GantiGol

Latian Mulu, Menangnye Kagak

sumber gambar: Google
Sebarkanlah:

Didirikan dengan pengorbanan dan penggusuran, Gelora Bung Karno (GBK) belum juga mampu diwujudkan sebagai simbol kejayaan olahraga, terutama sepakbola, negeri ini. Hanya simbol kebesaran yang menggaungkan kesunyian prestasi beberapa dasawarsa terakhir ini.

Denyut pembangunan Jakarta memang selalu sejalan dengan penggusuran. Penggusuran Kampung Pulo yang baru-baru ini ramai menjadi polemik, hanyalah cerita baru. Sebelum-sebelumnya, acap kali terjadi, termasuk penggusuran demi sarana olahraga yang merupakan bagian dari kebanggaan bangsa.

Pun begitu dengan pembangunan GBK. Komplek stadion yang didirikan seiring penunjukkan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 itu tak lepas dari praktik gusur menggusur. Berdasarkan beberapa literasi tentang berdirinya GBK, pembangunannya harus menelan empat kampung sekaligus, yaitu Senayan, Petunduan, Kebun Kelapa, dan Bendungan Hilir.

Gelombang penggusuran dan pembebasan tanah itu dimulai pada 19 Mei 1959, dan warga yang tergusur mencapai 60.000 orang. Mereka kemudian dipindahkan ke beberapa tempat di Jakarta dan dikonsentrasikan ke tiga kampung; Tebet, Slipi, dan Ciledug.

Karnos Film cukup indah dalam memberi kritik pada para ‘penghuni’ GBK yang kering prestasi itu dalam sinetron 90-an, Si Doel Anak Sekolahan. Diceritakan leluhur Si Doel,  keluarga Napis, adalah satu dari keluarga yang menjadi korban gusuran. Sebagai korban, mereka memang berhak dan sangat layak untuk memberi kritik dan menuntut keadilan.

Kritik itu dituangkan dalam scene ziarah ke GBK di cuplikan sinetron tersebut pada video di bawah ini.


Latian Mulu, Menangnye Kagak,” yang diteriakkan H Sabeni kepada mereka yang tengah berlatih bola di GBK itu lah yang layak untuk kita highlights. Sebuah protes atas keringnya prestasi Timnas di GBK.

Saat ditayangkan di pertengahan 90-an, sinetron itu sudah menggambarkan keringnya prestasi. Kalau ditarik sampai saat ini, kata “kering” perlu ditambahkan pasangan majemuknya “kerontang” bagi prestasi Timnas.

Hampir tak ada yang bisa dibanggakan dari GBK dan mereka yang bajunya berlogo Garuda di dadanya itu. Angkat trofi Timnas terakhir di GBK terjadi pada tahun 2008, di event Piala Kemerdekaan. Itu pun menjadi catatan hitam karena Libya merasa dicurangi di final dan memilih walk out.

Tahun 2011 sebenarnya kesempatan untuk meraih emas di GBK. Tapi Timnas malah kalah adu penalti dari Malaysia. Perak untuk GBK sang tuan rumah? Bukan. Itu bukanlah prestasi.

Prestasi Timnas tergres dalam catatan hanyalah di level kelompok umur, menjadi juara AFF U-29 2013 lalu. Tapi perlu diingat pula, Evan Dimas dkk merebutnya di Sidoarjo. Jauh dari GBK.

Jangankan meraih prestasi, menyebut GBK sebagai Kawah Candradimuka saja kita tak pantas. Gatotkaca wayang sukses menjadi sakti dan bertulang besi di Kawah Gandradimuka, Gatotkaca sepakbola kita? Yang ada melempem dan kadang malah mengurangi kadar kebanggaan kita kepada Timnas.

Demi menghidupkan kembali ingatan tentang perlunya kritik kepada Timnas seperti yang pernah dilakukan Bang Sabeni, kami mencoba mewujudkannya dalam bentuk desain T-shirt. Sama sekali tak ada maksud untuk mengurangi atau malah menghilangkan kebanggaan kami dengan Timnas dan GBK. Memakai kaus ini pun, kami akan tetap menyemangati dengan teriakan IN-DO-NE-SIA di GBK dan mengumandangkan Indonesia Raya sebelum kick off.
Tapi mbok yao kerinduan akan juara dan GBK ini diobati. Bukan melulu gontok-gontokan kepengurusan saja.

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana