REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Akar Masalah Fasisme dan Rasisme di Liga Italia


M. Bimo pada 2020-04-14 jam 12:00 PM


telegraph


Klub Italia selama ini dikenal punya basis suporter yang loyal. Para kelompok suporter yang di sana disebut tifosi ini selalu berteriak lantang di tribun. Menyanyikan chant dengan suara nyaring. Mengekspresikan kegembiraan, kesedihan dan kemarahan terhadap klub yang didukungnya.

Rasa cinta yang begitu besar terkadang membuat orang bertindak di luar kebiasaan atau bisa digolongkan ekstrem. Ini yang menjadi cikal bakal lahirnya kelompok ultras di barisan tribun sepak bola Italia yang dikenal sering terlibat kerusuhan. Berbagai tindakan kekerasan seperti tawuran antar suporter, rasisme dan fasisme pernah dilakukan oleh kelompok suporter ini.

Ultras tentu berbeda dengan tifosi. Dalam bahasa Italia, tifosi sendiri dasarnya kata umum untuk seseorang atau sekelompok penggemar atau fans. Tidak hanya sepak bola, namun tifosi juga dipakai pada penyebutan kata lain yang berhubungan dengan penggemar atau fans.

Sementara ultras dikenal sebagai kelompok suporter yang lebih ekstrem. Dukungan mereka juga diklaim lebih ekstrem dari sekadar tifosi biasa. Mereka bernyanyi sambil berdiri sepanjang pertandingan, sesekali mengibarkan bendera dan petasan yang terkadang malah dapat mengganggu jalannya pertandingan itu sendiri.

Namun tak dapat dipungkiri, sifat keras ultras ini banyak dipengaruhi oleh beberapa gerakan kelompok politik dan kelompok pembelot yang membawa paham neo-fasisme. Istilah neo-fasisme ini biasa ditunjukkan untuk sekelompok grup yang masih percaya dengan ideologi yang diajarkan oleh Benito Mussolini atau pemimpin fasisme macam Adolf Hitler.

Salah satu peristiwa yang mempengaruhi ideologi neo-fasisme masuk ke stadion Italia ketika bom di dalam koper meledak di Bologna pada 1980. Total 82 orang terbunuh pada pagi yang tragis itu, peristiwa yang menjadi tragedi terburuk Italia dalam sejarah kontemporer.

Atas kejadian ini, Partai Komunis Italia langsung mengkambing hitamkan kaum neo-fasisme tanpa banyak bukti. Alasannya tentu saja karena kelompok neo-fasisme ini punya ideologi anti-komunis. Peristiwa tewasnya Perdana Menteri Aldo Moro pada 1978 setelah diculik oleh kelompok ekstrem kiri, Brigate Rosse (Brigade Merah) juga jadi bukti karena nama kelompok itu diadopsi jadi salah satu kelompok suporter AC Milan. Kemudian peristiwa yang terjadi antara akhir 70-an dan awal 80-an itu dikenal sebagai Years of Lead.

Kelompok ekstremisme anti-komunis Italia terus membuat negara kacau. Ini jadi masalah serius bagi pemerintah untuk menangani segala macam kerusuhan yang terjadi di negara tersebut. Namun, para kelompok ini bukan semacam orang-orang yang mudah ditangkap. Mereka punya markas aman dan nyaman di stadion sepak bola yang ada di Italia.

Para kelompok neo-fasisme yang dibentuk pada tahun 1970-an sampai 1980-an menjadi gerakan yang memanifestasi masalah politik dan sosial ke dalam stadion sepak bola. Bahkan, peristiwa itu masih bisa kita saksikan di sepak bola Italia hingga hari ini.

Perselisihan politik meningkat di seluruh Eropa setelah keruntuhan ekonomi 2008, Italia berada di titik tengahnya. Stadion-stadionnya sekali lagi digunakan sebagai lahan subur untuk politisasi. Rasisme juga merajalela. Keributan antar suporter hampir tiap hari pecah, jadi lahan basah para media nasional dan internasional.

Selama Years of Lead, banyak remaja dan pemuda yang kehilangan kehidupan normal mereka. Di masa ini, mereka harus mencari jati diri untuk masa depan mereka sendiri. Stadion mulai menjadi pelarian para pemuda dari kerasnya situasi sosial di Italia yang carut marut. Stadion menjadi tempat para suporter untuk bersatu dan mengekspresikan hasrat, melampiaskan frustasi dan bahkan menyuarakan semangat politik mereka.

Ketegangan mulai membuat kelompok-kelompok suporter menyelaraskan hati dengan para kelompok atau juga partai politik. Beberapa kelompok suporter dimanfaatkan untuk menentang nilai-nilai demokrasi yang diabadikan usai Perang Dunia II. Hal ini membuat ultras makin agresif pergerakannya di luar stadion, bukan hanya perkara mendukung tim kesayangan. Membuat kekerasan menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri perlawanan mereka.

Ultras, istilah ini diciptakan oleh Dr. Alberto Testa, penulis Football, Fascism, and Fandom untuk menunjukkan kelompok-kelompok suporter yang ideologi politiknya adalah inti dari identitas mereka. Pada masa itu, mereka menjadi agresor politik yang lebih menghargai kesetiaan politik daripada klub.

Kelompok suporter AC Milan, Fossa dei Leoni (Lion's Den) adalah kelompok pertama yang menunjukkan unsur-unsur mentalitas ini. Mereka bergerak bersama dengan Brigate Rossonere (Brigade Merah dan Hitam) yang dibentuk pada 1975, nama mereka diadopsi dari kelompok yang menculik dan membunuh Perdana Menteri Aldo Moro.

Beberapa kelompok suporter jadi lebih agresif dan sering bertindak ekstrem. Sepak bola menjadi nomor dua, mereka terus menumpuk kekerasan yang dilakukan di luar stadion dan di kehidupan sosial masyarakat.

Lazio sudah memeluk paham neo-fasisme sejak kelompok suporternya pertama kali muncul pada tahun 1960-an. Bahkan di awal 2000-an, kapten mereka Paolo di Canio berteriak dan memberi hormat fasis terhadap Curva Nord, mengklaim bahwa ia adalah seorang fasis, tetapi bukan rasis.

Pada akhir 2017, kelompok suporter itu membagikan stiker Anne Frank sedang mengenakan jersey Roma. Kelompok itu menyatakan, "Mengejek dan menggoda bukanlah kejahatan." Kata-kata itu merupakan ungkapan anti-semitisme, suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk tindakan penganiayaan terhadap agama, etnik, maupun ras, secara terang-terangan yang meremehkan korban Holocaust dan juga peristiwa tragis itu sendiri.

Ultras Lazio lainnya, Irriducibili, punya sejarah menggunakan stadion untuk mengekspresikan ideologi mereka khususnya untuk isu rasisme dan diskriminasi. Pemimpin mereka, Fabrizio Piscitelli alias Diabolik yang dibunuh baru-baru ini, juga sering melakukan tindakan kekerasan bak seorang mafia.

Diabolik tumbuh di stadion selama Years of Lead sebagai seorang pejuang jalanan. Suatu waktu ia terpilih jadi capo ultras Irriducibili, kelompok ultras yang ia dirikan. Selama kepemimpinannya, Irriducibili menjadi kelompok suporter terkuat Lazio karena kesediannya untuk terlibat dalam kerusuhan. Salah satu kejadian yang terkenal adalah ketika beberapa "pemain" AS Roma digantung di Colosseum, yang mana otak pelakunya tentu saja Diabolik.

Hal ini terjadi setelah kemenangan Roma dalam pertandingan derby dengan Lazio, beberapa manekin dengan jersey Daniele De Rossi, Mohamed Salah dan Radja Nainggolan digantung di atas jembatan. Terpampang juga papan bertuliskan, "Sepotong nasihat tanpa maksud menyinggung... tidurlah dengan lampu menyala."

Kelompok kecil ultras bernama Boys yang lahir di tribun utara Stadion Olimpico, menyebarkan sikap neo-fasisme yang ternyata tumbuh di dalam diri kelompok Curva Sud AS Roma. Boys bisa menyebarkan ideologi itu lewat nyanyian, tabuhan drum dan megafon pada pertandingan tandang.

Hengkangnya kapten AS Roma saat itu, Carlo Ancelotti, menandakan terpecahnya kelompok ultras Roma Curva Sud. Salah satu pecahan kelompok, Fedayn, dikenal punya pergerakan sayap kiri. Ia mengadopsi pendekatan militan untuk kelompoknya hingga kini.

Salah satu kekerasan mereka yang jadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir adalah ketika suporter Liverpool, Sean Cox, mengalami koma sebelum semifinal Liga Champions yang mempertemukan AS Roma dan Liverpool pada 2018.

Kedua pria yang menyerang Cox berusia 20 tahunan. Mereka meninggalkan barisan pendukung AS Roma untuk membuat keributan. Simone Mastrelli, yang diyakini bukan salah satu dari dua orang yang menyerang Cox, kemudian menyerahkan diri dan mengaku bersalah. Ia dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara pada awal Februari 2020. Kejadian ini membuat Fedayn menjadi salah satu ultras paling ditakuti di Italia.

Suporter Hellas Verona juga punya sejarah soal politik ekstrem. Hellas Verona memiliki basis suporter dengan ideologi sayap kanan. Klub ini dengan cepat memperoleh jumlah suporter besar karena mewakili etos kelas pekerja kota. Tengkorak, Salib Celtic dan lambang sayap kanan lainnya menjadi hal yang lumrah ditemui di bendera dan banner di tribun.

Bentrok dengan suporter lain dan kerusuhan kontra polisi adalah hal biasa, juga dengan tindakan diskriminasi dan rasisme untuk teror terhadap pemain lawan. Pada 1982 misalnya, striker Cagliari, Peru Julio Cesar Uribe, dilempar pisang oleh suporter Hellas Verona saat bermain di Stadion Bentegodi.

Kemajuan jaman tak juga membuat pikiran jelek mereka ikut maju. Ultras Hellas Verona memulai 2020 dengan melakukan tindakan rasisme terhadap Mario Balotelli. Luca Castellini, capo ultras Verona dan anggota partai sayap kanan Forza Nuova, mengejek striker itu dengan nyanyian monyet dalam pertandingan antara Hellas Verona dan Brescia.

"Balotelli adalah orang Italia karena kewarganegaraannya, tetapi dia tidak pernah bisa sepenuhnya menjadi orang Italia. (Dia) hanya memikirkan itu di kepalanya sendiri," ujar Luca Castellini dalam sebuah siaran radio regional.

Dia kemudian dilarang memasuki stadion di Italia hingga 2030. Beberapa minggu kemudian, delapan kelompok suporter dilarang datang ke stadion setelah membawa topi dengan karikatur Hitler dan Verona. Usia mereka berkisar 21 tahun hingga 49 tahun. Ini menunjukkan bahwa generasi baru sayap kanan masih sangat banyak di stadion Italia.

Faktanya adalah rasisme dan kekerasan di dalam stadion Italia akan terus berlanjut selama Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) terus menolerir dan menghukum setengah hati pelakunya.

Beberapa perubahan telah diminta oleh klub dan pemain. Beberapa memilih menjauhkan diri dari ultras, sementara yang lain mencoba melakukan pendekatan melalui media sosial. AS Roma dan AC Milan menggunakan Twitter untuk memprotes tindakan rasisme yang terjadi di dalam pertandingan. Para pemain seperti Romelu Lukaku menyuarakan solidaritas antar suporter dan pemain.

Tetapi dengan sejarah yang begitu panjang dan mengakar dalam sosio-politik Italia, masalah ini tentu perlu ditangani oleh negara dan harus memberantasnya dari akar rumput hingga pemerintahan.


TAG: Liga Italia Serie A Lazio Hellas Verona Ac Milan Fasis Komunis Rasis Ultras






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI