GantiGol

Kenapa diperpanjang Jika Mignolet Makin Lelet?

sumber gambar: sudah cukup jelas di watermark
Sebarkanlah:

Berbicara tentang Simon Mignolet adalah berbicara soal rasa. Tentang selera. Tentang pandangan mengenai baik dan buruk.

Baik dan buruk memang lah subjektif. Sangat relatif. Menduga-duga. Berdasarkan selera. Tergantung dari sudut manakah orang akan memandang suatu hal. Subjektifitas itulah yang aku gunakan untuk memandang kiper Liverpool asal Belgia itu.

Boleh saja, manajemen klub ataupun Jurgen Klopp menilai Mignolet sebagai kiper yang bagus. Sampai-sampai memperpanjang kontraknya sampai 2021.

Aku juga tak tahu pasti apa alasan Liverpool hingga mau memperpanjang kontrak kiper 27 tahun tersebut. Mungkin dibutakan oleh statistik yang mengatakan bahwa Simon adalah kiper paling banyak cleansheet di tahun 2015, dengan 16 kali cleansheet. Jumlah yang lebih baik ketimbang kiper Man. City, Joe Hart, yang hanya mencatatkan 15 kali bermain tanpa kemasukan gol.

Atau, bisa jadi, Liverpool ingin menjualnya musim panas mendatang, sehingga memperpanjang kontraknya untuk menaikkan nilai jual.

Entahlah. Yang jelas, aku tak suka dengan Mignolet. Dan tak sedikit pula yang sependapat denganku.  Buktinya, pada selepas pertandingan melawan Norwich City yang dramatis itu (23/1), ketika para pemain beramai-ramai melemparkan jersey ke tribun penonton, toh, nyatanya, ada saja yang tak sudi menerima jersey Mignolet.

Jersey bernomor punggung 22 itu dikembalikan oleh fans yang ikut mengawal Liverpool ke Carrow Road. Bukankah itu berarti mereka juga senada denganku?

Sebenarnya, tak perlulah aku menengok statistik untuk menilai baik buruknya penampilan Mignolet musim ini. Cukup lihat saja jumlah kebobolan The Reds. Ataupun cukup lihat bagaimana cara sang kiper mengantisipasi datangnya bola.

Dari dua hal tersebut, aku pun dengan mudah menyimpulkan: kalau Mignolet buruk dan makin lelet.

Tapi, hipotesaku tersebut aku dapat dari pengamatan empiris saja. Kurang terlihat intelek, tak seperti komentator-komentator bola pada umumnya.

Karenanya, akan aku bahas lewat angka-angka. Bukan untuk menegaskan pendapatku, memang. Hanya sekadar ingin terlihat intelek. Karena, di mataku, Mignolet tetaplah buruk.

Memang, Mignolet bisa dibilang sebagai raja cleansheet. Tapi yang perlu diingat, hasil tersebut mayoritas dicatatkan Simon pada musim lalu.

Musim lalu, kiper Belgia itu mencatatkan 16 kali cleansheet dari 36 penampilannya. Sedangkan musim ini, ia baru mencatatkan 7 kali saja selama 22 kali bermain.

Lalu lihat pula peforma Liverpool musim ini. Sudah 23 pertandingan dilalui, The Reds ternyata punya defisit selisih gol sebanyak dua gol, hanya memasukkan 30 dan kemasukan 32 gol. Padahal musim lalu, dalam jumlah pertandingan yang sama, mereka surplus enam gol, memasukkan 33 gol dan kemasukan 27 gol.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Sophie van der Lul Namaku berakhiran Lul, karena ibu, bapak, kakek, buyutku dari Lul. Untung bukan dari Lebak Bulus, bisa-bisa jadi van der Lebak Bulus namaku. Ah apapun itu yang penting aku Sophie, Sopan tapi hepie

Menurut Ngana