GantiGol

Mengapresiasi Pejuang Sepakbola Indonesia

sumber gambar: Google
Sebarkanlah:

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
Sejatinya kalimat di atas itu indah. Namun kadar keindahan kalimat itu kemudian mulai berkurang karena menjadi template tetap dari spanduk atau selebaran dalam momen Agustusan dan Hari Pahlawan. Malah dikesankan klise dan usang.

Tapi, sekali lagi, kalimat itu indah. Bagaimana kalimat itu tak bisa dibilang indah? Ia senantiasa mengajak diri kita untuk selalu instropeksi dan bercermin kembali. Apakah kita memang bangsa yang sudah dan selalu akan besar? Kalau memang mengaku besar, sudahkah kita menghargai jasa para pahlawan Indonesia?

Bentuk dari menghargai jasa pahlawan itu lah yang kemudian melebar dan bercabang. Tidak melulu dengan ziarah ke makam pahlawan dan mengheningkan cipta. Karena pahlawan tak selalu harus sudah meninggal.

Meneruskan perjuangan dan menjaga apa yang pernah mereka raih adalah salah satu percabangan bentuk penghargaan kepada para pahlawan. Tapi ini gampang-gampang susah. Gampang karena tinggal meneruskan dan jalannya sudah ada. Susah karena semua tahu, menjaga adalah pekerjaan yang susah.

Sementara hal yang paling mudah dari percabangan bentuk penghargaan tersebut kita kembalikan pada “penghargaan” itu sendiri. Bisa bermakna; menghormati, mengenang dan mengapresiasi.

Dari ranah perjuangan bangsa negeri ini di sepak bola, pahlawan akan selalu lahir. Pahlawan kemenangan, pahlawan penyelamat dari gol lawan, hingga pahlawan bagi rekan setim agar tak kena amukan pelatih, pahlawan dalam melatih, serta berbagai jenis pahlawan lainnya yang berjuang untuk sepakbola negeri ini.

Tinggal bagaimana kita atau siapapun yang mencintai Tim Nasional (Timnas) Indonesia mengapresiasi perjuangan mereka. Jika memang ingin mengaku atau diakui sebagai bangsa yang besar.

Dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-70, apresiasi kepada para pejuang itu coba kami wujudkan dengan memilih 70 nama pemain Timnas, dan kemudian mempersatukannya dalam lambang kebanggaaan bangsa yang pernah terpatri di dada mereka: Garuda.

Keanekaragaman bentuk pahlawan di atas lah yang membuat kata “pejuang” akhirnya lebih dipilih dalam apresiasi kami untuk mereka yang pernah berjasa dalam mengatasnamakan Timnas Indonesia. Memilih kata pahlawan tetap saja akan identik dengan mereka yang sudah mati, meski -seperti yang tertulis di atas tadi- tak melulu harus mati dulu untuk menjadi pahlawan.

Mereka kami pilih tentu saja berdasarkan prestasi. Tapi tak melulu gelar. Membawa bangsa ini tampil di event sepakbola kejuaraan dunia, Asia dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, sudah cukup sebuah prestasi bagi kami yang selalu membanggakan Timnas.

Siapa saja ke-70 nama tersebut? Anda bisa mengetahuinya dengan detil dalam paket pre-order “70 Pejuang Sepakbola Indonesia”. Tak hanya dalam kaus, 70 nama itu kami tulis ulang dalam bentuk bonus.

Semoga Anda berkenan dengan bentuk apresiasi kami ini.
Dirgahayu Indonesia!
Dirgahayu Apresiasi!

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana