GantiGol

Kompetisi Empati

sumber gambar: Eurosport
Sebarkanlah:

Entah apa nama kompetisinya. Tapi, aku rasa kita cukup beruntung. Ada sebuah kompetisi yang dapat menggantikan Liga Indonesia belakangan ini.

Bukan. Yang aku maksut di sini bukanlah Piala Jenderal Sudirman (PJS). Karena kita tentu tahu, bahwa PJS tak ubahnya dengan kompetisi-kompetisi sebelumnya, baik Piala Presiden ataupun Piala Kemerdekaan. Juaranya tak akan kemana-mana.

Toh, kompetisi itu juga hanya sebuah langkah taktis saja. Langkah reaksioner yang diambil para pemangku kebijakan untuk mengisi kekosongan liga.

Yang aku maksud di sini adalah sebuah kompetisi empati, dimana semua umat manusia mulai berlomba-lomba memberikan empati atas apa yang terjadi di Paris dan di Palestina dan di Jepang dan di Meksiko.

(Entah aku yang tak tahu, atau memang tak ada.  Namun, yang jelas,  empati untuk warga Papua ataupun warga pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, yang tengah berjuang untuk mempertahankan tanahnya, tak semasif dengan empati yang diberikan publik untuk Prancis, Palestina, ataupu  yang lainnya. Ya, agar tak melebar, anggap saja empati untuk dua nama tempat terakhir itu tetap terdengar gaungnya)

Sebenarnya, aku tak terlalu yakin juga,  benarkah ini sebuah kompetisi empati ataukah simpati  ataukah IM3, XL, 3, atau juga SmartFren. Yang pasti, lini masaku penuh dengan segala bentuk atribut rasa solidaritas untuk sekian bencana yang ada.

Aku juga tak ingin menyalahkan dengan apa yang ada. Hal itu memang sudah menjadi hal yang semestinya. Bagaimapun juga, sebagai manusia, hati kita pasti akan tersentuh jika melihat tragedi yang ada. Karena itulah hakikat paling hakiki dari manusia; memanusiakan manusia.

Tapi, yang menjadi masalah adalah, kemudian simpati-simpati yang mayoritas disampaikan lewat tagar tertentu itu justru lebih mirip kompetisi.

Ada rasa saling menyalahkan, ada yang merasa lebih benar, ada juga yang merasa lebih tepat.

Yang berempati pada aksi terorisme yang memakan korban ratusan jiwa, dipaksa untuk membuka matanya lebih lebar lagi, dan melihat realita yang ada di Palestina. Begitu seterusnya. Terus begitu dan seperti tanpa ujung. Dan cenderung lebih mirip kompetisi tanpa juara.

Tak ada yang salah dari kedua pihak tersebut (ataupun pihak-pihak lain yang memaksakan bahwa ada tempat dan suatu kejadian yang lebih tepat untuk diberikan empati ketimbang tempat lainnya). Memberikan empati juga tak melanggar hukum dan norma. Jadi sah-sah saja.

Akan tetapi yang kemudian menjadi masalah: jika terus berdebat tentang tagar doa-doa, kapan doa-doa yang dipanjatkan itu akan diturunkan menjadi sebuah kerja-kerja nyata?

Untuk hal ini, setidaknya sampai detik ini, aku lebih sepakat dengan apa yang dilakukan oleh Ultras Marseille. Tak perlulah mereka memanjatkan doa-doa lewat tanda pagar. Mereka langsung menurunkan doa tersebut menjadi sebuah aksi nyata. Sebuah banner lebih tepatnya.

Spanduk itulah satu-satunya scene paling menarik di tengah derasnya tagar doa-doa. Sepele, kelihatannya, tapi ada makna yang teramat dalam di dalamnya. Seperti yang kita tahu, Ultras adalah kelompok suporter yang paling keras. Mereka sudah tentu bengis, dan benci akan musuh bebuyutannya.

Dalam konteks ini, sudah barang tentu, Ultras Marseille tentu sangat membeci orang-orang Paris, telebih suporter PSG, salah satu rival terkuat mereka di Ligue 1. Namun, mereka sadar, bahwa sepakbola tak lebih penting daripada kemanusiaan.

Dan dengan kesadaran itulah, mereka kemudian membentangkan spanduk yang bertuliskan “Kami adalah Paris” besar-besar lalu membentangkannya di tengah kota. Sebuah kalimat yang tak akan mungkin lahir di atas lapangan hijau. Tapi, kalimat tersebut lahir dari relung hati terdalam manusia atas dasar kemanusiaan  dan lahir di atas darah serta tangis yang bercucuran.

Ah, jika boleh meminjam salah satu istilah Sunda yang konon kutipan dari pelatih legenda Persib Bandung, Indra Thohir, “Hirup teu saukur lalajo mengbal hungkul (Hidup tak sekadar menyaksikan (pertandingan) bola saja.”

Sebarkanlah:

Penulis

Sophie van der Lul Namaku berakhiran Lul, karena ibu, bapak, kakek, buyutku dari Lul. Untung bukan dari Lebak Bulus, bisa-bisa jadi van der Lebak Bulus namaku. Ah apapun itu yang penting aku Sophie, Sopan tapi hepie

Menurut Ngana