GantiGol

Ola Bola, Film Kebanggaan Akan Timnas dari Malaysia

sumber gambar: Olabola
Sebarkanlah:

Mungkin diantara Bung ada yang jarang atau bahkan belum pernah menonton film dari Malaysia, tapi percayalah film sepakbola dari negara jiran kita satu ini layak tonton sebagai hiburan dan juga sebagai penambah pengetahuan. Apalagi menyongsong pagelaran Piala AFF 2016.

Berjudul Ola Bola, film produksi Green Screen Cinemas  ini terinspirasi dari perjuangan tim nasional Malaysia dalam menembus Olimpiade 1980 di Moskow. Tim nasional Malaysia kala itu seperti tergantung pada sosok Mokhtar Dahari yang dalam film ini lebih sering disebut “Saamsul Super 10”, dan parahnya ia mengundurkan diri  dari tim. Walhasil, 'Tauke' Chow Kwok Keong (J.C. Chee), sang kapten tim, harus bekerja ekstra keras membangung semangat rekan-rekannya.

Pelatih anyar asal Inggris, Harry Mountain, didatangkan. Namun di awal ia malah bersitegang dengan anak asuhnya termasuk kapten dan Tauke yang mundur juga dari tim nasional. Harry pun harus memutar otak lebih keras supaya Malaysia tetap bisa lolos ke Olimpiade 1980.

Benar-benar hebatkah tim itu sampai dibuatkan film perjuangannya? Hmmm. Faktanya, dan ini diperlihatkan dalam beberapa scene, Timnas Indonesia digebuk 6-1 oleh mereka.

Sutradara Chiu Keng Guan menaruh banyak konflik di sini dan meramunya sebagai sebuah kesatuan cerita yang utuh dan menarik. Selain permasalahan ekonomi, permasalahan sosial juga kerap dihadirkan.

Sang sutradara tidak hanya fokus dengan cerita perjuangan para pemain di lapangan saja. Film yang dirilis pada tanggal 28 Januari 2016 lalu ini juga menceritakan perjalanan Rahman (Bront Palarae) dari komentator radio amatir menjadi komentator profesional.

Ada juga cerita tentang Marianne (Marianne Tan), seorang jurnalis muda yang ditugaskan oleh bosnya untuk mengumpulkan berkas-berkas lawas dari para pemain timnas Malaysia pada era 1980 tersebut. Dari pencarian Marianne itu lah cerita di film ini dimulai.

Yang membuat film ini agak kurang mungkin Chiu yang terkesan mendramatisir hasil pertandingan terakhir. Fakta yang kami telusuri mereka menang 2-1 atas Korea Selatan di partai terakhir. Namun, di film ini dibuat 3-2. Yah, demi menaruh drama di klimaks sih.

Keseriusan penggarapan film ini juga cukup layak diacungi jempol. Mulai atmosfer penonton, wardrobe, dan gaya rambut pemain bola 80-an digarap dengan apik. Selain itu barisan penyanyi yang mengisi Original Sound Track (OST) juga makin menunjukkan keseriusan film ini. Si Gadis Ukulele yang sudah level internasional, Zee Avi, pun ikut turun panggung dan menyumbangkan satu singlenya berjudul Arena Cahaya.

Tenang, meski Bahasa Melayu yang merupakan bahasa yang dipakai mayoritas penduduk Malaysia, namun dalam film ini tidak melulu menggunakan bahasa tersebut. Setidaknya ada tiga bahasa lain selain Melayu, yakni Bahasa Mandarin, Bahasa Tamil dan Bahasa Inggris yang dicampur Melayu dan jadi lucu (bagi kita orang Indonesia). Semacam, “dont be like that laah” atau “we boleh” dan sejenisnya.

Beda bahasa dan juga ras, tapi tetap bersatu demi kebanggaan negara. Ya, persatuan lebih dikedepankan dalam film yang konon memecahkan rekor pendapatan film lokal setempat dengan RM 16 juta itu. Pesan moral ini yang layak kita tangkap dari mereka, yah walaupun jelas-jelas Malaysia adalah rival bebuyutan Indonesia.

Tersirat film ini seperti ‘pesanan’ dari federasi setempat yang mencoba menyadarkan kembali kepada warga Malaysia, terutama kepada pemain sepakbola mereka, bahwa membela tim nasional tetaplah sebagai sebuah kebanggaan. Maklum, tahun lalu beberapa pemain memilih mundur karena merasa tak dianggap dan dihargai layak oleh federasi.

Dan jikalau memang demikian, maka kembalinya beberapa pemain pilar mereka untuk AFF 2016 seperti Safee Sali dan Noor Shahrul membuat film ini berhasil dalam menyampaikan pesan tersebut.

Lalu, apakah tim Malaysia 80 ini berhasil lolos masuk Olympiade? Bung, tonton sendiri saja lah di beberapa laman streaming film kesayangan Bung dan Nona. Pilih yang mau menyayangi balik ya, dua arah. Biar tak bertepuk sebelah tangan. 

Sebarkanlah:

Penulis

Mobikick Mari bekerja sama dan sama-sama bekerja

Menurut Ngana