GantiGol

Rivalitas Statistik di Kompetisi Kelas Dua

sumber gambar:
Sebarkanlah:

Sepakbola memang butuh kelas untuk klasifikasi dalam ranah berkompetisi. Tapi cinta di sepakbola, tak akan pernah mengenal kasta. Seperti yang ditunjukkan para relawan penghitung, penganalisa berbasis statistik dari tim-tim di kompetisi ‘kelas dua’ ini.

Kecintaan PSS Stats dan PSIM Stats kepada sepakbola, klub dan tentu saja statistik, membuat mereka rela bersusah payah melakukan ini semua. Sudi menjadi relawan sejati, demi berkontribusi nyata pada tim kebanggaan, tanpa sedikitpun memikirkan uang sebagai imbalan.

PSS Stats 
Geliat statistik yang kemudian dianalisa sebagai sebuah pertimbangan taktik di pertandingan mulai merebak di dunia sejak lima tahun terakhir. Indonesia pun tak ketinggalan terkena arus tersebut. Mulai Timnas hingga ke klub-klub papan atas dari divisi teratas mulai menggunakannya. Jasa berbayar tentu saja.

Tim-tim divisi kedua? Wah boro-boro mikir begituan, mereka lebih banyak berkonsentrasi bagaimana keluar dari lilitan gaji pemain yang tak terlunasi.

Sadar bahwa sepakbola terus berkembang dengan penggunaan statistik, segelintir fans PSS Sleman yang dimotori Aand Andrean dan Noval Aziz merasa tim kebanggaannya tak boleh tertinggal. Pada 2013 silam, mereka pun mulai bergerak. Statistik dipilih sebagai bentuk kontribusi nyata mereka kepada PSS, sang klub kebanggaan.

Injeksi halus diterapkan oleh mereka untuk mengenalkan statistik. Mereka tak langsung muncul dengan angka-angka yang kadang malah membutakan itu. Tulisan, analisa dan pengenalan statistik mulai mereka titipkan kepada media-media lokal setempat seperti, Curva Sud Magazine (sebuah majalah yang diterbitkan oleh salah satu kelompok suporter Laskar Sembada dan Brigata Curva Sud) hingga laman sleman-football.com.

Lambat laun, ketika statistik makin dikenal, PSS Stats pun makin menegaskan keberadaaannya.

Lika-liku menginjeksikan angka-angka statistik ke dalam PSS Sleman banyak mereka lalui. Pelatih tentunya tidak serta merta menerima begitu saja kehadiran mereka. Apalagi statistik merupakan hal yang baru di sepakbola Indonesia, apalagi di Sleman.

Dari pergantian lima pelatih Elang Jawa yang mengiringi perjalanan mereka, respon yang diterima pun berbeda-beda. Tak sedikit pelatih Indonesia yang masih bingung akan fungsi dari statistik itu.

Ada momen lucu sekaligus membuat mereka mengelus dada ketika PSS dinahkodai oleh pelatih Siswanto ‘Kancil’. Pelatih asal Blora ini ketika ditanyakan butuh statistik atau tidak, ia malah kebingungan. Pelatih yang juga mantan pemain PPSM Magelang itu malah mengira statistik tersebut adalah biodata dari para pemain. Haha.

Beruntung di eranya pelatih Seto Nurdiantoro saat ini, langkah mereka diapresiasi oleh jajaran staff pelatih, pemain maupun manajemen. Mantan pemain tim nasional itu sendiri ingin memiliki tim statistik di klub yang mulai berdiri pada tahun 1976 ini, sehingga dari pihak manajemen pun merangkul mereka untuk bersama-sama membangun tim kebanggan publik Sleman.

Sebenarnya sejak Piala Kemerdekaan tahun 2015, PSS Stats juga sudah berhasil membawa hasil analisis mereka untuk dipresentasikan kepada para pemain. Bahkan hingga sekarang, mereka bisa mempresentasikannya dihadapan pelatih.

Dengan keinginan pelatih dan welcome-nya manajemen, saat ini PSS Stats sudah sampai tahap tidak hanya menganalisis permainan PSS saja. Tetapi juga mereka sudah mulai scouting dan menganalisis permainan lawan-lawan Super Elja yang tergabung di grup 5 pada gelaran Indonesia Soccer Championship B ini.

Halaman
Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana