GantiGol

Serui, Ketidakadilan Sepakbola Indonesia Pada Papua

sumber gambar: GANTIGOL
Sebarkanlah:

“Papua masih dan akan selalu tetap Indonesia,” begitu gumamku melihat pertandingan sepakbola yang berlangsung di lapangan Alun-Alun Kota Serui awal bulan Agustus lalu.

Deretan bendera merah-putih yang dijual di sisi alun-alun membuatku yakin untuk tersenyum dan bergumam demikian. Segala prasangka yang kudapat dari berita dan kabar tentang masih adanya pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di pedalaman, musnah seketika. Karena ke-Indonesia-an yang terpampang nyata.

Prasangka tentang OPM di Papua itu sempat menghebat di benak ketika perjalanan berangkat menuju ke kota bagian dari Kepulauan Yapen itu. Aku sendiri juga seperti membenarkan apa yang pernah diutarakan Bernarda Meteray dalam bukunya ‘Nasionalisme Ganda Orang Papua’, bahwa nasionalisme ambigu seperti di Papua itu memang biasa terjadi pada rakyat dan bangsa yang sedang terjajah.

Dan, Papua, meski tak kelihatan jelas terjajah, menurutku tetaplah ada ketidakadilan yang diberikan dari bangsa ini untuk mereka. Kekayaan alamnya yang dikuras tak sebanding dengan kenyamanan, fasilitas, harga bahan pokok, telekomunikasi dan sebagainya, yang diberikan untuk Papua. Masih lah jauh dengan kita yang ada di bagian barat Indonesia, terutama Jawa.

Melihat dari atas pesawat baling-baling kecil jenis DHC-6 Twin Otter yang membawaku terbang dari Biak ke Serui, aku sempat teringat lagu ‘Suara Kemiskinan’ bikinan mendiang Franky Sahilatua. 

Kami tidur di atas emas
Berenang di atas minyak
Tapi bukan kami punya
semua anugerah itu
Kami cuma berdagang buah-buah pinang...

Lagu dengan lirik yang tragis. Aku juga pernah menyaksikan Glenn Fredly menitikkan air mata saat mendendangkannya. Karena memang begitulah kenyataanya. Papua tidak miskin, tapi dimiskinkan. Adalah pantas jika mereka selalu merasa tengah dijajah dan mencoba berontak.

Kekhawatiran akan OPM-OPMan itu makin menghebat manakala akan mendarat di bandara Stevanus Rumbewas . Sepanjang mata membentang di area bandara, tak kutemui rumah-rumah penduduk. Hanya belantara rimba hijau, dengan goresan warna coklat yang kutebak sebagai jalan bercampur lumpur.

“Sekitar satu jam lagi lah,” jawab sopir bus Damri ukuran kecil ketika kutanya kapan aku bisa tiba di kota. Aku makin merasa ngeri, berarti selama itu aku akan berada dalam bus tua yang membelah rimba dengan jalanan berlumpur. Sampai pada detik ini, bayangan baku tembak dan segala hal tentang pemberontakan coba kutepiskan jauh-jauh.

“Tapi, aman kan?” tanyaku pada si sopir (belakangan kuketahui namanya Adrian ini).

Halaman
Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Rikma Peksi Tumbuh sebagai penyembuh. Terhimpit namun tak merasa terjepit. Bola itu bundar , ah itu dulu. Jaman sekarang, bola itu bandar.

Menurut Ngana