GantiGol

Membedah Permusuhan Merah dari Biografi Gary dan Carra

sumber gambar: Bantam Press
Sebarkanlah:

Manchester United (MU) versus Liverpool (LFC) atau Liverpool melawan Manchester United, atau Derby Merah, semua sama saja. Pertemuan kedua kubu merah itu sama-sama memanaskan linimasa Indonesia --yang jelas-jelas jauh sekali dari kedua kota tersebut. Timeline akan penuh sesak oleh para #SahabatTwitwar dari kedua kubu.

Dalam keriuhan twitwar, yang tak jarang berujung baku hantam di dunia nyata, kedua kubu kerap mengandalkan sejarah, terutama mereka yang nantinya kalah. Mulai kemenangan yang akan selalu diingat, kekalahan menyakitkan, jumlah gelar yang diraih, bahkan gelar kejuaraan yang mereka tak pernah bertemu, hingga momen-momen pemain legenda. Yang terakhir ini yang menarik.

Pemain legenda dari kedua kubu memang kerap datang silih berganti, dan makin menarik manakala keduanya sama-sama punya akamsi (anak kampung sini, sininya kedua kota itu). Dari Liverpool sebut saja Steven Gerrad, Robbie Fowler, dan Jammie Carragher. Sementara dari Manchester United sebut saja alumni Class of 92 seperti David Beckham dan Gary Neville.

Lalu sebenarnya mereka-mereka itu musuhan dendamnya nggak ketulungan seperti di Indonesia juga nggak sih?

Baiklah. Kita coba versuskan dari kedua kubu yang sama-sama bek, saat ini sama-sama jadi pundit dan sama-sama punya buku biografi, yakni Jammie Carragher (Carra) versus Gary Neville. Akan saya coba terjemahkan dan mari kita sibak dan simak.

Carra My Auto Biografi – Jammie Carragher (2008)

Dalam bukunya ini, Carra menyebut beberapa kali nama Neville yang merujuk ke bek Setan Merah itu. Dua kali di bab tentang Everton, dan dua (atau tiga kali) pula di bab tentang tim nasional Inggris. Namun tak ada satu pun yang mengejek, merendahkan, atau mendiskreditkan Neville. Malah membela.

Dengan segala hormat, suporter Liverpool itu sangat memalukan. Mereka menjadikan pemain dari Everton dan Manchester United dalam setiap pertemuannya, sebagai sasaran ejekan yang keji. Aku bukan penggemar dari Gary Neville, tapi ia menderita saat kita bertemu United, begitu juga dengan Stevie (Steven Gerrard) dan Robbie (Fowler) rasakan...,”  begitu yang tercantum di halaman 59*.

Masih di halaman yang sama, Carra mengamini ejekan untuk pemain lawan tersebut, asalkan tetap di dalam stadion dan tim mana yang tengah dihadapi.

Memang, tak ada yang bisa membenarkan tingkah laku seperti itu, tapi akan ada pengecualian dan masih dapat dimaafkan: jika itu dilakukan tetap di dalam stadion. Kita tidak akan pernah menemukan Scoussers menyebarkan kabar buruk di jalanan Manchester. Dan kita tidak akan mendengarkan fans Liverpool bernyanyi tentang pemain Everton, United, Chelsea jika kami (Liverpool) tidak bermain melawan mereka.”

Sampai di sini, jadi inget suporter Indonesia yang sering kali nge-chant lawan B, padahal musuhnya A itu yah.

Selanjutnya, di bab ke tujuh yang membahas tim nasional Inggris, tepat di halaman 186*, Carra menulis Neville dan tentang menyatunya kedua suporter  yang berseteru.

Bagi sebagian orang, kebanggaan daerah melebihi nasionalisme. Banyak orang di Liverpool merasakan juga hal yang sama. Aku diharuskan berdiri berdampingan dengan lawan yang Mancunian seperti Paul Scholes dan Gary Neville dalam line-up Inggris, menjaga gerak bibir kita selama sorotan kamera datang, mendekatkan lensa tepat di wajah kami untuk melihat siapa yang hafal lirik lagu kebangsaaan. Aku tak tahu apakah mereka merasakan hal yang sama denganku, tapi banyak suporter yang tahu. Atas nama segala perbedaan, ini adalah wilayah di mana kebanyakan suporter Liverpool dan Manchester United dalam sebuah kesatuan.”

Nama Gary tertulis lagi di halaman 208, bab yang sama. Tapi malah tentang kedekatan keluarga mereka. “Neville Neville, ayah Gary dan Phil, adalah teman minum ayahku. Faktanya, dia juga yang mengenalkan ayah Posh (Posh Spice, julukan Victoria Beckham dalam Spice Girls) kepadaku...”

Dari semua yang tertulis di atas, tak ditemukan kalimat sebagai bukti sebegitu bencinya Carra dengan MU dan apalagi Gary Neville. Mereka nggak musuh-musuhan amat lho. Musuh dan yang selalu ingin dikalahkan bagi Carra adalah apa yang dituliskannya pada halaman 60* ini, "Lupakan Manchester United atau Chelsea, Everton lah tim yang ingin kukalahkan lagi dan lagi dari setiap musimnya.”

RED, My Autobiografi – Gary Neville (2011)

Di bukunya ini, Gary hanya menyebut dua kali nama Carra. Itu pun dalam satu bab, yakni bab 22 dengan judul “Steve” yang bercerita lebih banyak tentang Steve McClaren, pelatih tim nasional Inggris 2006.

Nama Carra muncul dalam bab ini sebagai penguat pledoi Gary tentang gol bunuh diri yang dilakukannya saat Inggris dikalahkan Kroasia di Zagreb pada tahun 2006. Gary berkilah ia dan rekan-rekannya belum nyaman bermain dengan 3-5-2. Apalagi skema itu dirancang Steve hanya beberapa hari sebelum pertandingan.

Di halaman 221 nama Carra dicatut Gary, “Aku tak pernah tahu mampu atau tidak memberikan apa yang dibutuhkan tim di malam itu. Dan jelas terlihat bahwa pemain lain sama tak yakinnya seperti aku. Jamie Carragher dipasang sebagai bek tengah-kiri, tapi ia juga tak pernah terlihat nyaman.

Dua halaman kemudian, Gary kembali membawa nama Carragher saat berkisah Inggris di bawah Fabio Capello. “Aku selalu terkejut dengan apa yang telah dilakukannya (Capello), lebih heran lagi ketika ia tak karuan membangun tim untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Bahkan nama-nama di skuatnya sungguh semrawut,” tulis Gary.

Ia memasukkan Jamie Carragher dan sebaliknya (mengeluarkan) Wes Brown, yang lebih cepat dan cocok untuk kejuaraan sepakbola internasional. Ia kemudian baru menelepon Scholesy sehari sebelum pengumuman skuatnya setelah ia tak berbicara dengannya selama dua tahun.

Memang, bek kanan MU ini selalu mencatut dan terkesan tak percaya dengan kualitas Carra, tapi dalam ranah taktikal di tim nasional. Selebihnya, Gary sama sekali tak menyebut rivalitas mereka dalam konteks permusuhan MU dengan Liverpool.

Nah, dari buku mereka, kedua pemain ‘akamsi’ itu saja tak pernah meributkan permusuhan MU-Liverpool. Tak mengingat-ingat sejarah pertarungannya. Eeh, lha kok kita yang suporter cabang televisi bisa sedemikian ributnya dan malah adu pukul? Hihihi.


*Penulisan nomor halaman disesuaikan dengan edisi e-book berformat .epub

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana