GantiGol

Kenapa Harus Sudirman?

sumber gambar: GANTIGOL
Sebarkanlah:

“Tulisannya bagus. Tapi kenapa backgroundnya harus Sudirman?” begitu tanya seorang rekan begitu melihat kaus yang kami kenakan saat menonton semifinal Piala Jenderal Sudirman 2015 di Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta.

“Ya tanyakan saja kepada panitia. Kenapa harus pahlawan satu ini yang dipasang jadi ikon turnamen?” begitu jawaban sekenanya dari kami. Maklum kami sedang asik menikmati laga antara Surabaya United dan Arema Cronus dan atmosfer stadion yang sudah beberapa bulan ini kami rindukan.

Jawaban yang tidak sekenanya, alasan kenapa harus patung Jenderal Sudirman dalam T-shirt Turnamen Terus Liganya Kapan” baru kami jabarkan di sini saja.

Sebagai pecinta sepakbola yang sudah rindu nyetadion, tapi gerah juga dengan turnamen-turnamenan pengisi kekosongan kompetisi ini, GANTIGOL memang sengaja ingin mencurahkan kekesalan itu dalam kaus saja. Dipakai saat menonton babak semifinal yang kebetulan mampir di Jogja. Bentuk kritik kecil-kecilan. Daripada dibuat spanduk trus dilucuti dan disita sama pihak keamanan.

Tak kami pungkiri bahwa Patung Jenderal Sudirman di kaus tersebut memang bertepatan dengan nama turnamen gelaran dari Mahaka Sports Entertainment itu. Meskipun susah sekali ditemukan literasi yang menyebutkan kalau Sudirman pernah berkaitan dengan sepakbola, atau PSSI yang bermarkas di Yogyakarta.

Dalam pencarian tentang Sudirman dengan PSSI, sepakbola dan Yogyakarta, kami hanya menemukan bahwa beliau ditangkap di Yogyakarta.

 

Namun, bagaimanapun patung hasil desain Sunario itu tetap kami coba monumenkan kembali sebagai pengingat karena patung Sudirman adalah bentuk tauladan bagi kami.

Patung itu memang kerap dikritik karena tak sepantasnya pahlawan besar macam Sudirman harus hormat kepada orang yang berlalu lalang di jalan yang juga bernamakan dirinya itu.

Seperti dalam salah satu scene film Nagabonar Jadi 2. Nagabonar sampai harus digambarkan menangis agar Sudirman bersedia menurunkan tangannya.

Tapi bagi kami, patung Sudirman adalah tauladan. Ia memberikan pelajaran bagaimana hormat yang benar ala bangsa Indonesia. Nilai-nilai hormat-menghormati antar sesama yang terus pudar, menghormati bendera dan bersikap sempurna saat Indonesia Raya didengungkan yang terkikis, coba diingatkan dan diteguhkan oleh patung ini.

Beberapa literasi juga menyebutkan bahwa patung yang diresmikan pada 2001 lalu itu ditempatkan selaras dengan Patung Pemuda Membangun di Kebayoran. Keduanya satu jalur jika ditarik garis lurus. Sebuah pesan tersingkap bahwa Sudirman dan para pahlawan lainnya akan bersedia menghormati para penerusnya yang bersedia membangun bangsa ini.

Sebagai pemuda yang ingin terus merasa muda, kami menempatkan patung itu ke dalam kaus ini. Mencoba memonumenkan monumen. Mencoba mengabadikan pengabadian. Sebab, benar seperti kata Cholil Mahmud Efek Rumah Kaca dan istrinya dalam album Indie Art Wedding, souvenir pernikahan mereka, “Sebab hidup itu pendek. Karena seni itu panjang.”

Begitu kira-kira kenapa Sudirman yang pada 24 Januari 2016 ini harusnya genap seabad umurnya kami tempatkan di desain kaus yang awalnya sama sekali tak ada niat untuk dinaikkan di kios kami. Kaus ini dibikin sebagai bentuk kritik saja saat ke stadion.

Akan tetapi, melihat animo Bung-Bung sekalian di media sosial, kami merasa perlu ini disyiarkan dan dinikmati khalayak banyak.

Silakan jika berkenan. Untuk menghormati penghormatan Sudirman dan sebagai pengingat kita bahwa sepakbola Indonesia pernah melewati masa-masa turnamen melulu, tanpa ada liga.

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana