GantiGol

Pilihan Bertahan yang Bikin Geregetan

sumber gambar: Getty Images
Sebarkanlah:

Alfred Riedl mulai menunjukkan kompetensinya sebagai pelatih tim nasional yang berpengalaman di level Asia Tenggara. Kali ini ia kembali sukses mengantarkan Tim Garuda Merah Putih kembali ke final Piala AFF melalui pilihan bertahan yang bikin geregetan.

Ya, pada leg kedua melawan Vietnam, Rabu (9/12/2016), kemarin, Riedl sukses membuat hampir seluruh masyarakat sepakbola Indonesia spot jantung. Geregetan tak tertahankan karena permainan bertahan Indonesia.

Sedari awal, keunggulan agregat 2-1 membuat Riedl memilih bermain bertahan. mengubah skema 4-4-2 yang biasa ia kenakan. Ia memilih 4-2-3-1 dengan dua gelandang bertahan sejajar, Bayu Pradana dan Manahati Lestusen.

Sebenarnya, di awal babak pertama ada beberapa momen di mana pressing Indonesia tak rendah-rendah amat. Instruksi Reidl untuk pressing sejak dari pemain depan sering kali terbukti manakala Boaz Solossa dan Lilipaly terlihat menjadi barisan terdepan yang menghambat fase build-up vietnam.

Namun seiring jalannya waktu, pilihan bertahan itu membuat Vietnam makin leluasa menyerang dan barisan pemain Indonesia lebih memilih menunggu Vietnam dengan bolanya datang ke sepertiga akhir pertahanan. Dengan keadaan seperti itu jangankan melakukan serangan balik, upaya clearance saja sering gagal dilakukan pemain-pemain Indonesia.

Seperti terlihat dalam video ini

Vietnam yang membutuhkan banyak gol makin gencar untuk menyerang dan mendominasi jalannya pertandingan. Dengan duet Nguyen Van Toan dan Le Cong Vinh dalam skema 4-4-2, yang sering berubah menjadi 3-4-3 kala mereka dalam fase membangun serangan.

Menarik untuk membahas bagaiamana Vietnam bisa terlihat begitu dominan di sepanjang babak. Apalagi pada babak pertama, mereka mampu memaksa Timnas kita (iya, kita), tak memiliki satu peluang pun dan hanya bertahan total dengan garis pertahanan yang rendah.

Duet gelandang bertahan Vietnam Xuan Truong dan Trong Hoang menjadi pemain kunci permainan Vitenam dan menyebar umpan baik langsung ke depan atau menyisir ke samping. Ketika dalam fase membangun serangan itu, salah satu dari dua gelandang itu sering terlihat melibatkan diri untuk memperlancar aliran bola.

Padatnya Indonesia di tengah membuat Vietnam menyiasati dengan bermain mengandalakan area sayap. Di area itu mereka terlihat punya keunggulan kualitas meski sebernarnya Indonesia selalu unggul dalam jumlah pemain di sekitar bola bergulir. Vietnam kerap mengandalkan kombinasi umpan setiga di area sayap sebelum akhirnya masuk ke kotak penalti Indonesia. 

Video di bawah ini menjelaskan bagaimana Vietnam mencoba mengkreasi peluang melalui sayap.

Tidak sampai di situ saja upaya mereka untuk menghabisi Indonesia juga terlihat dari cara Vietnam saat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan. Ketika Vietnam kehilangan bola di area bertahan Indonesia, mereka selalu berupaya untuk membuat permainan Indonesia tidak berkembang, dengan cara merebut bola yang hilang secepat mungkin. Hal ini mereka lakukan karena mereka bermain dengan blok pertahanan yang tinggi. Dan juga menjadi cara Vietnam untuk menghambat serangan balik Indonesia.

Dari segi permainan Timnas Indonesia memang kalah jauh dibanding Vietnam. Argumen itu tidak bisa terbantahkan pasca kiper Vietnam Nguyen Manh dikartu merah oleh wasit. Dengan keadaan unggul jumlah pemain Indonesia tetap sulit meladeni permainan Vitenam. Indonesia justru kebobolan dua gol kala Vietnam hanya bermain dengan 10 pemain.

Keteguhan Riedl untuk tetap bertahan, dan makin bikin geregetan, makin terlihat manakala ia memasukkan Dedi Kusnandar. Tiga gelandang bertahan ditumpuk dalam satu lapangan dan dalam keadaan tertinggal.

Memilih bertahan dan kemasukan dua gol sebenarnya adalah gagal. Namun, justru satu dari gelandang bertahan yang ditumpuk Riedl menjadi pembawa Indonesia ke final. Manahati sukses mengeksekusi penalti.

Begitulah sepakbola, kadang kita tak perlu bermain cantik untuk menang. Sepakbola juga bukan cuma soal menyerang, dan lagi, pertahanan juga sama terhormatnya dengan menyerang.

Pragmatis, tapi kalau hasilnya praktis? Tapi ya jangan bikin geregetan terus sih.


Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Maya Yekti Ngaca dulu baru ngece. Nyatat dulu baru nyacat.

Menurut Ngana