak klub-klub yang menunggak gaji.

Tapi dengan menjadwalkan satu pertandingan per pekannya untuk tiap klub, bukan berarti ISC hanya mempertimbangkan stamina saja. Lebih dari itu, mereka mempertimbangkan sisi penghematan. Justru dapat dilihat bahwa jadwal itu disusun sebagai usaha untuk memaksimalkan pendapatan sebuah klub.

Pilihan hari Jumat, Sabtu, dan Minggu ini adalah hari yang efektif bagi sebuah klub untuk mendapatkan pemasukan dari tiket. Sementara untuk hari Senin, kick off lebih banyak dilangsungkan pada pukul 19:00 WIB. Untuk hari Rabu, hanya sesekali menjadi selingan.

Lagipula saat Senin atau Rabu, sebenarnya tetap juga terlihat sisi penghematan. Yakni relatif lebih murahnya tiket pesawat pulang di hari Selasa atau Kamis bagi tim yang melakoni away. Beda Rp 100 ribu kali 30 orang untuk sekali perjalanan sudah cukup menghemat lah.

Hari dan jam kick-off yang dipilih ISC ini benar-benar mempertimbangkan suporter. Sebisa mungkin, para penonton dan suporter tak perlu membolos atau pura-pura sakit agar pulang lebih cepat dari kantor, pabrik, atau sekolah demi mendukung klub kesayangan.

Para suporter ‘kelas pekerja’ di kota-kota industri, kini mulai mendapat keadilan dalam menonton sepakbola. Suporter bisa mendukung tim kesayangan di luar jam kerja, sementara klub juga cukup dimanjakan dengan kehadiran mereka.

Taruh kata kota Gresik yang banyak berdiri pabrik. Persegres Gresik United pada ISL musim sebelumya sering kali minim penonton karena jadwal pertandingan yang lebih banyak berlangsung saat suporternya harus bekerja. Kini di ISC, hal-hal penghambat itu mulai dikurangi. Jadwal menguntungkan bagi penonton dan klub.

Dari tabel di atas dapat terlihat jawaban kenapa pertandingan kandang Persegres acap kali sepi saat ISL. Maklum, laga kandang lebih banyak berlangsung di luar weekend. Kota industri dengan suporter kelas pekerja itu hanya diberi bagian tiga laga di akhir pekan dari total 11 pertandingan kandang.

Berbeda dengan di ISC kali ini, dari sembilan laga kandang putaran pertama, Sabtu dan Minggu mendapatkan porsi cukup banyak. Ini menguntungkan suporter dan tentu saja klub.

Suporter banyak, maka stadion penuh, lalu tim main semangat, dan klub mendapat pemasukan. Sebuah tujuan yang tersirat dari penyusunan jadwal ISC. Ini layak diapresiasi dan kita tak perlu suudzon melulu pada operator liga. Sekali lagi, salut untuk pembuat jadwal.


Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Mobikick Mari bekerja sama dan sama-sama bekerja

Menurut Ngana