GantiGol

Offside dan Hal-Hal Yang Membatalkannya

sumber gambar: MagazineRayyani
Sebarkanlah:

Jika diibaratkan, offside, tak ubahnya bidan dalam dunia medis yang menyangkut Ibu dan Anak. Ia bisa membantu lahirnya sebuah gol atau bahkan menggugurkan gol itu sendiri. Meski begitu, selayaknya bidan, offside tak bisa melahirkan dirinya sendiri, karena kelahiran offside harus dibantu oleh hakim garis.

Offside merupakan salah satu aturan tertua dalam sepakbola. Ibunya adalah Cambridge Rules, ibu dari FIFA Law of the Game. Sejauh yang aku tahu, meski merupakan yang tertua, offside tak punya adik ataupun kakak apalagi kakak ipar. Ah, mungkin saja punya. Mungkin. Ya, mungkin saja. Kelak jika aku sudah mendapatkan salinan Kartu keluarga offside dan mengetahui silsilah keluarganya, akan kuberi tahu juga kalian.

Oke, aku tak ingin bertele-tele. Biar kamera DSLR saja yang punya tele dan suka tele.

Offside sering dijadikan kambing hitam jika suatu tim kebobolan dan menganggap pemain lawan sudah dalam posisi offside, namun hakim garis ataupun hakim kepala tak meniup peluit tanda offside. Lantas, kenapa dalam awal paragraf ini aku memulai dengan kata “offside”? Tak ada alasan logis, sebenarnya. Hanya saja biar sedap dipandang mata; ada tiga paragraf yang diawali dengan huruf “O”.

Nah, sebenarnya, situasi apa saja yang dianggap sebagai offside? Pada paragraf ini, aku tak memakai awalan huruf “O”, agar kalian tak bosan. Lalu pada pragraf di bawah ini, akan aku jelaskan situasi-situasi apa saja yang dianggap sebagai situasi offside dalam sepakbola.

Seorang pemain dinyatakan offside jika bagian tubuhnya berada lebih dekat dari gawang lawan, bahkan lebih dekat daripada para bek, dan rekan setimnya mengirimkan bola kepada pemain tersebut, sehingga apabila bola itu diterima oleh sang pemain akan mempengaruhi jalannya pertandingan.

Pendek kata, jika pemain yang berdiri lebih dekat dengan garis gawang daripada lawannya lalu  menerima umpan dan dapat mengubah jalannya pertandingan (misalnya saja gol), situasi tersebut dinyatakan offside. Namun, jika pemain yang berdiri atau anggota badannya lebih dekat dengan gawang tersebut tak mengubah jalannya pertandingan, maka situasi tersebut dinyatakan tidak offside.

Lebih gampangnya, jika ada satu ataupun lebih, pemain yang menerima umpan lalu berhadap-hadapan dengan kiper, maka pemain yang mengejar ataupun menyambut bola tersebut dinyatakan offside.

Lantas hal-hal apa saja yang bisa membatalkan offside? Ada beberapa situasi di mana pemain yang anggota tubuhnya lebih dekat dengan garis gawang lawan namun tidak termasuk dalam kategori offside. Yaitu:

1   Pemain tersebut sedang melakukan tahiyat akhir ataupun tahiyat awal.

 Meski ada anggota badan pemain yang lebih dekat dengan gawang saat melakukan tahiyat akhir ataupun awal (yaitu jari telunjuk) pemain tersebut dinyatakan tidak offside. Karena, bisa dipastikan pemain tersebut sedang tidak bermain bola, namun sedang melakukan sholat Ied di lapangan bola. Sesuatu yang memang sering dilakukan di Indonesia saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.

2.       Hakim garis tidak mengangkat bendera dan wasit kepala tidak meniup peluit.

Bagaimanapun juga, meski pemain lawan menyatakan bahwasanya ada pemain yang berdiri dalam posisi offside, namun jika wasit tidak meniup peluit dan hakim garis tidak mengangkat bendera, maka pemain tersebut tidak dinyatakan offside.

3.       Hakim garis mengangkat bendera, sedangkan wasit meniup terompet.

Ketika ada pemain yang dianggap offside, dan hakim garis telah  mengangkat bendera, namun wasit malah meniup terompet, pemain tersebut tidak dianggap offside. Karena syarat mutlak seorang pemain yang dianggap offside adalah ketika wasit kepala meniup peluit, bukan terompet, saat hakim garis mengangkat bendera.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Sophie van der Lul Namaku berakhiran Lul, karena ibu, bapak, kakek, buyutku dari Lul. Untung bukan dari Lebak Bulus, bisa-bisa jadi van der Lebak Bulus namaku. Ah apapun itu yang penting aku Sophie, Sopan tapi hepie

Menurut Ngana