GantiGol

Sampai Kapan Terus Begini, Pak Polisi?

sumber gambar: Bola.net
Sebarkanlah:

Satu persatu suporter tewas terus bertambah di negeri ini. Bukan disebabkan perkelahian antar pendukung klub saja, beberapa kali terjadi karena ulah oknum pihak keamanan yang tersulut emosi. Emosi yang meninggi dan melupakan standar dan prosedural bagaimana mengamankannya. Tapi ada kesamaan di antara keduanya: tak pernah diusut tuntas..tas..tas..tas!

Jumat 13 Mei lalu, ketika Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 barulah berjalan tiga pekan, seorang Jakmania bernama Muhammad Fahreza menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.

Diduga, Reza tewas setelah menderita luka akibat penganiayaan usai menonton pertandingan Persija Jakarta melawan Persela Lamongan. Tudingan menguat ke pihak kepolisian sebagai pelaku penganiayaan tersebut. Pasalnya sempat terjadi bentrokan antara Jakmania dengan pihak kepolisian di kompleks Gelora Bung Karno usai laga tersebut.

Meski dari video di atas terlihat jelas ada bentrokan, pihak kepolisian belum mengklaim bahwa mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab. Malah beberapa isu kemudian berkembang (atau sengaja dikembangkan) dan meluas. Mulai Reza tewas karena kecelakaan hingga usaha keluarga untuk mengklaim asuransi. Tragis.

Tapi, sebagai suporter, kita hanya ingin kasus ini tidak turut menguap seperti yang sudah-sudah. Polisi emosi, bertindak brutal, lupa aturan, dan ada korban tewas dari suporter, kemudian.. cling.. kasusnya hilang begitu saja. Sengaja dilupakan dan terlupakan.

Sekarang saja, kasus Reza nyaris tak terdengar. Tertutupi pemberitaan aksi suporter PS TNI di Gresik dan kabar kelompok 87 yang menginginkan KLB. Nyawa Reza terhitung tak penting lagi untuk terus diberitakan dan diselidiki.

Kita sebagai suporter Indonesia, sudah cukup banyak makan asam, garam, hingga pare dengan kasus-kasus tewasnya suporter seperti ini. Tak ada gula atau yang manis-manis lainnya. Sangat hapal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena terbentur dengan hukum yang dimiliki penegak hukum.

Mari kita mengingat-ingat kembali kasus yang tak jauh beda dengan apa yang menimpa Reza

Pada 2014 lalu, seorang Pasoepati bernama Joko Riyanto, tewas di Stadion Manahan. Kematiannya pun masih menyisakan tanya hingga kini.

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana