GantiGol

Satria Kartika untuk Indonesia

sumber gambar: PSSI
Sebarkanlah:

Dua penjaga gawang, dua cedera, dua pertandingan, dua pergantian, dua cleansheet, demi satu Indonesia.

Kalimat di atas adalah gambaran dari Kartika Ajie dan Satria Tama pada dua laga babak penyisihan di SEA Games 2017. Melawan Timor Leste dan Vietnam, dua kiper ini sama-sama turun bergantian mengawal gawang Indonesia dari kebobolan.

Kartika yang sejak laga awal lebih kerap dipasang sebagai penjaga gawang utama mendapatkan cedera pada laga melawan Timor Leste. Satria kemudian masuk menggantikannya pada menit ke-67.

Di laga yang berkesudahan 0-0 ini, Kartika sukses melakukan 2 saves, 1 punch, dan 1 cross claimed. Sementara Satria dengan 23 menit penampilan sisanya hanya melakukan 1 penyelamatan karena Timor Leste salah tempat memainkan cabang olahraga: karate di lapangan bola!

Cedera Kartika itu membuat Satria kemudian merasakan bagaimana turun sejak menit awal pada laga melawan tim kuat Vietnam.

Sebuah tantangan besar yang langsung dijawab Satria dengan 5 kali saves, 2 tinjuan untuk menghalau bola yang datang, serta 2 kali memotong umpan silang Vietnam. Satria sibuk sekali saat itu karena Garuda Muda dipaksa bertahan total.

Penyelamatan demi penyelamatan gemilang yang dilakukan Satria kemudian harus terhenti pada menit ke-67.

(Entah takdir atau kebetulan, keluar masuknya Kartika-Satria dan sebaliknya selalu terjadi di menit ke-67)

Cedera kali ini memaksa Satria berhenti bertugas dan memecahkan tangisnya. Lalu, Kartika yang baru pulih dari cedera di laga sebelumnya, mau tak mau dimasukkan. Sebab tak ada kiper lain yang dibawa dalam kuota 21 pemain tersebut.

Kartika tampil seperti melupakan sakit karena cederanya di laga sebelumnya. Ia juga mungkin melupakan bahwa Timnas bermain dengan 10 orang saja saat itu. Yang kita tahu, mata tajamnya fokus kepada setiap bola yang datang.

Seperti yang terjadi saat injury time. Fokusnya Kartika sukses menepis tendangan pemain Vietnam sehingga membentur mistar dan menyelamatkan gawang Indonesia dari kekalahan. Penyelamatan yang kita rasa mampu menyeka air mata Satria di pinggir lapangan.


Terlepas dari statistik dan segala kebetulan di atas, kedua pemuda ini sudah memberi pelajaran kepada kita. Mereka mampu melupakan ego masing-masing -siapa cadangan siapa kiper utama, siapa kesatu siapa kedua-- demi satu nama, satu bendera, satu logo Garuda di dada, satu Indonesia.***


Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Gantistats Sepakbola bukan matematika, tapi sepakbola butuh matematika. Demikian.

Menurut Ngana