GantiGol

La Nyalla Terlahir untuk Pancasila, Bukan Sepakbola

sumber gambar: KanalSatu
Sebarkanlah:

La Nyalla M Mattaliti akhirnya pulang -dipulangkan, dideportasi, atau ditangkap, ah yang penting kembali- ke tanah air pada 31 Mei 2015. Atau tepatnya, malam sebelum hari lahir Pancasila.

Dari sini terlihat, sepertinya La Nyalla memang terlahir untuk Pancasila. Sebagai pemuda Pancasila. Tapi tidak untuk pemuda sepakbola.

Pasalnya, di hari lahir PSSI 19 April lalu, La Nyalla tak pulang dari pengembaraannya sejak ia ditetapkan sebagai tersangka pada 16 Maret lalu. Ia tak melakukan potong tumpeng agar masalah yang menggunung di sepakbola kita segera terselesaikan. Seremonial menyalakan hingga meniup lilin agar pembekuan segera mencair, juga tak dilakukannya.

Ia baru keluar menampakkan diri dari persembunyiannya dan pulang setelah PSSI dicairkan kembali oleh Menpora. Tapi sepertinya bukan itu alasan Ketua Umum PSSI yang terpilih pada 2015 lalu itu untuk bersedia pulang.

Kembali ke tanah air dan siap menghadapi segala tuduhan yang diarahkan padanya, dilakukan La Nyalla pada malam hari kelahiran Pancasila. Sepertinya, ini lah alasan ia kembali. Maklum selama ini ia juga mengampu jabatan sebagai Ketua umum MPW Pemuda Pancasila Jawa Timur.

Jikalau ia memang punya konsentrasi penuh pada sepakbola, setidaknya La Nyalla pulang pada ulang tahun PSSI lalu. Atau paling tidak langsung pulang begitu pembekuan PSSI resmi dicabut.

Kalau pulangnya sekarang, sepertinya Pancasila lah yang ia perjuangkan. Maka, sebaiknya tetap berkonsentrasi dengan Pancasila saja. Kemurniannya harus tetap dijaga.

Urusan sepakbola? Biar para praktisi atau mereka yang paham betul bagaimana mencintai dan menjalankannya secara sepakbola saja lah yang menangani.

Akhir kata, Selamat berjuang dan mengembangkan layar yang tak surut dengan segala pantangan untuk pemuda dan Pancasila, Pak!

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana