GantiGol

Selamat Jalan AK, Cleansheet-mu Abadi!

sumber gambar: Wearemania
Sebarkanlah:

Achmad Kurniawan (AK) akhirnya meninggalkan kita semua terlebih dahulu. Ia dipanggil Yang Maha Kuasa, Selasa sore 10 Januari 2017.

Sepakbola Indonesia kehilangan, tentu saja. Karena apa yang pernah ditorehkannya di lapangan sudah menjadi hiburan tersendiri. Kehilangan ini bukan milik Arema semata.

Kita tak akan melihat lagi gesture menghibur darinya; mendekap bola erat dengan tiarap dan matanya menyapu kiri-kanan penuh kewaspadaan, atau gesture yang sudah menjadi 'AK Signature'; menaikkan satu kaki seolah akan menendang lawan meski bola sudah aman dalam dekapannya.

Gerak tubuhnya itu mungkin hanya akan jadi cerita dalam lembaran kenangan yang akan muncul di benak kita setiap menonton Arema. Gesture yang malah membanding-bandingkan penjaga gawang berikutnya, Kurnia Meiga Hermansyah, yang merupakan adik kandungnya, misalnya. "Wah kurang AK nih" atau "Kurang Malangan"!

"Malangan". Meskipun bukan orang Malang asli, kata ini kerap disematkan ke kiper yang dibawa Benny Dollo (Bendol) bersama Anthony Jamal Ballah dalam eksodus kedua Persita Tangerang ke Malang itu. Tak lain karena penampilan AK yang nyentrik, bandel, selengekan, atau kalau orang Malang bilang "cengel".

Gesture khasnya membuat ia diterima dengan baik oleh Aremania. Skuat Arema 2006 makin kental dengan 'Malangan' yang cenderung keras dengan kehadiran AK. Ia melengkapi kerasnya Singo Edan yang dipimpin barisan tukang jagal seperti I Putu Gede dan Alexander Pulalo.

AK  bahkan menjadi idola baru di Aremania dan Aremanita pada musim 2006. Tak sedikit yang menjadikan AK sebagai inspirasi mulai dalam kehidupan bersuporter hingga dalam tugas mengarang sekolah.

Kata "Malangan" ini juga yang mengingatkan saya dengan nama AK dalam fragmen obrolan di sebuah warung kopi di Malang, sehari sebelum final Piala Indonesia 2006. Final kedua Arema di event yang punya official name sponsor, Copa Dji Sam Soe.

"Sing sip iki lek mene kipere AK sing dipasang Bendol. Maine Malangan. Sak nomer thok, juara maneh iki (Bagusnya kalau kipernya AK yang dipasang Bendol. Gaya mainnya Malangan. Pasti, juara lagi ini)," ujar salah satu pelanggan warung kopi usai membaca koran dalam genggamannya.

Saya yang memang doyan bola pun ikut nimbrung dan menimpali, "Koyoke ngono Bes. Koyok final tahun wingi lah. Taktike Bendol wes iso kebedek (Sepertinya begitu, Pak. Kayak final tahun kemarin lah. Bendol sudah ketebak taktiknya)".

Memang, AK saat itu masih kiper kedua di bawah bayang-bayang Kurnia Sandy. Laga sebelum final, tepatnya leg kedua semifinal melawan PSMS, AK bahkan diparkir Bendol. AK belum mendapatkan jaminan tempat utama di skuat Arema pada tahun pertamanya itu.

Namun taktik Bendol di final 2005 menjadi pedoman. Kala itu ia lebih menurunkan kiper cadangan, Iskandar Silas Ohe, dalam partai final. Entah Bendol tak percaya dengan mental Kurnia Sandy atau sengaja membuat panik tim lawan yang rata-rata sudah mengantongi kelemahan kiper utamanya. 

Tak heran banyak yang yakin kalau Bendol akan menerapkan strategi yang sama di final yang berlangsung 16  September 2006 di Gelora Delta Sidoarjo kali ini, termasuk saya tadi. Dan, Bendol kembali menggunakan strategi yang sama, kiper kedua menjadi kiper partai final Arema. AK dipercaya sebagai penjaga gawang yang menahan gempuran Persipura Jayapura.

AK tampil cemerlang. Ia mencatatkan cleansheet di partai penting itu. Cleansheet yang abadi dalam sejarah Arema karena Singo Edan keluar menjadi juara untuk dua kali berturut-turut.

Tak hanya gesture khasnya yang akan dikenang dari seorang AK. Cleansheet demi cleansheet yang dicatatkannya pun akan abadi. Selain cleansheet pada final pertamanya bersama Arema, ia kembali mencatatkan cleansheet dalam tugas terakhirnya bersama Arema 2016 lalu. Meski gagal menang pada partai terakhir sekaligus penentuan ISC, perlu diingat gawang Arema sukses dijaganya dari kebobolan meski dihujani tujuh tendangan on target dari pemain Persib Bandung.

Selamat jalan AK, cleansheet-mu abadi!

Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana