GantiGol

Maka Sudahilah Ajakan Membunuhmu, Aremania!

sumber gambar: Fourfourtwo
Sebarkanlah:

Jika ada siaran langsung pertandingan kandang Arema di televisi, coba sesekali Bung rekam suara yang muncul. Lalu coba rekaman itu Bung transkripkan. Maka kira-kira akan menjadi begini.

Johan Alfaridzie, sukses melewati lawan, lepaskan umpan daaaaan..cok dibunuh saja.” Atau bisa juga demikian, “Sebuah tendangan dilepaskan, Kurnia Miega tampil gemilang. Ia mampu menahan…cok dibunuh saja”.

Begitulah.  Chant “Bonek Jan**ok dibunuh saja” dari Aremania akan selalu mengiringi di sela-sela suara komentator dalam memandu siaran langsung pertandingan kandang Arema. Padahal, jelas sekali lawan Arema pada pertandingan itu bukan tim yang didukung Bonek: Persebaya. Kita yang bukan Bonek saja merasa terganggu dengan kalimat itu.

Memang, kata “Jancok” sendiri belum lah bisa dipermasalahkan atau dimasukkan sebagai sebuah kata yang rasis. Bagi orang Jawa Timur, kata itu berdiri di dua sisi; umpatan amarah serta sapaan akrab kepada teman. Sama halnya dengan “Anying/Anjing” di masyarakat Jawa Barat.

Jika melihat permusuhan Aremania dengan Bonekmania, jelas “Jan**k” kali ini berdiri di sisi umpatan.

Meskipun demikian, umpatan sudah menjadi bagian dari suporter sepakbola. Justru pertandingan sepakbola adalah hari di mana manusia dibenarkan untuk mengumpat. Malah mendapat sorak sorai dari sekitarnya di tribun jika ia melontarkan umpatan kepada tim lawan dan wasit. Orang Jawa juga sering mengakronimkan ndelok (menonton) dengan “kendel alok” (berani mengolok-olok).

Lalu bagaimana dengan “dibunuh saja”? Maka tak heran jika sering terdengar kasus bunuh-bunuhan antar suporter yang seringkali korbannya Aremania.

Dua kata itu sendiri jelas dapat diartikan ini adalah ajakan untuk membunuh lawan. Karena ajakan, berarti merencanakan. Ini tentu masuk dalam ranah pembunuhan berencana yang ancaman hukuman pidananya bisa seumur hidup sampai hukuman mati.

Namun, Aremania yang berlindung dalam ‘baju besi suporter Indonesia’ akan selalu aman. Karena tak pernah ada kasus matinya suporter di Indonesia yang sampai diseret ke pengadilan atau dijatuhi hukuman mati.

Nah! Ini lah yang membuat saya atau mungkin banyak suporter lainnya merasa terganggu. Iya ter-gang-gu. Logika gobloknya kenapa kami terganggu begini: ini baju besi milik bersama, milik suporter Indonesia, tapi cuma Aremania yang terus-terusan memakainya.

Sekali berita tewasnya Aremania atau Bonekmania, maka seluruh suporter Indonesia terseret-seret duka dalam kalimat pembuka berita. “Duka menyelimuti sepakbola Indonesia, suporter lagi-lagi tewas,” atau “Dunia sepakbola Indonesia kembali tercoreng akibat oknum suporter..”. Pffft. Kenal yang mati saja tidak, malah diajak berduka dan muka tercoreng.

Dan ini yang bikin jengah. Sudah tahu televisi yang merupakan frekuensi publik, tempat umum, mereka suarakan ajakan untuk membunuh Bonek. Mereka menyamaratakan bahwa semua yang nonton adalah teman mereka dan Bonek adalah lawan bersama yang harus dibunuh. Duh. KZL.

Maka, duhai Aremania, sekarang begini saja deh. Sesama suporter yang bebas mengumpat, kebal hukum, dan mendukung klub kesayangan, bagaimana kalau disudahi saja ajakan membunuhmu itu. Nyawa itu terlalu mahal untuk ditebus dengan sepakbola. Mari kita kembali belajar sama-sama mendukung tim kesayangan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Lagipula, tahun ini adalah kesempatan besar Aremania untuk menyudahi ajakan bunuh-membunuh Bonek itu. Bonek tak lagi berkiprah di televisi karena Persebaya mereka juga tengah tak berkompetisi.

Kalau Aremania dan Aremanita merasa bahwa ajakan membunuh itu karena sebagai bentuk balasan chant Bonek, lah malah jadi blunder. Sekarang jika Aremania masih menyuarakan chant itu, maka sesungguhnya mereka lah yang memulai.

Yang terhormat Aremania, kami akui, dengan segala kreatifitas yang pernah ditunjukkan, kalian adalah motor bagi suporter Indonesia untuk tampil atraktif dan kreatif. Kalian adalah deretan suporter pertama yang memulai bahwa tribun bisa dijadikan panggung untuk merayakan sepakbola dengan keindahan sebuah lagu bertemakan kebersamaan.

Dimulai dari Gajayana, stadion GBK  hingga stadion-stadion lain yang pernah kalian singgahi, pernah dibuat takjub dengan lagu, tarian, koreografi dan semua yang indah-indah itu.

Berangkat dari nada yang diajarkan Juan Rubio dan digubah dengan “Tidak Mungkin-Tidak Mungkin” hingga "Janji Sumpah Setia", kalian lah guru kreatifitas lagu suporter di Indonesia.

Stock lagu kalian banyak lho. Asyik-asyik pulak. Untuk melawan Bonek, juga masih banyak lagu tanpa ajakan membunuh.  Sebut saja: “Bonekmania ecek-ecek Surabaya”, atau “Arema bondone duek” dan lainnya. Eh tapi ini nanti saja, pas lawan Persebaya yang sekarang tengah merangkak dan tertatih-tatih mencoba bangkit dari bawah lagi itu.

Rivalitas memang harus ada di sepakbola. Tapi tak perlu lah sampai bunuh-bunuhan. Maka, sudahilah ajakan membunuhmu, Aremania.

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana