REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Adaptasi Lapangan di Antara Padatnya Pemukiman


Hamdani M pada 2021-07-28 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sebagai olahraga dunia, sepakbola memiliki standar aturan yang telah disepakati. Termasuk kesepakatan di dalamnya adalah soal lapangan pertandingan. Untuk sepakbola Usia 7-8 tahun, menggunakan lapangan dengan Panjang 36,57m X Lebar 27,43m. Sedangkan Usia 15-16 tahun, berukuran 91,44m X 54,86m. Sementara untuk tingkat senior, panjang antara 100-110m X lebar antara 64-75m. Ini aturan sepakbola resmi. Hal yang sama sering tidak berlaku untuk sepakbola yang tidak resmi. 

Meski lapangan sepakbola tidak selalu patuh pada aturan dasarnya, dalam hal luas dan lebarnya, namun ia selalu ditemukan dalam wajah yang sama, persegi panjang. Aneh bagi imajinasi kita, membayangkan lapangan sepakbola yang tidak dalam bentuk persegi panjang, bebas dan tanpa adanya hambatan.

Sulit bagi kita membayangkan jika dalam lapangan sepakbola persegi panjang di tengah-tengahnya terdapat penghalang. Bahkan sepakbola jalanan, imajinasi kita tetap mengarah pada satu bentuk yang sama, persegi panjang. Lapangan bukan dalam bentuk persegi panjang tidak pernah hadir dalam imajinasi kita tentang lapangan sepakbola.

Apa yang pernah kita imajinasikan soal lapangan sepakbola berbanding lurus dengan imajinasi orang-orang yang tinggal di kawasan padat penduduk nan kumuh, Khlong Toei, Thailand. Mereka tidak pernah terpikir soal lapangan sepakbola di antara tempat tinggal mereka karena tidak ada satupun kawasan kosong di antara mereka yang berbentuk persegi panjang. Dari sini, lapangan sepakbola terdengar mustahil bagi mereka. 

Karena mustahil mereka memiliki lapangan sepakbola, maka sepakbola bagi mereka hanya sebatas tontonan, bukan permainan yang mungkin mereka mainkan. Ini masalah bagi mereka, namun tak sepenuhnya mengganggu. Toh, selama ini mereka memang tidak terbiasa bermain sepakbola. Terlepas dari besarnya cinta mereka pada permainan negeri Ratu Elizabeth ini.


sumber foto: ballthai

Maklum saja, Khlong Toei adalah wajah lain dari Bangkok. Pemukiman kumuh terbesar di Bangkok ini merupakan kontradiksi dari lanskap kota yang terus tumbuh. Seiring dengan pertumbuhan kota, penduduk semakin padat, orang-orang yang bermukim di Khlong Toei pun semakin banyak. Lahan mereka telah penuh sesak oleh bangunan-bangunan tempat tinggal.

Tempat ini pada awalnya adalah tanah milik otoritas pelabuhan Thailand. Migrasi penduduk ke tempat ini pertama kali terjadi pada 1950-an. Mereka datang untuk mencari pekerjaan di ibu kota. Dengan sistem sewa tanah yang murah dari pemerintah kota saat itu, jadilah orang-orang ini menempati tempat yang hari ini disebut dengan Khlong Toei.

Pada tahun 1970-an, program sewa tanah ini dihapuskan. Hal ini menyusul pembangunan kota yang semakin pesat. Artinya, butuh lebih banyak tempat. Jadilah bangunan dan penghuni Khlong Toei semakin terdesak.    

Di tengah masalah ruang itu, lapangan sepakbola berlari semakin jauh dari imajinasi mereka. Lapangan sepakbola adalah sesuatu yang tidak mungkin mereka wujudkan.

Di tengah matinya imajinasi warga Khlong Toei soal lapangan sepakbola, muncul satu imajinasi liar dari “pengembang properti di Thailand”, menciptakan lapangan sepakbola di tengah-tengah daerah padat penduduk dengan bentuk lapangan seadanya dengan tanpa mengurasi keseruan serta nilai kompetisi sepakbola.

Konsep tentang seadanya pun segera menemui masalah. Apakah seadanya dalam kasus Khlong Toei berarti memperkecil ukuran lapangan namun tetap berbentuk persegi panjang, atau justru memanfaatkan selebar dan seluas-luasnya ruang kosong yang ada namun mengesampingkan bentuk persegi panjang.

Dua pilihan ini sama-sama memiliki masalah. Mempertahankan bentuk persegi panjang lapangan berarti akan mempersempit ruang gerak bagi pemain. Dalam lahan yang terbatas, ide ini mustahil diwujudkan. Sementara ide kedua menghadirkan masalah bagaimana tetap menciptakan keseruan pertandingan serta pembagian ruang yang adil dalam bentuk lapangan yang tidak ideal. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ide kedua dipilih untuk dieksekusi. Bentuk lapangan dibuat seadil mungkin bagi kedua tim yang sedang berlaga, meski dengan bentuknya yang tak lazim.

Di ruang yang penuh sesak oleh bangunan-bangunan tua dan semi permanen itu, tempat ideal harus segera ditemukan. Baru setelah itu berpikir tentang bentuk ideal lapangan, fair-play dan tidak menghilangkan semangat bermain. Maka lahan kosong yang berisi sampah pun dilirik. Tempat itu dibersihkan, lapangan bola dibuat di bekas ruang kosong yang pada awalnya dianggap tak berguna itu.

 

Filosofi Pembuatan Lapangan di Khlong Toei

Pengembang properti Thailand tersebut percaya bahwa ruang publik akan turut memberikan perubahan kepada masyarakat di sekitarnya. Sebelumnya, di Khlong Toei tidak ada ruang publik yang bisa dinikmati warga sekitar. Tempat santai dan bermain mereka hanyalah di sela-sela gang sempit. Bahkan, salah seorang warga Khlong Toei mengaku tidak saling menyapa antar warga meskipun mereka hidup dalam satu flat yang sama.

Pengembang properti Thailand percaya keberhasilan menciptakan ruang publik untuk bermain bersama, mengekspresikan diri bersama, akan menumbuhkan semangat solidaritas di antara mereka.

Kuatnya solidaritas berarti memperkuat komunitas ini. “Anak-anak di sana harus mendapat fasilitas untuk mengekspresikan kreativitasnya. Tapi lingkungan mereka tidak memberikan itu” kata penggagas ide lapangan asimetris ini. Semua itu berangkat dari lapangan sepakbola. Lapangan yang akan mengubah definisi mereka tentang arti tempat bermain. 

Terlepas dari itu, para pengembang properti ini yakin bahwa ada banyak sisi di pemukiman padat penduduk yang seringkali dianggap kumuh yang bisa dimanfaatkan lebih. Apa yang telah mereka lakukan pada penduduk Khlong Toei, mereka harap bisa ditiru oleh komunitas-komunitas lain yang ingin mengembangkan ruang publik dan olahraga. Ini bukan hal yang mustahil.

Ide dan aksi mereka ini mendapat banyak sambutan positif. Dari luar komunitas Khlong Toei, AP Thailand mendapat penghargaan dari festival kreativitas Cannes Lions.

Sementara itu dari masyarakat Khlong Toei, antusias warga segera terlihat. Anak-anak muda segera berbondong-bondong datang ke lapangan baru itu. “Awalnya saya kaget, bagaimana kami bisa bermain di lapangan yang seperti ini? Tapi lama kelamaan saya mulai menyukainya” kata warga setempat.

Sepakbola kini bukan hanya ada dalam layar kaca, dan mereka hanya berdiri sebagai penontonnya. Adanya lapangan ini membuat sepakbola di Khlong Toei menjelma jadi permainan yang mungkin mereka mainkan bersama. Tidak lama, budaya baru segera tercipta. Budaya sepakbola.


TAG: Lapangan Thailand Laga






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI