GantiGol

Jika Hanya Mengandalkan Firasat, Jadi Penjudi Saja, Van Gaal!

sumber gambar: GettyImages
Sebarkanlah:

Sepakbola dan judi tak ubahnya seperti Da Vinci dan Count Ria Rio, dalam serial Da Vinci and Demon. Keduanya, baik Da Vinci -Ria Rio atau pun sepakbola dengan judi, meski bertentangan selalu datang bersamaan.

Yang kemudian membedakan sepakbola dan judi adalah feeling. Dalam bermain sepakbola, feeling berada satu tingkat di bawah logika yang rasional. Sedangkan dalam berjudi, feeling-lah yang dikedepankan. Karena, meski telah melakukan telaah rasional, dalam bermain judi, kita juga harus mengandalkan firasat yang datang.

Itu semua dilakukan sebagai sebuah bentuk antisipasi atas pengaturan skor pertandingan sepakbola, sesuatu yang sudah menjadi rahasia umum.

Akan tetapi, hal tersebut, tampaknya tak berlaku bagi Louis van Gaal. “Saya tidak senang dengan hasil ini. Saya juga telah memprediksi kami akan menang, karena mendominasi jalannya pertandingan,” ujarnya setelah melawan Leichester City, akhir pekan lalu.

Menurutku, ada yang aneh dari pernyataan Van Gaal tersebut. Bagaimana bisa, seorang pelatih, hanya mampu memprediksi namun tak punya stimulus untuk mengubah jalannya pertandingan dan mendapatkan hasil maksimal?

Jelas hasil 1-1 di King Power Stadium bukanlah hasil yang diingankan oleh skuat Setan Merah. Mengingat mereka juga hendak menjaga asa sebagai pemuncak klasemen liga.

Jika, sudah punya firasat, harusnya pelatih asal Belanda tersebut punya solusi untuk memecah kebuntuan. Minimal setelah turun minum, saat pertandingan memasuki jeda, dan kedua tim bermain sama kuat, 1-1.  Tapi, nyatanya, hal itu sama sekali tidak terjadi. Gampangnya, dari percobaan tembakan yang dilakukan Wayne Rooney dkk. saja.

Pada babak pertama, mereka berhasil mencatatkan 5 tembakan, sedangkan di babak kedua, hanya 4 kali saja. Dengan demikian tak ada perubahan, bukan?

Lalu bagaimana hendak mencetak gol jika intensitas melepaskan tembakan saja berkurang dan hanya satu yang mengarah ke gawang.

Dan jika hanya mengandalkan firasat, kenapa Van Gaal malah memilih menjadi pelatih, bukan penjudi saja? Apalagi, kalau firasatnya ternyata jitu. Soal uang dan pendapatan, bisa jadi pendapatan sang meneer justru lebih banyak ketimbang menjadi pelatih sepakbola.

Lantas, kenapa tak menjadi penjudi saja, ya, Meneer

Sebarkanlah:

Penulis

Sophie van der Lul Namaku berakhiran Lul, karena ibu, bapak, kakek, buyutku dari Lul. Untung bukan dari Lebak Bulus, bisa-bisa jadi van der Lebak Bulus namaku. Ah apapun itu yang penting aku Sophie, Sopan tapi hepie

Menurut Ngana