GantiGol

Transisi yang Menjadi Masalah Arema

sumber gambar: PT GTS
Sebarkanlah:

Transisi sepertinya sudah bermakna lain bagi Arema Cronus. Buat tim berjuluk Singo Edan, kata ini bisa saja bermakna: masalah, persoalan, tantangan, serta apapun itu yang harus diselesaikan dan dihadapi.

Di luar lapangan, berhentinya liga negeri ini tak lain karena Arema disebut sebagai salah dua (bersama Persebaya Surabaya) yang bermasalah dalam urusan legalitas. Yang mempermasalahkan mereka adalah sebuah tim dengan nama lengkap: Tim Transisi. (Ehem, kemane aje mereka sekarang).

Sementara untuk urusan di dalam lapangan, transisi juga menjadi masalah kenapa akhir-akhir ini permainan mereka cenderung meredup. Ada dua transisi yang gagal diracik oleh pelatih Milomir Seslija.

Yang pertama adalah transisi dari pemain cadangan ke pemain inti saat badai cedera melanda. Beberapa pemain yang biasa menjadi penghuni bench gagal menggantikan fungsi dan peran dari Srdan Lopicic dan Hendro Siswanto, atau mungkin Ahmad Bustomi dan Ahmad Naufandani di lapangan.

Sedangkan yang kedua adalah transisi dari menyerang ke bertahan. Lalu, inilah yang akan kita bahas lebih lanjut di tulisan ini.

Transisi memang satu hal yang paling krusial dalam sepakbola dan kerap menjadi masalah tersendiri. Karena pada fase ini umumnya permainan tim sedang dalam keadaan yang tidak terorganisir. Dan cara menyerang Arema malah menyulitkan mereka saat melakukan transisi ke bertahan.

Sebagaimana lazimnya dan selaras dengan prinsip dasar permainan sepakbola dalam menyerang adalah bermain melebar dengan memanfaatkan luas lapangan. Pemahaman dasar ini tentu sudah pasti dimiliki kesebelasan manapun di kolong langit. Hanya, yang menjadi pembeda ialah cara tim itu untuk dapat bermain nyaman ketika menyerang dan seketika dengan mudahnya kembali bertahan.

Mari kita coba ambil contoh pertandingan di mana Arema menelan kekalahannya karena gagal dalam melakukan transisi.

Yang terbaru adalah laga menjamu Pusamania Borneo FC di Kanjuruhan. Singo Edan kesulitan mengembangkan permainan karena fase bluid up serangan malah menyulitkan diri mereka sendiri untuk bertahan. Arema cenderung tak pernah mengubah bentuk skema mereka saat hendak membangun serangan dan ketika bertahan, tetap 4-2-3-1. Meskipun dengan awalan menyerang sesuai dengan prinsip dasar tadi, melebarkan diri.

Demi mempermudah transisi dalam skema yang tetap itu dan agar pemain bertahannya selalu siap, Milo cenderung menginstruksikan long ball. Cara ini yang kurang tepat ketika melawan PBFC yang kerap bermain dengan blok pertahanan rendah. Long ball Arema menjadi tak berarti dan akan lebih cepat kehilangan bola.

Arema juga kemudian gagap dalam transisi ke bertahan. PBFC yang menguasai bola dengan cepat membangun serangan di saat pemain Arema masih dalam bentuk permainan melebar. Pemain depan Arema jadi tak mampu menghambat aliran bola ke tengah. Jika sudah seperti ini tentu memudahkan lawan untuk melakukan serangan balik.

Gambar di atas adalah situasi di mana Arema ketika melakukan build up. Pada situasi ini akses bola Arema ke arah tengah tertutup, aliran bola mereka terhambat sejak di fase pertama. Sayangnya mereka tak berupaya untuk mendapatkan akses ke tengah malah mengandalkan bola-bola panjang. Akibatnya, ketika bola long pass tak tepat sasaran lawan mudah masuk ke pintu pertahanan Arema yang hanya menyisakan dua DM. Empat pemain di barisan depan mereka sering tertinggal jauh dan tak bisa melindungi area tengah.
Hal ini semakin diperkuat dengan jumlah long pass arema yang kebanyakan tak tepat sasaran. 
Terlihat dari 35 kali percobaan arema melakukan long pass sejak di daerah sepertiga awal atau fase pertama serangan. Mereka hanya meraih 9 umpan berhasil. 

Long ball masih kerap dilakukan Arema dan persentase kesuksesannya saat lawan PS TNI ini sangat buruk. Hanya sekitar 50%.
Jadi transisi lah yang harus terus diperbaiki Milo dan mengurangi long ball agar tak terkesan ‘Indonesia banget’. Ya, transisi harus dicermati, sebagai antisipasi jika Tim Transisi sudah tak ada lagi. Ehem.

Sebarkanlah:

Penulis

Gantistats Sepakbola bukan matematika, tapi sepakbola butuh matematika. Demikian.

Menurut Ngana