GantiGol

Ritual di Sepakbola dan Klenik Persib Saat Juara ISL 2014

sumber gambar: Gantigol
Sebarkanlah:

Malam 1 Suro adalah tradisi yang unik di Indonesia. Malam tahun baruan kalender dengan penanggalan bulan itu adalah sebuah pelajaran indah betapa agama dan budaya bisa beriringan sejalan.

Ritual-ritual di muka umum hingga yang bersifat rahasia dan kemudian disebut klenik bermunculan. Mulai yang melepas bra di Ancol, Tapa Bisu dan mengelilingi keraton di Yogyakarta, hingga memandikan, semuanya dijalankan dengan doa-doa dari agama yang dipeluk. Indah.

Dasar kami sukanya yang unik, asik, klassik, dan menarik, fenomena malam 1 suro itu lah yang memancing redaksi kami untuk mengajukan hal ini kepada mBah Jalank. Tepat tengah malam pada 1 Muharram, demit nyentrik ini bersedia datang.

Obrolan menarik terjadi manakala pembahasan terkait ritual-ritual itu merembet ke sepakbola. Ternyata eh ternyata Persib Bandung saat menjadi juara ISL 2014 juga melakukan ritual khusus. Harkatnya bahkan sama seperti malam 1 Suro tadi, agama dan budaya Sunda berjalan beriringan.

As usually, mBah Jalank yang kali ini datang bawa terompet dan topi berkilauan kami akronimkan BJ, sementara redaksi yang orangnya banyak dan nanyanya gantian tetap kami akronimkan GG saja.

GG: Kok dandananmu asik gini mbah. Bawa terompet segala.

BJ: 1 Suro ini kan tahun baru. Ya sama aja kayak di kalian, tahun baruan, pake konvoi, terompet, buat countdown. Aku kan demit biasa-biasa saja, jadi ya merayakan sebagaimana umumnya.

GG: Demit biasa, emang yang nggak biasa yang gimana, mBah? Yang sakti?

BJ: Bukan masalah saktinya. Tapi, sama aja kayak di dunia manusia. Demit ada yang ngartis, malam tahun baruan penuh job. Nyanyi sana-sini, diundang merasuki manusia sana-sini. Aku demit jelata. Jobnya ya niup terompet aja, blow job. Hahaha (Tertawa)

GG: (Ikut tertawa) (Semoga pembaca ikut tertawa juga, meski sebenarnya garing)

Lalu mbah, itu kenapa sih ritual-ritual gitu. Sebenarnya bener nggak sih gitu itu?

BJ: Ketahuilah. Ini urusan keyakinan. Tak ada benar dan salah. Kalau kamu yakin ya lakukan, kalau enggak ya jangan mempermasalahkan dan menyalahkan orang lain. Hal ini lah yang tak disadari masyarakat di sini. Agama sering dibuat debat mencari pembenaran. Menganggap agamanya paling benar. Sementara benarnya agama yang asli juga nggak tahu. Pahala, dosa, surga dan neraka yang jadi pengukur kebenaran juga nggak pernah ada yang tahu toh.

GG: Boljug nih opini si mbah. Lalu agama apa dong mbah kalau gitu?

BJ: Ah aku sebenarnya males ngomongin agama sama orang-orang Indonesia. Lha para penggiat bahasa pemeluk kitab KBBI aja salah kaprah gitu mengartikan agama.

GG: Eh?

BJ: Agama itu bahasa sansekerta arti aslinya peraturan hubungan timbal balik antara raja dan rakyatnya. Kalau yang hubungannya dengan dewa-dewa dalam hal ini Tuhan itu sebenarnya disebut igama. Sementara untuk mengatur hubungan manusia disebut ugama.

GG: Berarti gama itu bahasa sansekerta artinya hubungan. Kalau begitu senggama artinya hubungan badan?

BJ: Hush!

GG: Ampun Mbah.

BJ: Intinya, agama ini masalah keyakinan. Begitu juga dengan ritual dan klenik, jangan menyalahkannya karena menurutmu nggak logis.

GG: Iya mbah. Kalau distatistikin sih memang nggak nalar.

BJ: Hey! Anak kemarin sore! Kamu tahu, primbon, zodiak, hingga ritual-ritual lainnya itu semua dari statistik. (maaf terpotong halaman, kasian yang nyekrol, klik aja)

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana