GantiGol

Sekian dan Terimakasih, Riedl

sumber gambar: Getty Images
Sebarkanlah:

"Cukup satu kali kehilangan tongkat, cukup satu kali. Jangan dua kali kesalahan yang sama, jangan dua kali". Lirik itu digunakan Kak Rhoma Irama sebagai pembuka dalam lagu Kehilangan Tongkat. Dan sekarang kami gunakan untuk membuka tulisan mengenai Alfred Riedl ini.

Pelatih asal Austria ini sebenarnya sudah melewati batas kesabaran, yang katanya tiga kali itu. Ia sudah tiga kali keluar masuk menjadi pelatih Tim Nasional Indonesia (Timnas).

Dibawa Iman Arief pada pengujung rezim Nurdin Halid 2010, Riedl tersapu juga oleh program bersih-bersih PSSI di bawah Djohar Arifin Husein pada 2011. Kala itu, Riedl yang sempat menangani Timnas di Piala AFF 2010 dipecat karena ia dianggap tak pernah terikat kontrak dengan PSSI secara organisasi dan hanya menjalin kesepakatan dengan Iman Arief dan Wakil Ketua Umum PSSI, Nirwan Bakrie.

Entah merasa tak enak hati dengannya atau ada perjanjian lainnya, Riedl berkali-kali diupayakan kembali menjadi pelatih Timnas. Dalam perang dingin dan konflik dualisme PSSI, Riedl sempat diangkat menjadi pelatih Timnas versi KPSI (Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia) untuk berjibaku menjadi wakil Indonesia di Piala AFF 2012. Ujung-ujungnya, Firman Utina dkk tak ke AFF dan hanya melawan tim gereja di Australia.

Upaya mengembalikan Riedl ke kursi Timnas akhirnya terwujud ketika konflik PSSI (katanya) berakhir damai pada 2014. Riedl menukangi Timnas untuk Piala AFF 2014 yang berakhir di fase grup. Damai yang hanya katanya itu menyisakan dendam. Konflik terjadi lagi dan buntut sanksi FIFA, Riedl kembali terdepak.

Pasca disanksi FIFA, Riedl kembali untuk ketiga kalinya menjadi pelatih Timnas untuk Piala AFF 2016. Dan, sama-sama seperti sebelumnya,  lagi-lagi gagal, Indonesia hanya mampu dibawa ke final.

Batas kesabaran sudah terlewati, tiga kali keluar masuk, tiga kali di AFF, tanpa prestasi, ya masak sih Riedl lagi, Riedl lagi?

Arah untuk Riedl kembali menangani Timnas sendiri sudah mulai terbaca. Sang asisten, Wolfgang Pikal, membeberkan bahwa Riedl yang pada 2017 nanti berusia 68 itu sendiri sepertinya belum mau berhenti menangani tim Garuda Merah Putih untuk dua tahun ke depan dan mulai meraba-raba SEA Games 2016.

"Alfred Riedl mengatakan kalau ada tawaran bagus, dia mungkin mau diperpanjang. Dengan syarat, kontraknya dua tahun. Mayoritas pemain muda bisa digunakan di SEA Games," kata Pikal. 

Ya Riedl masih ingin kembali menangani Timnas, sodara-sodara. Hasil nyaris saat melawan Thailand lah penyebabnya. “Akan menarik bagi saya bila bisa membangun tim yang lebih tangguh untuk menantang Thailand dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

Lhoh, eh? Bukannya Riedl sendiri sempat mengutarakan keinginan pensiun usai Piala AFF 2016 kepada wartawan di Hotel Aston Lake, Sentul, Bogor, Jumat (2/12/2016) lalu. "Keputusannya belum 100 persen, tapi sepertinya saya akan resign. Saya saat ini sudah berusia 67 tahun," kata Riedl. 

Ah tapi ingat, sudah tiga kali. Melebihi batas kesabaran dan kata Kak Rhoma tadi. Jemu lah kalau Riedl melulu. Saatnya pelatih lain, mau lokal atau asing, yang memberi sentuhan baru untuk prestasi sepakbola Indonesia ini.

Toh kalaupun dibedah secara statistik, Timnas di bawah asuhan Riedl cenderung menurun.

Dilihat dari infografik di atas, persentase kemenangan dan produktifitas gol di Piala AFF, Timnas di bawah Riedl terus menurun. Sementara kecakapan seorang pelatih jika ditilik dari menciptakan gol di tiap babak juga mengalami penurunan.

Gol babak pertama, yang dapat diartikan sebagai kecakapan pelatih dalam melakukan persiapan, terlihat terus menurun. Riedl minim persiapan. Sedangkan memasukkan gol padababak kedua, sebagai penanda seorang pelatih bisa membaca permainan lawan di babak pertama lalu mengubah taktik melalui instruksi ruang ganti, juga mengalami penurunan.

Nahasnya, peningkatan tim asuhan Riedl malah di urusan kemasukan. Pertahanan merapuh beriringan dengan usia sang pelatih.

Sudah tiga kali diberi kesempatan serta performa terus menurun, maka dengan iringan lagu Elpamas, Pak Tua, ada baiknya kita ucapkan, "Sekian dan Terimakasih, Riedl!".

Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana