GantiGol

Sepakbola dan Kebebasan dari Bob Marley

sumber gambar: Adrian Boot
Sebarkanlah:

Hampir semua tahu bahwa Bob Marley sangat mencintai sepakbola. Baik menonton ataupun memainkannya dinikmati dengan cara yang cukup berbeda dari biasanya.

Untuk menonton sepakbola melalui tayangan televisi, Bob tak akan sudi menghidupkan suara. Karena ia benci akan komentator yang sok pintar.

Pun juga memainkannya. Meski sempat bercita-cita menjadi pesepakbola profesional, Bob enggan memainkan sepakbola dengan penuh peraturan yang ada. Sebab, sepakbola menurutnya adalah ajang pamer skill dan kebebasan. Football is freedom.

Masih banyak fakta-fakta unik lainnya tentang Bob Marley yang akan dibeberkan demit jurnalis kesayangan kita, mBah Jalank, dalam wawancara dengan arwahnya. Ssst, siapa sangka, arwah Bob ternyata benci dengan orang Indonesia yang penuh salah kaprah tentangnya.

Hmmm.. Baiklah, berikut petikan wawancara antara mBah Jalank (BJ) dan Bob Marley (BM):

BJ: Woiyoo Bob. Apa kabar? (sambil manggut-manggut ala anak-anak rasta)

BM: Indonesia ya? (tersenyum sinis melihat mbah Jalank yang kali ini datang dengan dandanan blangkon dan keris)

BJ: Woiyoo

BM: Udah lah biasa aja. Aku nggak sreg sama orang Indonesia

BJ: (tersenyum getir) Lhoh eh lhoh eh.. Ada apa ini. Kenapa?

BM: Orang-orangmu itu sering salah kaprah denganku. Malesin.

BJ: Kok bisa?

BM: Banyak sih. Contoh utama ya laguku "No, Woman, No Cry". Orang Indonesia sukanya ngartiin lain, jadinya kayak gini “nggak ada wanita, nggak usah nangis”. Geblek dan ngeselin banget.

BJ: Hmm.

BM: Padahal aku jelas-jelas aku nyaranin ke cewe jangan menangis. Jangan. Wanita jangan menangis.

BJ: Iya juga sih. Tapi kan nggak semua, Bob? (mBah Jalank mencoba membela harkat dan harga diri bangsanya)

BM: Memang tak semua. Tapi sebagian besar gitu. Itu masih lagu. Belum anak-anak gimbal yang pake vespa dimodif panjang nggak karu-karuan. Kaleng bekas, ban bekas, semua barang-barang bekas jadi hiasan. Emang aku pernah ngajarin jadi rasta itu harus dandan ala rombengan? Camkan ini dan sampaikan pada bangsamu: Rasta, reggae itu BEBAS, B-E-B-A-S. Bukan BEKAS!

BJ: Waduh-waduh. Maaf, Bob maaf.

Tapi aku datang ke sini mau tanya-tanya tentang bola lhoh Bob. (mbah Jalank nyodorin sebungkus kretek)

BM: (Sambil melirik menyelidik) Aceh bukan?

Halaman
Sebarkanlah:

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana