GantiGol

Mereka-Reka Kebijakan Satu Kota Satu Klub Saja

sumber gambar: Youtube
Sebarkanlah:

Apa yang akan terjadi jika suatu saat ada kebijakan yang memutuskan bahwa setiap kota hanya diperbolehkan satu klub? Ya, satu klub sepak bola per kota. Itu yang ada di angan-angan saya.

Jika direka-reka, sepertinya akan banyak keuntungannya. Apalagi di Indonesia yang  sebenarnya sudah berpengalaman dengan sistem ini. Dulu sih dikenal dengan nama Perserikatan. (Sistem yang konon sempat menjadi percontohan Jepang dalam membangun sepakbolanya ini sayangnya mulai terkikis. Peleburan dengan Galatama lah yang sedikit banyak merusaknya dan kemudian makin hancur karena aturan tak boleh menggunakan dana pemerintah atau APBD).

Keuntungan pertama dari kebijakan satu kota satu klub adalah akan menaikkan standar kesehatan keuangan dari klub itu sendiri. Kita ambil contoh di Inggris. Coba bayangkan jika kota-kota seperti London, Liverpool, Manchester, dan kota lainnya membentuk satu klub tiap kotanya. Tentu akan terbentuk suatu tim super dengan dana yang melimpah.

Dari daftar ini saja sudah dapat membuat  tiga tim super, Arsenal, Chelsea, Tottenham, dan West Ham bergabung dengan jumlah fans yang cukup besar. Atau Liverpool digabung dengan Everton. Pun jika Manchester City dan Manchester United akan bergabung juga. 

Klub-klub tersebut juga akan mendapatkan pendapatan yang banyak karena besarnya basis supporter yang besar. Artinya tidak ada suporter dari daerah yang kurang populer beralih mendukung Chelsea, City, atau klub lainnya.

Poin berikutnya, adalah urusan membina talenta. Dengan satu klub sepakbola per kota berarti akan lebih banyak klub kampung lokal, kalau kata Perserikatan, ‘klub Internal’. Menurut saya itu akan sangat membantu mengembangkan pemain muda karena pembinaan memiliki kesinambungan.

Misal, jika seluruh Manchester menjadi satu klub, maka klub  tersebut akan memiliki akses ke semua tim muda, tim sekolah, untuk merekrut semua pemain muda berbakat di kota tersebut. Manchester Stadium sendiri setidaknya akan menjadi seperti Camp Nou dan setiap pemain muda akan bermimpi mewakili kotanya sebagai local hero.

Di sepakbola Indonesia, permasalahan pembinaan yang tak berkesinambungan memang menjadi masalah yang belum bisa terselesaikan. Masa-masa memasuki sekolah tingkat atas, para calon pemain biasanya dihadapkan pada dua pilihan sulit menyangkut masa depan: terus menggeluti sepakbola, atau memilih sekolah.

Pilihan itu pun dijalani dengan terpaksa mengorbankan salah satunya. Terus bersepakbola dan mengorbankan pelajaran di sekolah atau sebaliknya, memilih sekolah dan melanjutkan sepakbola sebagai hobi belaka.

Di Indonesia akhir-akhir ini, setidaknya era ISL, tidak pernah ada titik temu bagi para pemain muda agar sepakbola terus berjalan dan sekolah tetap berprestasi. Berjalan selaras. Sebab pembinaan berkesinambungan macam Perserikatan yang memiliki kompetisi internal nyaris tak ada. Akademi-akademi bermunculan, tapi selanjutnya?

Lebih jauh tentang sekota hanya ada satu klub, sistem ini akan membuat beberapa kompetisi lebih menarik. Kedua klub Madrid akan bersatu. Kedua klub Milan tak lagi saling rebutan sewa lapangan. Rangers dan Celtic akhirnya akan berdamai tanpa membawa-bawa agama. Bayern dan 1860 bergabung. Fenerbache, Besiktas, Galatasaray semua bergabung, tampaknya akan lebih baik. Liga Champions akan menjadi lebih besar dan berpotensi memberi hadiah yang lebih besar.

Ada begitu banyak pemain yang bisa dipilih. Konsekuensi dari satu klub sepak bola per kota berarti akan menghilangkan tiga divisi terbawah di setiap negara dan membuat suporter menjadi lebih menarik, dan memberikan pengalaman yang lebih baik dengan lebih banyak komunitas.

Selain semua itu, satu klub sepak bola per kota juga akan mengurangi tingkat kerusuhan antar supporter. Seperti yang kerap terjadi dan mahfum adanya, kerusuhan besar karena sepakbola kerap terjadi karena permusuhan yang mendarah daging dalam satu kota. Dengan sistem ini, tak ada lagi derby.

Kalau merasa kehilangan atmosfer panas karena hilangnya derby, ah coba tengok di Indonesia. Permusuhan panas lebih sering terjadi antara klub yang berbeda kota.

Jadi, sepertinya memang menarik sistem satu kota satu klub ini. Tinggal mengedit dikit sistem Perserikatan yang juga memiliki pembinaan berkesinambungan itu. Yang perlu diubah tinggal sistem pendanaan saja kan?

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Prabu Lonthang Pangarsa Ditakdirkan menjadi Prabu sejak dalam kandungan dan menanggalkan gelar Pangeran karena terlalu dimanjakan. Tetap berjuang di antara kemegahan.

Menurut Ngana