GantiGol

Penggunaan Drone untuk Latihan dan Pemahaman Taktikal

sumber gambar: PSIM Stats
Sebarkanlah:

Tidak dapat dipungkiri jika kemajuan teknologi juga diikuti sepakbola. Terutama urusan kamera, mulai tayangan televisi, goal line technology, kamera 360 hingga drone. Untuk yang terakhir, drone sudah cukup ngetrend di Indonesia. Lalu, kenapa belum mengaplikasikan drone dalam latihan sepakbola?

Berbicara tentang drone, pesawat tanpa awak ini sebenarnya bukan barang baru. Bagi militer, drone sudah digunakan pertama kali pada tahun pada tahun 1917 untuk keperluan perang. Dan saat ini keberadaan drone juga sangat berpengaruh pada perkembangan sepakbola dunia.

Penggunaan drone mampu mengubah wajah olahraga khususnya sepakbola, baik saat latihan atau dalam pertandingan. Teknologi ini sangat memungkinkan untuk melihat semua pergerakan pemain dari berbagai sudut lapangan. Alat ini memiliki angel yang luas dan sesuai keinginan jika dibandingkan dengan kamera jenis biasa yang sering digunakan untuk menyiarkan pertandingan sepakbola. 

Video yang dihasilkan dari lensa drone punya perspektif yang hampir sama dengan keadaan aslinya. Hal ini karena gambar dari drone diambil dari atas lapangan, bukan dari samping seperti kamera tv pada umumnya. Alat ini sangat membantu menganalisis pertandingan melalui sebuah rekaman video untuk membaca permainan dan memperbaiki kekuranagan.

Klub-klub besar eropa macam Everton, Arsenal, Bristol City, Charlton, dan Empoli sudah menggunakan teknologi drone untuk pelatihan akademi mereka.

Motode latihan dengan menggunakan teknologi drone sangat penting bagi pelatih sepakbola modern untuk membantu kinerja mereka dalam meninjau serta menganalisis penampilan pemain. Pada sebuah sesi latihan, pelatih dapat memberikan gambaran bagaimana permainan yang ia inginkan kepada para pemain mereka, melalui hasil rekaman drone.

Sedangkan dari segi pemain alat ini dirasa akan mempermudah mereka untuk memahami peran dan tanggung jawab dalam sebuah permainan.

Bagi seorang pemain akademi maupun pemain SSB, memahami peran dan tanggung jawab dalam sebuah skema permainan tentu bukan satu hal yang mudah. Perlu waktu dan jam terbang yang tidak sedikit bagi mereka untuk benar-benar tahu kemana ia harus bergerak, mengumpan, dan menutup ruang.

Bung dan Nona pasti setuju jika persoalan peran dan tanggung jawab dalam sebuah permainan sepakbola menjadi hal yang sangat krusial. Tentu kita sering melihat sebuah tim terlihat kesulitan membangun serangan, menciptakan peluang, atau kocar-kacir saat bertahan hal ini terjadi kebanyakan karena pembagian peran dan tanggung jawab yang tidak jelas. Bukan karena pemain yang tak paham posisi tapi lebih karena sudut pandang mereka yang berdiri di lapangan tak sebaik sudut pandang rekaman drone. 

Misalnya, dalam pertandingan, sebuah kesebelasan menggunakan formasi dasar 3-5-2 dengan dua gelandang jangkar dan dua wingback. Kesebelasan A terlihat kesulitan menciptakan peluang di sepertiga akhir pertahanan lawan. Akibat dari sudut pandang yang tak maksimal, gelandang bertahan kesebelasan A sering membuat keputusan yang kurang tepat dengan mengumpan bola langsung ke arah pemain depan.

Padahal di sudut lain di momen itu, gelandang tengah punya kesempatan untuk mengumpan ke arah gelandang serang yang posisinya lebih menguntungkan untuk melakukan progresi. Dalam persoalan seperti ini teknologi drone mampu menjadi alat belajar yang baik bagi gelandang bertahan untuk mengasah kemampuanya dalam membaca keadaan.

Untuk saat ini, klub di Indonesia masih jarang yang memanfaatkan teknologi ini. Bahkan, sebatas ingin pun jarang. Entah karena tidak tahu manfaatnya atau memang kebebalan para pengurus sepakbola yang enggan belajar dan bekerja keras.

Contohnya adalah apa yang pernah menimpa PSIM Stats ini. Drone badan penghitung stats swadaya suporter PSIM ini dilarang terbang oleh panpel merujuk regulasi PT GTS saat ISC B 2016 lalu karena alasan keselamatan pemain di lapangan dan kebijakan official broadcaster.

Padahal yah mereka menggunakan drone hanya untuk kepentingan statistik timnya, tidak ada kaitannya dengan urusan siaran.

Okelah kalau tidak diperbolehkan pada sebuah pertandingan, bagaimana kalau di latihan? Jika metode pelatihan ini diterapkan, bukan tak mungkin Indonesia akan kebanjiran pemain yang tidak hanya punya olah bola yang baik, tapi juga pemahaman taktikal yang mumpuni. Tidak hanya kualitas pemain, tapi juga kinerja pelatih yang baik akan didapat pula.

Lebih-lebih, drone sudah disebutkan di awal merupakan barangnya militer. Nah sekarang, mumpung PSSI dikuasai militer. Kenapa tidak?

Bagaimana, coach-coach sekalian, siap menerapkan drone di latihan timmu?

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Maya Yekti Ngaca dulu baru ngece. Nyatat dulu baru nyacat.

Menurut Ngana