GantiGol

Sedikit Kekeliruan Jafri Sastra yang Jadi Petaka

sumber gambar: Persib.co.id
Sebarkanlah:

Kartu merah yang menimpa Ricardo Salampessy memang boleh dibilang salah satu faktor kekalahan Persipura Jayapura 0-2 dari tamunya Persib Bandung, Kamis 21 Juli kemarin. Tapi kalau dianalisa sedikit lebih dalam, sebenarnya itu bukanlah faktor utama kekalahan tim berjuluk Mutiara Hitam itu. Yang utama adalah: kekeliruan Jafri Sastra dalam merotasi pemainnya.

Diwarnainya kartu merah pada laga tersebut membuat pertandingan ini mirip dengan laga final ISL 2014. Pada laga yang berlangsung di Palembang itu, Persipura juga bermain 10 orang saat mengawali babak kedua setelah Bio Paulin diusir karena kartu kuning kedua sebelum jeda.

Namun di final ISL 2014 itu, meski hanya 10 pemain, Persipura masih mendominasi sepanjang 45 menit babak kedua. Sempat tertinggal, Boaz Solossa mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 hingga waktu normal usai sebelum kalah melalui adu penalti.

Pun begitu di laga ISC 2016 kali ini. Persipura masih sanggup mengurung pertahanan PERSIB selama 15 menit awal babak kedua. Ditariknya James Koko Lomell oleh Jafri Sastra untuk digantikan oleh Dominggus Fakdawer sebagai pengisi bek tengah yang ditinggalkan Ricardo adalah pilihan cukup tepat. Jafri ingin ada keamanan di belakang sebelum mencari kenyamanan dalam menyerang.

Kalah jumlah pemain bukan lah sebuah masalah besar bagi Persipura. Skema 4-3-3 yang rusak dan coba dibenahi menjadi 4-2-3 masih mampu memberikan perlawanan. Hal itu dapat terlihat dari grafik serangan mereka selama 15 menit babak kedua ini.

Dari grafik di atas dapat terlihat intensitas serangan Persipura pada menit 45-60. Mereka mendominasi di daerah sepertiga akhir pertahanan Maung Bandung. Total lima kali tendangan sudut selama 15 menit cukup menjadi bukti. Belum lagi empat tembakan yang dihasilkan. Ya, meski gagal mencetak gol, Persipura mampu mengurung PERSIB di sepertiga babak kedua ini.

Namun, pada pergantian pemain keduanya lah Jafri membawa Persipura pada petaka. Pelatih asal Padang ini tak sabar untuk segera mendapatkan gol penyama kedudukan dan memasukkan Thiago Fernandes sebagai pengganti M Tahir. Sebuah pergantian yang malah mengendurkan dominasi serangan Persipura.

Dari gambar di atas dapat terlihat kalau mereka minim peluang karena kesulitan mengalirkan bola ke depan melalui umpan-umpan pendek cepat. Persipura lebih memaksakan umpan-umpan panjang. Dan, parahnya, Thiago lah penghasil dari sebagian besar umpan-umpan panjang yang gagal tersebut.

Umpan-umpan panjang nan gagal itu lah yang membuat Persib leluasa melancarkan serangan balik. Hingga akhirnya, gol Samsul Arif lahir dan menjadikan corengan hitam di wajah Persipura. Kalah 0-2 di kandang sendiri.

Adalah masih mungkin dan bisa saja Persipura akan tetap menyerang dan mendominasi andai M Tahir tak diganti dan diberi instruksi untuk berperan menjadi playmaker. Toh, ia sebenarnya cukup mumpuni untuk menjadi central midfielder. Peran ‘Nomor 10’ juga bisa terlihat dari pemain muda yang kerap berposisi winger ini dengan arah umpan-umpan pendeknya yang lebih banyak berhasil.

Namun, kita tak serta merta harus menyalahkan Jafri Sastra. Toh sebenarnya ia tengah kehabisan stok gelandang karena Imanuel Wanggai cedera dan Nelson Alom terkena larangan tampil. Sementara playmaker mereka sebelumnya, Robertino Pugliara, kini malah berada di kubu lawan.

Pekerjaan Rumah Jafri kini mau tak mau harus segera mencari atau memfungsikan pemainnya sebagai playmaker. Mencari peran si ‘Nomor 10’, bukan nomor punggung 10 yang dikenakan James Koko Lomell.

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Gantistats Sepakbola bukan matematika, tapi sepakbola butuh matematika. Demikian.

Menurut Ngana