GantiGol

John Terry, Korban Sepakbola Modern

sumber gambar: GettyImages
Sebarkanlah:

“The club will move on. No player is ever bigger than the club”.

Pernyataan itu ditegaskan John Terry saat mengumumkan kemungkinan ia bakal pergi dari Chelsea akhir musim ini. Sang kapten pasrah, keinginan untuk menutup karir di Chelsea bakal musnah.

Terry pun kini punya kans untuk meneruskan langkah dari rekan seangkatannya yang gagal menjadi legenda seperti Frank Lampard dan Peter Cech. Menanggalkan baju kebesaran The Blues dan berkarir di klub lain sembari menunggu pensiun.

Dengan melihat sepak terjang dan perjuangan Terry untuk Chelsea, dan akhirnya terpaksa meninggalkan klub nantinya, kita mungkin saja berpendapat bahwa klub itu tak menghargai legendanya. Chelsea kebangetan pada Terry.

Lampard boleh saja diperlakukan demikian, karena memang baru bergabung dengan Chelsea pada 2001. Darah West Ham masih mengalir padanya karena klub itu pernah dibelanya sekitar tujuh musim.
Tapi tidak untuk Terry. Meski sama-sama memulai karir di West Ham, si John lebih lama bersama The Blues. Terry sudah sejak 1998 di Chelsea, lima tahun sebelum gelimang uang Roman Abramovich datang membeli klub tersebut.
Cech bisa saja diperlakukan demikian dan dilego ke seteru sekota, Arsenal. Toh ia bukan asli Inggris. Namun tak bisa demikian untuk Terry.

Cech memang orang terakhir dalam menjaga gawang Chelsea saat merebut belasan trofi. Namun Terry juga kerap terbang mengorbankan kepalanya ke bola atau bahkan kaki lawan agar Cech yang sudah salah langkah tak kebobolan.

Urusan pengaruh di lapangan dalam merebut trofi, Terry jauh lebih ngaruh dibandingkan dengan Cech dan Lampard.

Jika dibredel secara angka statistik, prosentase kemenangan The Blues di Liga Premier, adalah 63,3%, angka segitu itudidapat jika Terry dimainkan. Di liga tersebut pula, ia menjadi pemain belakang yang paling banyak mencetak gol dengan total 40 gol, 27 diantaranya melalui sundulan.
Total 22 trofi yang diraih Chelsea sejak 1955 pun tak ada artinya jika tanpa Terry. Karena 14 di antaranya dihasilkan oleh Terry, yang sejauh tulisan ini dibuat sudah mencatatkan 696 penampilannya berseragam London Biru.

Namun, sejelas apapun memori dan kenangan yang diberikan, sedetil apapun angka-angka dan analisa bagus tentang Terry, kita tak bisa menyalahkan klub macam Chelsea yang memiliki kebijakan satu tahun saja untuk perpanjangan kontrak pemain dengan usia di atas 30 tahun. Usia yang dianggap tak produktif lagi di lapangan.

Chelsea tak bisa disalahkan lagi. Pun begitu dengan Real Madrid yang di-bully karena melepas Raul Gonzales dan Iker Casillas.

Era sepakbola sudah berubah, Bung. Ini sepakbola modern. Hal-hal macam kelegendaan, one man one club, dikeramatkannya nomor punggung lainnya adalah hal usang.
Sekali lagi, ini sepakbola modern, prestasi dan uang yang bicara. Produktifitas ditakar dengan usia. Jasa dan pengorbanan adalah bentuk profesionalisme dari besaran gaji yang diterima.

Adalah benar kata Terry, klub terus membesar, dan tak akan ada pemain yang bisa melebihi kebesaran dari klub itu.

Sebarkanlah:

Penulis

Mobikick Mari bekerja sama dan sama-sama bekerja

Menurut Ngana