GantiGol

PSSI Menua, Tapi Tak Dewasa

sumber gambar: Bola.net
Sebarkanlah:

Pada 19 April nanti, PSSI genap berusia 86 tahun. Terhitung senja usianya. Tapi tak bisa juga disebut dewasa. Kerutan di sana-sini sebagaimana orang tua ternyata bukan hanya di bagian luar dari tubuhnya saja. Lingkar otak PSSI ikut mengkerut. Tak heran jika pola pikir para pengurusnya menyempit dan kembali kekanak-kanakan.

Sejarah 86 tahun perjalanan PSSI pernah tercoreng dengan kepemimpinan Nurdin Halid dari jeruji besi. Ia berulang kali keluar masuk penjara karena beberapa kasus korupsi dalam kurun 2004-2006, namun statusnya sebagai Ketua Umum PSSI tak pernah dihentikan.

Kini kesalahan yang sama, malah lebih buruk, para pengurus dan anggota PSSI sama-sama sepakat La Nyalla M Mattaliti tetap sebagai ketua. Padahal ia jelas-jelas dinyatakan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kajati Jatim) pada 16 Maret lalu

Menanggapi status tersangka, La Nyalla kala itu menyatakan tidak akan mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI. "Saya akan mundur apabila terbukti saya sebagai terpidana. Ini sesuai statuta. Saya sampaikan kepada pendukung-pendukung saya, semua harus tenang. Terutama kepada para voter dan anggota PSSI semua tetap tenang," tegasnya seperti dikutip Goal

“Saya tidak mau dikatakan sebagai pengkhianat, karena ini amanah," tambah La Nyalla sebelum akhirnya berkhianat pada panggilan Kajati dan kini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) alias buron.

Ketenangan yang diperintahkan La Nylla ditanggapi dengan baik oleh pengurus PSSI. Mereka dengan tenang menyuarakan lagu nada setuju. Bahwa status Ketua Umum PSSI tak bisa dicopot begitu saja dari La Nyalla. Lagu lama dengan irama statuta sebagai tameng.

"Saat ini masih berstatus Ketua Umum, karena dia tidak melanggar etika dan statuta PSSI," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Azwan Karim, 31 Maret lalu pada Liputan6

Sementara satu dari anggota Komisi Eksekutif PSSI, Tony Apriliani, yang mengaku lupa ayat dari statutanya, juga tetap mengesahkan status La Nyalla sebagai Ketua Umum PSSI. "Kami juga tidak memiliki celah untuk memberhentikan Pak Nyalla sebagai ketum PSSI,” katanya seperti dilansir Detik

“Karena sesuai statuta PSSI pasal 34 ayat berapa saya lupa, yang intinya adalah selama ketua umum PSSI belum incrah kekuatan hukumnya (jadi terpidana) masih bisa memimpin PSSI. Apalagi, tidak ada desakan KLB dari anggota PSSI."

Itu dari para pengurus. Sementara dari klub-klub anggota juga tak jauh berbeda.

''Status tersangka sifatnya personal tidak ada hubungan dengan PSSI atau ada yang ingin merusak PSSI. Kami juga (klub SFC) masih menyatakan La Nyalla tetap ketum PSSI,''ujar Sekretaris PT. Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Faisal Mursyid kepada Sindonews

Sedangkan tiga hari pasca penentuan La Nyalla sebagai tersangka, M Farhan juga berpendapat demikian.

Meski disampaikan dalam akun Twitter pribadinya, namun masih pantas kiranya jika ini dianggap sebagai sikap klubnya yang juga anggota PSSI. Sebab, Farhan masih tercatat dalam jajaran direksi Persib Bandung,

Lihatlah, pengurus dan klub anggota masih sepakat bahwa seorang tersangka dan buron masih bisa memimpin federasi sepakbola ini.

Ini lah yang membuat PSSI sekarang terlihat berpola pikir sempit dan lebih buruk. Kalau dulu Nurdin jelas ketahuan ia berada di penjara, sekarang La Nyalla yang keberadaannya masih dicari malah tetap djadikan ketua. Itu artinya La Nyalla masih bisa membuat keputusan dan aktif dalam organisasi.

Maka, jangan salahkan mereka yang menggunakan logika seperti ini: PSSI tahu di mana ketuanya berada dan ikut membantu menyembunyikannya. Lha wong status Ketuanya masih aktif, kok.

Sebenarnya, jika mereka mau melebarkan lingkar otaknya, mencucinya agar lebih jernih berpikir dan mau turun ke pangkal leher sedikit lagi guna mengambil nurani, ini adalah kesempatan bagi PSSI untuk membuktikan diri.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana