GantiGol

Rebutan Sepakmula Presiden

sumber gambar: Tempo.co
Sebarkanlah:

Disanksi dan dikeluarkan sementara dari keanggotaan FIFA, membuat sepakbola Indonesia merasa dirinya tak punya payung untuk meneduhkan diri dan berlindung dari panasnya konflik. Presiden pun kini menjadi harapan.

Pemangku sepakbola Indonesia memang tak salah bila harus berlindung kepada Jokowi. Meskipun kewajiban mengurusi sepakbola tak ada dalam Sumpah atau Janji Presiden. Maklum, sepak bola dan Jokowi dalam usahanya menjadi pimpinan memang kerap berkaitan.

Tentu masih banyak yang mengingat betul janji Jokowi sebelum menjadi Gubernur DKI membangun stadion untuk Persija dan kampanye pilpres di stadion sepakbola keramat negeri ini Gelora Bung Karno.

Hal itu terlihat dari dua kubu yang bertikai di sepak bola Indonesia yang terpaksa mengemis kepada Presiden Joko Widodo agar kakinya bersedia datang dan melakukan seremonial sepak mula turnamen ecek-ecek mereka.

Jumat 7 Agustus lalu, keduanya datang ke Istana Kepresidenan. Datang dengan misi sama: mohon doa restu dan agar Yang Mulia Presiden bersedia datang di pembukaan turnamennya.

Yang pertama datang adalah Tim Transisi dan manajer klub peserta Piala Kemerdekaan 2015. Dalam kedatangannya ini, mereka mengaku diundang oleh Presiden Jokowi. Belum apa-apa mereka mengaku sudah diakui sebagai orang penting yang layak dipanggil presiden.

Selang beberapa jam kemudian giliran Erick Thohir yang datang dengan kapasitas sebagai pemilik Mahaka Grup yang menjadi operator turnamen Piala Presiden.

Demi kedatangannya itu, Mahaka yang sebelumnya ngotot ogah menggunakan segala sesuatu tentang Presiden dalam turnamennya terpaksa mengubah nama turnamennya. Dari Piala Indonesia Satu ke Piala Presiden.

Belum cukup juga, mereka merasa perlu seorang Erick Thohiryang datang ke Istana Kepresidenan. Maklum taipan satu ini sudah sukses menundukkan beberapa presiden. Sebut saja Presiden Internazionale, Massimo Moratti.

Lalu, bagaimanakah tanggapan Presiden Jokowi?

Presiden memang berkenan hadir dan melakukan ceremonial kick off pada pembukaan Piala Kemerdekaan di Serang 5 Agustus lalu. Pun lah demikian, belum bisa dibilang presiden pilih kasih atau berat sebelah.  Karena masih berdasarkan urutan tanggal.

Berat sebelah atau tidak baru lah ketahuan pada 30 Agustus nanti. Jika Presiden tidak  datang ke Bali dan melakukan hal seperti di Serang. Jika ia tidak membuka turnamen yang bertajuk jabatannya itu.

Kalau datang, berarti Presiden memang telah berlaku adil kepada sepakbola. Atau pendapat lain juga akan datang, “Presiden kurang agenda banget.”

Apapun nanti, datang atau tidak, ini semua bukan semata Presiden dan kewajibannya. Namun kembali ke diri kita masing-masing. Masih terus nyinyirin Presiden dan menggantungkan harapan sepakbola padanya atau tidak?

Untuk Anda pembaca yang Budiman, Hartawan, Cendekiawan dsb, Anda bisa mewujudkan seorang Presiden melakukan sepak mula di hadapan Anda langsung. Ya! Di hadapan Anda berbentuk Kartu Pos.

Kami berencana memberikan Kartu Pos itu gratis Bagaimana caranya dan selengkapnya? Tunggu saja dan pantengin terus website ini dan akun-akun media sosial kami.

Salam LEBIH SEPAKBOLA!

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana