GantiGol

Pemain yang Bunuh Diri Karena Dicadangkan

sumber gambar: Diegora/Deviantart
Sebarkanlah:

Semakin tinggi, jatuhnya semakin sakit. Ungkapan itulah bisa menggambarkan tentang seorang Abdon Porte. Bintang dari Uruguay ini lebih memilih bunuh diri (dalam arti sebenarnya) tak lain karena kebintangannya meredup dan dikeluarkan dari tim utama Nacional. Ia dicadangkan.

Porte adalah seorang center back yang gemilang. Beberapa kali penampilannya mengawal lini pertahanan bersama Libertad, membuat Nacional kesengsem padanya. Saat usianya menginjak 20 tahun, Porte pun dibeli Nacional pada 1911.

Meski terbilang chico –sebutan bahasa Spanyol untuk pemuda bertubuh pendek-, Porte mampu merebut tempat utama di lini pertahanan klub barunya tersebut. Ia selalu lugas dan berani berduel dengan striker yang posturnya lebih tinggi darinya. Resep utama menurutnya karena ia bermain dengan “tiga kaki”, satu kaki di kepala menjadi pengatur dua kaki.

Di lapangan, sorak dari penonton ditujukan padanya. Gelar bintang pun disandang manakala ia turut mengantarkan Nacional merebut Copa America 1917.

Namun sepakbola adalah permainan manusia yang didesain Tuhan dengan segala takdirnya yang tak terduga. Setahun berselang, karena gagal memotong bola dan dianggap menjadi penyebab kekalahan, pelatih memutuskan ia menjadi pemain cadangan. Bintang muda itu seperti melesat jatuh dari ketinggian.

Pada dini hari, 5 Maret 1918, Porte terlihat berada di klub malam dengan beberapa kertas dan pena. Berkali-kali ia melirik jam di dinding. Fajar belum tiba, dan Porte terlihat berjalan ke arah stadion Central Park.

Paginya, mayatnya ditemukan dengan luka di dada masih menganga karena tembusan peluru. Dua surat di tangan dan pistol menjadi peninggalan terakhir sang bintang. Namanya pun kemudian diabadikan di tribun berdiri sisi Barat dari Central Park.

Dan, sampai di sini mBah Jalank (BJ) mengambil alih perannya untuk mewawancarai Abdon Porte (AP) terkait penjelasan tentang kisahnya ini.

BJ: Halo Don Te, apa kabar?

AP: Ah kau ini. Pertanyaan template buat orang masih hidup dipake. Kabarku ya gini-gini aja. Jadi arwah gentayangan sembari nunggu pembenaran ini semua melalui kiamat. Benar nggak Tuhan itu satu dan apakah yang benar itu Tuhanku apa Tuhanmu.

BJ: (Hanya terpana dan tertegun. Membenarkan dan manggut-manggut. Kemudian terlihat gulana menyelimuti wajahnya)

AP: Lalu kau ke sini hanya untuk menunjukkan wajah muram seperti itu. Sudah-sudah lupakan. Aku tahu kau pasti mau ngebahas bola kan? (sambil melirik mBah Jalank yang memang menggunakan jersey klub Galatama, Yanita Utama. Klub yang awalnya disenangi mBah Jalank karena dikiranya bakal banyak wanitanya. Lha dia ngira namanya Wanita Utama).

BJ: Hehe iya. Mau tanya-tanya. Kau kan pemain pertama yang memilih bunuh diri karena dicadangkan dan..(tersela)

AP: dan aku berharap aku yang terakhir. Nggak ada lagi selain aku. Yah, selain ingin memegang rekor agar terus ada padaku, bunuh diri nggak ada enaknya Bro. Nikmat dunia belum semua kudapat.

BJ: Itu benar, cuma karena dicadangkan saja kau bunuh diri?

AP: Jaman segitu bro. Dicadangkan sama saja dibuang. Pemain cadangan baru bisa masuk kalau ada yang cedera. Belum muncul regulasi tentang pergantian pemain untuk mereka yang kelelahan atau strategi.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Mbah Jalank Demit yang hidup ribuan tahun dan diam-diam suka nonton bola di tribun VIP dekat mbak-mbak istri pemain. Hmmm...

Menurut Ngana