GantiGol

Jangan Usik Kedaulatan Cinta Kami, TNI!

sumber gambar: Surya
Sebarkanlah:

“Aneh suatu negara zonder tentara”
Sebuah kalimat bersejarah dari Urip Sumoharjo itu kembali keluar dari labirin ingatan setiap melihat tribun stadion ketika PS TNI berlaga di Piala Jenderal Sudirman lalu. Batin pun sempat membalikkan perkataan sang jenderal menjadi, “Aneh sebuah tribun penuh tentara.”

Jenderal Urip benar adanya. Tapi itu di masanya. Masa di mana negara tercinta ini baru lahir dan membutuhkan barisan manusia gagah berani untuk menjaga kedaulatan.

Lambat laun, kalimat sakti yang mengawali berdirinya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) itu hanya menjadi kalimat bersejarah. Tersimpan sebagai petuah dalam buku sejarah. Sejarah yang masih bisa diubah-ubah tergantung siapa penguasanya.

Seiring negara ini berdiri, ABRI pun makin berkembang menjadi benteng kedaulatan negara sekaligus pemegang peran dalam percaturan politik sebuah bangsa.

Orde baru adalah masa emas para tentara. Pemerhati dan pencatat sejarah dunia asal Uruguay, Eduardo Galeano sempat menuliskan dalam bukunya “Mirrors”, bahwa kesigapan militer Indonesia di era Soeharto terutama dalam membantai rakyat yang dicap komunis, serta mengubah surga Pulau Timor menjadi kuburan masal, malah diapresiasi dan disanjung Amerika Serikat (AS).

Tak heran jika AS yang merupakan salah satu pemegang hak veto di PBB itu kerap mempercayakan militer kita sebagai tentara ‘bon-bonan’ dengan nama yang sungguh indahnya: Pasukan Penjaga Perdamaian.

Tapi semuanya berubah ketika reformasi datang. Peran ganda ABRI sebagai militer dan politik yang dikenal dengan dwifungsi ABRI itu dicabut. Mereka hanya menjadi tentara saja dan berubah nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TN). Ruang gerak TNI makin dipersempit manakala Kepolisian diberdikarikan dan terpisah dari mereka.

Kembali ke sepakbola, karena ini laman tentang sepakbola, TNI hadir di tengah dahaga publik sepakbola Indonesia. Mereka menginisiasi dibentuknya turnamen Piala Jenderal Sudirman dan membentuk tim sebagai partisipan. Sebuah tim yang mampu memperpanjang napas barisan pemain Timnas di lapangan dan karirnya di sepakbola.

Indonesia Raya yang selalu didengungkan sebelum laga, marching band di tribun, koreo suporter dengan gerakan joget komando dan yang lainnya, meski terlihat aneh, namun mampu menghidupkan kembali gairah untuk kembali memasang syal dan ke tribun. Adu kreatifitas dengan suporter PS TNI.

Bukan itu saja, gempita yang ditunjukkan selama Piala Jenderal Sudirman itu mampu menepis suudzon dari rasa trauma militer ini: “Jangan-jangan dwifungsi ABRI coba dihidupkan kembali, dan satu sisi lainnya adalah sepakbola. Toh titik-titik perang sudah mulai padam dan didamaikan, jadi job tentara bon-bonan lagi sepi, daripada dikira hanya latihan melulu tanpa perang”.

Prasangka seperti itu makin hilang manakala PS TNI juga mampu menunjukkan permainan yang menghibur. Justru rasa hormat dan salut kepada TNI yang makin tumbuh dan berlanjut ke turnamen-turnamen berikutnya hingga berharap tim mereka menjelma menjadi klub profesional sungguhan.

Harapan itu kemudian menjadi kenyataan di Indonesia Soccer Championship namun berbalik seketika menjadi kekecewaan pada Minggu 22 Mei 2016 lalu. Suporter berambut cepak dan bertubuh tegap ini bertindak brutal di Stadion Petrokimia Gresik.

Nurani suporter Indonesia mana yang tak miris melihat korban berjatuhan seperti itu? Puluhan korban yang berjatuhan hanya karena masalah sepele: seorang Ultras memasang spanduk di area suporter PS TNI

Ayolah, Bapak-Bapak tentara yang terhormat. Ini tribun sepakbola. Sekat dan batasan yang ada bukan garis batas kedaulatan yang pantas untuk diusir jika menyentuhnya tanpa ijin. Batasan itu hanya untuk membedakan sektor, mana utama, mana ekonomi dan mana VIP, mana tamu mana dan mana yang dijamu, sekali lagi bukan batas kedaulatan. Kami tak perlu minta ijin kalian hanya untuk memasang spanduk di area yang berdekatan.

Di sepak bola, tribun utama adalah tempat bagi suporter tuan rumah. Suporter tim tamu harus legowo berada di belakang gawang. Tamu tak berhak untuk ngotot di tengah agar nampang di televisi biar bisa kelihatan atasan atau keluarga lalu melambaikan tangan dan kirim-kirim salam.

Ini sepakbola Pak, bukan medan perang. Kalaupun suporter merasa marah karena teman mereka yang memasang spanduk dilempar batu, tolong pahamilah ini yang namanya suporter sepakbola. Solidaritas sesama suporter sudah terpatri turun temurun meski tak pernah ada sumpah, ikatan dinas, atau malah masuk BINTAL (pembinaan mental) yang ada di tiap-tiap DAM (Daerah Militer).

Jadi kalau kami marah, tak selayaknya dibalas marah. Kalau suporter jual, bapak tak harus beli, tawar dulu kan bisa. Ditawar dengan diamankan sesuai prosedur yang ada. Ah urusan aman dan mengamankan secara prosedur para tentara pasti sudah tahu. Dan kami yakin, bukan begitu caranya.

Dukungan suporter selalu murni Pak, bukan karena perintah atasan. Kami datang ke stadion dengan alasan cinta kepada klub kami, bukan karena jatah tiket gratis. Itulah kedaulatan cinta kami kepada sepakbola. Suporter juga tak pernah mendapatkan beras jatah bulanan dan nasi bungkus untuk mendukung tim kebanggaan kami.

Toh sebagai suporter, kami tahu bahwa kedaulatan sepakbola lebih dulu berdiri ketimbang Republik ini. Tapi kami tak seperti para pejabat PSSI yang mentang-mentang menjadikan tanggal lahir mereka yang duluan sebelum Indonesia merdeka itu sebagai argumen untuk tidak tunduk pada negara Indonesia tercinta ini.

Jika PSSI memposisikan dirinya sebagai negara dalam negara, kami tidak. Sebagai suporter, kami akan selalu dan tetap merasa bagian dari negara tercinta ini. Indonesia Raya sebagai bentuk nasionalisme tetap kami nyanyikan sembari menangis kala Timnas berlaga.

Lagu, bendera, bahasa, hingga negara kita masih sama. Kalau merasa berbeda dan derajatnya lebih tinggi, maka dengan hormat kami meminta tarik mundur pasukan dari tribun dan stadion. Silakan bikin turnamen atau kalau perlu liga sendiri antar kesatuan, mulai Koramil hingga Mabes. Siapa tahu juga nanti terbentuk federasi sepakbola dunia militer dan ikut Piala Dunia sendiri.

Kalau pun bapak-bapak tentara masih ingin berkiprah di sepakbola, setribun bersama kami, mari mendukung tim kebanggaan kita dengan sehormat-hormatnya. Dengan sesepakbola-sepakbolanya.

Atas nama suporter Indonesia, kami tahu kedaulatan negara memang bapak-bapak yang menjaganya, tapi tolong, jangan usik kedaulatan cinta kami. Salam!

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana