GantiGol

Monopoli Jadwal Siaran Langsung yang Mulai Dirintis Persib

sumber gambar: Persib.co.id
Sebarkanlah:

Televisi (TV) dalam sepakbola modern adalah paradoks. Terlihat dibutuhkan, namun sebenarnya akan juga menimbulkan masalah, terutama urusan hak siar. Di Indonesia, cikal bakal masalah antara TV dan sepakbola mulai terlihat tumbuh. Jika tak dijaga sedari dini, hati-hati mono atau duopoli lah yang bakal terjadi.

Banyak dari kita yang sudah mengetahui bahwa urusan pembagian hak siar hanya selalu menguntungkan klub-klub besar. Nama besar adalah jaminan untuk disiarkan pertandingannya, makin sering nongol di TV, semakin besar pula pendapatan klub itu. Sementara klub-klub kecil makin mengecil. Pemasukan kecil dan tak mampu membeli pemain bintang demi mengejar prestasi.

Contoh paling gamblang dari liga-liga di Eropa adalah duopoli La Liga antara Barcelona dan Real Madrid. Jaminan pemain bintang dunia membuat pertandingan mereka menjadi pilihan utama stasiun TV untuk ditayangkan. Barca dan Real bahkan bisa menjual secara klub pribadi hak siar mereka.

Duopoli tercipta. Pun pendapatan mereka yang makin besar itu membuat mereka keranjingan untuk membeli pemain dan menjadikannya gugusan bintang (Los Galacticos).

Jurang pun tercipta antara Barca dan Real dengan klub-klub La Liga di bawahnya. Bahkan pada 2014 lalu mereka mendapatkan 34 persen total pemasukan Primera Division dari segi hak siar televisi yang mencapai €755 juta musim kemarin. Sisa 66% dibagi ke 16 klub kontestan La Liga. Mereka pun disebut duopoli karenanya.

Masih di tahun yang sama, Barca dan Real bahkan menjadi dua klub yang mendapatkan bayaran dari hak siar tertinggi se-Eropa! Raihan uang €140 juta dari hak siar membuat mereka unggul jauh dari klub Premier League macam Liverpool €117.05 juta.

Demi penyamarataan, Federasi Spanyol pun turun tangan. Mereka merevisi aturan pembagian hak siar, plus melarang keduanya tak lagi boleh menjual hak siar secara pribadi.

Nah, di Indonesia memang belum sepenuhnya terjadi. Namun melihat gejalanya, ada arah ke sana dan klub tersebut adalah Persib Bandung di ISC 2016 ini.

Tanpa perlu berselidik dengan curiga kaitan inisial GTS, yang konon sama antara Glenn T Sugita dengan Gelora Trisula Semesta, apalagi owner Persib tersebut berada dalam jajaran pengampu operator ISC, sebenarya sudah terlihat jelas kok dari jadwal siaran langsung ISC.

Coba Bung perhatikan jadwal siaran langsung ISC dari enam pekan ini. Pertandingan Persib baik kandang atau tandang, selalu ditayangkan secara langsung pada Sabtu malam. Waktu prime time! Dan itu ternyata hampir menyeluruh sepanjang ISC digelar.

Dari tiga stasiun yang menayangkan turnamen jangka panjang ini, pertandingan Persib selalu disiarkan di stasiun utama. Yakni SCTV. Hampir tak pernah mereka ditayangkan di TV kedua dari grup EMTEK: Indosiar, atau boro-boro di stasiun TV ketiga macam O Channel.

(Kami harap Bung tak terkejut dan cemburu dengan fakta ini) dari total 34 pertandingan Persib di TSC 2016, hanya satu kali saja pertandingan mereka tak disiarkan secara langsung di malam minggu. Yaitu, sama dengan yang lainnya, laga tandang melawan Perseru Serui yang dijadwalkan pada 6 Agustus 2016 mendatang pukul 14:00 WIB. Hanya sekali ini Persib main sore, itu pun tak ditayangkan.

Atas nama penyamarataan dan kemajuan klub-klub Indonesia, ini tentu ber-ba-ha-ya. Rawan monopoli.

Memang kita belum bisa tahu berapa besar pembagian hak siar ISC dan apakah ia dibagi rata atau tidak. Kalau pun tidak dipukul rata, dibagi berdasarkan siapa yang ditayangkan dan prime time ikut menentukan harga, maka Persib amat sangat diuntungkan.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana