GantiGol

Yanto Basna di Antara Bek Kanan dan Bek Tengah

sumber gambar: GANTIGOL
Sebarkanlah:

Versatille player atau pemain serba bisa memang menguntungkan, terutama untuk sebuah turnamen yang jumlah pemainnya dibatasi. Di sebuah kompetisi juga berguna sebagai antisipasi jika terserang badai cedera atau akumulasi kartu. Tapi kalau  memaksakan seorang pemain untuk bermain di bukan posisinya dan berharap kelak ia menjadi versatille? Beresiko besar kah? Sukses kah?

Itu yang akan kita coba bahas kali ini, tepatnya Rudolof Yanto Basna di tim Persib Bandung.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Basna sejatinya adalah seorang center back. Ia pernah gemilang di posisi itu dan turut mengantarkan Mitra Kukar menjuarai Piala Jenderal Sudirman 2015. Di ajang itu pula ia keluar sebagai pemain terbaik. Pemain terbaik berasal dari posisi bek, jaminan mutu! Sebuah alasan kenapa Persib Bandung kemudian merekrutnya.

Namun di Bandung, kegemilangannya sebagai bek tengah terbaik meredup. Dejan Antonic yang kebingungan karena bek tengah lainnya juga bagus macam Vladimir Vujovic, Purwaka Yudhi, hingga kesayangannya: Hermawan, membuat Basna dikorbankan. Alih-alih bereksperimen dengan formasi tiga bek, Dejan malah memaksakan Basna bermain sebagai bek kanan di turnamen Piala Bhayangkara lalu.

Sukses? Kalau takarannya prestasi, tentu tidak bisa dianggap sukses. Persib gagal di final dan kalah dari Arema, dan saat partai perebutan juara itu Basna tampil sebagai bek kanan.

Meski begitu, Dejan tetap bersikukuh bahwa Basna harus terus dicoba sebagai bek kanan. Basna tetap dipasang sebagai bek kanan di ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 ini.

Pemain muda asal Papua itu sendiri kerap berkomentar bahwa ia tak nyaman bermain sebagai full back di kanan yang juga dituntut untuk membantu penyerangan, serta banyak lari mondar-mandir di sisi sayap. Namun, Dejan tetap memaksakannya.

Lalu, Dejan memutuskan mundur setelah kekalahan memalukan 1-4 dari Bhayangkara Surabaya United (pertandingan di mana Basna juga bermain sebagai bek kanan, sementara Hermawan juga turun namun dipasang sebagai bek tengah). Sang caretaker Herrrie Setyawan ternyata meneruskan eksperiman pelatih pendahulunya itu. Basna tetap dipasang sebagai bek kanan dalam laga melawan Gresik United. Hasilnya: PERSIB kembali kebobolan dan kalah 1-2.

‘Hidayah’ bagi Basna akhirnya datang juga. Djadjang Nurdjaman kemudian masuk sebagai pelatih Maung Bandung dan berjanji mengembalikan Basna ke posisinya.

Dengan janji itu, Djanur terhitung jeli karena sebenarnya ia adalah pelatih yang kerap memposisikan seorang pemain di luar posisi asilnya. Sebut saja ahmad Jufriyanto dari center back jadi gelandang bertahan, Tony Sucipto yang bek kanan jadi center back dan gelandang bertahan, hingga M Agung Pribadi yang bisa di posisi kedua pemain tersebut di atas. Namun untuk Basna, Djanur tidak mau memaksakannya.

Janji Djanur akhirnya dipenuhi pada laga sarat gengsi melawan Persija Jakarta. Basna turun sebagai bek tengah sejak menit pertama. Meski gagal menang, namun Maung Bandung meraih cleaansheet di laga itu karena Basna juga tampil mengesankan.

Dari grafik Basna di atas terlihat bahwa ia begitu nyaman bermain sebagai bek tengah. Satu tembakan dalam situasi open play adalah bukti kalau ia bermain lepas. Atribut pertahanan pun juga mendukung betapa nyamannya dia.

Delapan kali tekel mampu ia ciptakan. Empat tekel gagal juga tak semuanya karena ia salah dalam merebut bola, dua tekel gagal yang ia lakukan di antaranya karena bola keluar lapangan sementara penguasaan bola masih milik lawan (Bung bisa memahami tekel gagal dan sukses di balik link ini). Namun, meski penguasaan bola tak berpindah dan dihitung sebagai tekel gagal, Basna terhitung sukses sebagai seorang bek dalam ranah menghentikan alur serangan lawan. Ia merusak skema permainan yang disusun Persija.

Halaman
Sebarkanlah:

Fanshop

Penulis

Gantistats Sepakbola bukan matematika, tapi sepakbola butuh matematika. Demikian.

Menurut Ngana