GantiGol

Manajemen Harus 'Sadar Bola', Bukan Cuma Gila Bola

sumber gambar: PSSI.org
Sebarkanlah:

Pada akhir November 2016 lalu, jelang final AFF Cup muncul rilis resmi dari situs AFC tentang klub-klub yang telah mengajukan dan kemudian disetujui mendapatkan “pengakuan” Club Licensing Regulation.

Hal ini sempat menjadi perbincangan hangat di lini masa karena momennya bertepatan dengan jelang pertemuan Thailand dan Indonesia di babak final AFF 2016. Thailand yang kemudian menjadi juara AFF, memiliki 18 Klub yang terstandar, sedangkan Indonesia zero alias kopong.

Kontestan AFF lainnya, Malaysia hanya satu klub, Vietnam tiga klub, Singapura enam Klub, dan Myanmar tiga klub. Tetangga yang terus aktif mengajukan diri menjadi anggota ASEAN, Australia, punya 10 klub yang lolos sertifikasi dari 10 klub yang mengajukan. Artinya 100% lolos semua.

Sempat ada beberapa netizen yang melontarkan guyonan, bahwa mereka berharap Thailand yang menang sebagai juara. Mengapa? Supaya PSSI tidak menjadi sombong, dan berpikir tidak perlu ada perubahan, toh dengan tidak berubah pun bisa juara. Ehem.

Jika anda berbicara dengan siapapun tentang pengelolaan klub, mungkin sebagian besar akan merujuk pada ketidaksiapan pengurus klub tentang pencarian dana semenjak tidak diperbolehkannya klub profesional menggunakan dana APBD. Ini alasan (excuse) atau kenyataan?

Kehilangan penerimaan dana memang akan mempengaruhi keuangan sebuah klub (dalam hal ini perusahaan), namun tidak akan membuat perusahaan  menjadi limbung bertahun-tahun. Mempunyai pemasukan dana dari satu sumber yang pasti setiap tahunnya, tentu saja menguntungkan, tapi apakah puas hanya dengan satu pemasukan?

Apakah tidak mempunyai perencanaan jangka panjang? Apakah tidak membutuhkan investasi yang akan diperlukan di masa depan? Bagaimana jika sponsor utama tidak akan melanjutkan kerjasama di musim depan? Dan masih banyak pertanyaan tentang hal ini.

AFC sendiri menerapkan beberapa syarat untuk sebuah klub yang ingin lolos standarisasi. Dan sebelum urusan finansial, ada syarat utama yakni legal. Di Indonesia, sebenarnya urusan legal sudah mulai berubah setelah ada kewajiban bahwa klub-klub profesional harus berbadan hukum.

Mulailah klub-klub di Indonesia mendirikan PT. Perseroan Terbatas  didirikan oleh beberapa orang yang sebagai penanam saham. Dan struktur perusahaan pun terbentuk, seperti hal nya perusahaan pada umumnya, termasuk adanya posisi CEO (Chief Executive Officer), pucuk tertinggi administrator dari sebuah perusahaan. 

Tugas CEO adalah menjabarkan  visi yang telah dibuat oleh dewan direksi, atau dibuat bersama dengan dewan direksi,  ke dalam misi. Visi adalah cita-cita atau impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan untuk: “Menjamin Kelestarian Dan Kesuksesan Jangka Panjang”. Sedangkan Misi adalahsuatu pernyataan tentang: “Arah, Batasan-Batasan, Detil Proses  Yang Harus Dikerjakan Oleh Organisasi Atau Perusahaan Dalam Usaha Mewujudkan Visi.” 

Kalau pada akhir tahun lalu CEO klub kesayangan anda mengatakan di media, bahwa beliau akan merombak 50% pemain di kompetisi sebelumnya, bahwa beliau akan merekrut pelatih top dan mempunyai target 5 besar di kompetisi 2017, itu visi atau misi? Silakan anda yang menjawab. 

Sepengetahuan penulis,  setidaknya ada 2 klub yang mempunyai perencanaan 5 tahun, Bali United dan Persijap. Bagi seorang Esti Lestari, CEO Persijap, 5 tahun bagi sebuah perusahaan adalah jangka pendek, sebuah dasar yang harus dibuat kokoh untuk menopang klub di 5 tahun berikutnya dan seterusnya.

Dalam 5 tahun Manajemen Persijap akan menyewa stadion, menyiapkan gedung untuk pelatihan-pelatihan indoor, membentuk akademi (bersinergi dengan SSB), memperkuat struktur manajemen dll. 5 tahun baginya adalah proyek yang sangat pendek (very short project). Tapi entah bagi CEO yang lain.

Pada kesempatan lain,  bertemu dengan Indra Sjafri Maret 2016, beliau mengungkapkan garis besar yang ingin dilakukan dalam lima  musim, di antaranya adalah mengontrak pemain yang rata-rata durasinya 2 tahun, memaksimalkan peran sport science dan capaian prestasi klub yang harus menjadi lima besar di tahun terahir. Bali United mungkin klub pertama di Indonesia yang berani mengontrak pelatih dalam jangka waktu lima tahun. 

Proses untuk menuju perubahan, di bidang apapun terdapat kemungkinan menemui kesulitan. Besar dan kecilnya, tergantung masing-masing yang menilai. Tentu saja hal ini berhubungan dengan pengalaman masing-masing individu.

Namun pada umumnya, penyelesaian masalah ada pada niat atau kemauan seseorang. Sesulit apapun sebuah masalah, jika dipandang hal tersebut adalah bagian dari proses yang harus dilalui, maka seseorang akan memilih solusi yang cermat  dan tidak menunda-nunda waktu. Mari kita lihat Persijap dan Bali United 5 tahun kedepan.

Kembali ke tahun 2015. Penulis mengobrol asyik dengan seorang CEO klub divisi utama. Beliau bercerita bahwa beliau sudah menghabiskan belasan mobil untuk modal mendanai klubnya untuk membangun tim yang berdaya saing. Namun di musim berikutnya, beliau menahan diri, mungkin juga  karena masalah dana.

Lalu yang terjadi adalah ada bagian dari manajemen (di dukung suporter) yang mendesak agar klub berjalan, dan akhirnya berjalan tanpa keterlibatan CEO. Pada saat kompetisi dihentikan, klub kemudian menunggak hutang. CEO tidak mau dipersalahkan karena klub berjalan tanpa melibatkan dirinya. Inikah yang kita sebut profesional? Boros di musim sebelumnya, menunggak hutang di musim setelahnya. Manajemen berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi.

Merujuk pada perbincangan dengan CEO Persijap, inilah yang namanya “Gila Bola”. Istilah yang menggambarkan seseorang yang berlebihan dalam mendukung sepakbola. Mengaku berdarah-darah, rugi dan lain-lain, tapi terus terlibat. Kalau rugi, merasa payah, darimana logika prinsip usaha nya dijalankan? Prinsip suistanable, keberlanjutan usaha tidak terpenuhi. Cenderung hanya misi jangka pendek (semusim) yang dipikirkan, visi jauh ke depan dikesampingkan.

Beliau memunculkan istilah “Sadar Bola”. Yaitu sebuah padanan kata yang menerangkan bahwa masyarakat sepakbola, khususnya pengurus sepakbola mesti dalam keadaan “waras” , dalam keadaan benar-benar menggunakan keilmuan manajemen standard dalam mengelola sepakbola. Keuangan yang bisa diaudit, pos jabatan diisi oleh profesional yang sesuai bidang, perencanaan yang baik, adanya pakta integritas, mengikuti regulasi pemerintah dan FIFA  dll.

Semua orang tahu, sebagian (kalau tidak mau disebut banyak) pengurus sepakbola tergagap-gagap dengan dihentikannya kucuran APBD untuk klub profesional beberapa tahun yang lalu. Namun hal tersebut tidak serta merta dijadikan alasan. Selalu mudah mencari alasan. Bayangkan klub sebesar Pelita Jaya, yang didukung oleh keluarga Bakrie, yang mempunyai fasilitas mess, lapangan, kolam renang dll di sawangan pun tidak mampu berkembang dan bersaing dengan Persija. Sementara Persija, klub legendaris yang berdiri sebelum RI merdeka pun, pada turnamen terahir bagai klub sirkus, karena tidak punya stadion.  

Pertanyaannya adalah, apakah tidak ada orang yang pintar mengurus dan mengembangkan Pelita Jaya dari Bakrie Group? Kurang dukungan apa Persija selama ini oleh suporter nya ? Juga dukungan yang kuat oleh Gubernur Sutiyoso ( bertahun-tahun yang membuat iri klub saudara ) tidak membuat Persija mempunyai fondasi manajemen yang kuat.

Tidaklah mudah, tentu saja, namun progres mestinya nampak seiring berjalannya waktu. Alih-alih membuat terobosan yang baru, masalah lama, kesalahan lama terus berulang ; gaji terlambat, kesulitan mencari sponsor, kerusuhan di dalam stadion, pemain diputus kontrak setengah musim dll. 

Sebuah perusahaan (klub) mempunyai CEO yang bertugas membuat “Garis Besar Haluan Klub” bersama dengan dewan direksi yang lain. Perencanaan berjangka waktu yang bertujuan untuk mengembangkan klub. Hal ini mestinya sudah dipikirkan sejak dulu sebelum dicabutnya kucuran APBD yang rawan korupsi dan akuntabilitasnya yang ribet. 

Akun Twitter @MafiaWasit mengungkapkan bahwa sejak 2008 AFC sudah meminta petinggi PSSI untuk memberlakukan Club Licensing bagi klub-klub di Indonesia. Itu artinya sudah 9 tahun yang lalu! 

Penulis belum tahu kapan regulasi yang sama mulai diberlakukan oleh UEFA kepada anggota-anggotanya, tapi penulis ingat bahwa sejak tahun awal 90an, sejak liga-liga eropa mulai disiarkan oleh televisi-televisi di Indonesia, pada saat itulah pasti standard manajemen pada klub sepakbola telah dijalankan. Sepakbola telah disadari sebagai industri yang harus serius dalam pengelolaannya.

Semua pihak  mesti SADARBOLA. Tidak ada lagi istilah, “hanya orang bola yang tahu sepakbola", faktanya saat ini sepakbola juga butuh ilmu manajemen, teknologi, ilmu nutrisi, branding  dan lain-lain. Tidak ada lagi yang bilang, "jangan mencari penghidupan di sepakbola, tapi hidupilah sepakbola".

Contoh di awal sudah ada, meskipun mempunyai uang berapapun, manakala sisi manajemen keuangan, manajemen konflik, efiensiensi dll tidak dipunyai atau sesuai kaidah yang standard, maka akhirnya buntung. Sepakbola akan bisa menjadi penghidupan, tidak hanya bagi pemain, termasuk bagi pengurus, manakala dikelola dengan semestinya.

Sudah saatnya semua pihak mempunyai tekad yang kuat dan integritas yang tinggi untuk memulai ini semua. Peraturan-peraturan sudah ada, tinggal dijalankan dan diawasi dengan baik. 

Pemerintah lewat Kemenpora mengawal dari sisi pembinaan, Kemenaker mengawasi sisi ketenagakerjaan dan Kemenkeu pada sisi perpajakan dan sebagainya.

Pemain mesti cerdas dalam pengembangan diri secara profesional. Federasi mesti mawas diri untuk terus berbenah, dan tentunya kepada pemilik klub selalu ada pilihan menjual kepada pihak lain yang lebih mampu, demi keberlangsungan klub.

Akhirnya tulisan ini tidak bermaksud menunjuk hidung, melempar kesalahan kepada satu dua pihak. Namun kepada semua pihak, termasuk pemerintah untuk semua instropeksi, mawas diri. Kenyataan terkadang pahit bagi kita, kritikan sering terasa menyakitkan. Namun dari kepahitan, kita bisa merasakan manis yang sesungguhnya, dan kritikan itu akan membuat kita jauh lebih sehat dari sebelumnya. Jayalah sepakbola Indonesia!


Guntur S.Nugroho
Penikmat sepakbola, salahsatu penggagas forum Suporter Garuda (SUPERGARD), forum suporter yang mengajak supaya suporter terlibat lebih nyata dalam mendukung pengembangan sepakbola nasional.
Dapat dicolek di @kakimerbabu 

Sebarkanlah:

Penulis

GantiGol

Menurut Ngana