REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Alessandro Bastoni, Masa Depan Pondasi Catenaccio


Hamdani M pada 2020-11-21 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Italia telah memastikan satu tiket di babak semifinal UEFA Nations League setelah berhasil mengalahkan Bosnia-Herzegovia di Stadion Grbavica, Bosnia dengan skor 2-0. Lolosnya Italia ini melengkapi tiga negara yang telah memastikan lolos, yaitu Perancis, Belgia dan Spanyol.

Selain dua gol yang dicetak oleh Andrea Belotti dan Domenico Berardi, satu hal yang perlu diberi perhatian khusus adalah pertahanan Italia yang kembali menampakkan kekuatannya dalam menahan gempuran lawan.

Dari tiga pertandingan terakhir yang dijalani anak asuh Roberto Mancini, mereka berhasil melesatkan 8 gol dengan catatan tanpa kebobolan. 2 gol saat menghadapi Polandia dan Bosnia dalam lanjutan UEFA Nations League dan 4 gol saat menghadapi Estonia dalam laga persahabatan. Ini merupakan catatan posistif untuk Gli Azzurri yang memang dikenal sebagai negara dengan tradisi pertahanan yang kuat. 

Dalam jumpa pers seusai pertandingan, Mancini memuji pemain muda Gli Azzurri yang dianggapnya memiliki potensi besar untuk meneruskan duet kokoh Leonardo Bonucci dan Georgio Chiellini yang kini sudah memasuki masa uzur. “Kami sangat senang. Saya ingin berterima kasih kepada semua pemain muda yang berkontribusi untuk sampai pada titik ini." ujar Mancini seusai pertandingan Italia melawan Bosnia.

Jika memperhatikan tradisi sepakbola Italia yang selalu kuat dalam pertahanan, maka pembicaraan mengenai siapa yang berada di jantung pertahanan memang menjadi hal selalu menarik untuk disimak. Tentang siapa yang akan meneruskan tanggungjawab sebagai dua tembok pertahanan di tim nasional.

Chiellini dan Bonucci akan segera menyingkir dalam waktu dekat. Tidak ada lagi kompromi bagi Italia untuk menunda-nunda merenovasi pertahanan mereka yang kian lapuk dimakan zaman. Satu dari dua tempat yang mereka tinggalkan hampir pasti akan di isi oleh Alessio Romagnoli. Pemain AC Milan 25 tahun ini secara perlahan namun pasti telah berhasil mendapatkan tempat itu. Kekokohan dan tak kenal komprominya dalam mengawal pertahanan sudah cukup untuk membuktikan tentang kelayakannya mengawal pertahanan Gli Azzurri. 

Hanya saja yang menjadi soal kemudian adalah siapa yang akan mendampingi Romagnoli berada di tembok pertahanan?

Ada daftar pemain yang bisa didaulat untuk menemani Romagnoli di pertahanan Italia. Dari Juventus ada nama Daniele Rugani, dari Lazio terdapat Francesco Acerbi, dan terakhir ada nama Armando Izzo dari Torino.

Namun, tampaknya dari daftar pemain yang muncul, satu nama yang memiliki posisi terbaik untuk naik ke peran utama adalah Alessandro Bastoni. Saat bicara tentang pemain muda Italia, secara khusus Mancini menyebutnya sebagai penerus pertahanan Italia, "Permainanya (Bastoni) semakin baik. Dia masih sangat muda, memiliki margin usia yang besar untuk berkembang. Dia bisa menjadi penerus Bonucci dan Chiellini."

Hal ini bisa kita lihat dari penampilan Italia dalam tiga pertandingan terakhir mereka. Mereka terlihat mulai nyaman dengan menggunakan Bastoni sebagai salah satu tembok pertahanan mereka. Pemain Inter Milan ini dalam tiga pertandingan terakhir Italia selalu menjadi andalan. Perannya terbukti dengan  nirbobol Italia dalam tiga pertandingan yang mereka jalani. 

Matang di usia yang masih muda

Alessandro Bastoni merupakan produk akademi Atalanta. Ia mulai debut di Serie A pada 23 januari 2017 saat anak asuh Gian Piero Gasperini itu menghadapai Samdoria. Debutnya untuk Atalanta berakhir manis dengan catatan bermain sepanjang 90 menit dan berhasil mengamankan pertahanan Atalanta dari kebobolan. Di sisa musim selanjutnya, Bastoni hanya mencatatkan dua kali bermain sebagai pemain pengganti tepatnya saat Atalanta menghadapi Udinese dan Inter Milan.

Pemain kelahiran 13 April 1999 yang saat ini tercatat sebagai bagian dari skuat Inter Milan ini didatangkan dengan harga 31 juta euro dari Atalanta pada 30 Agustus 2017. Meski di musim sebelumnya Bastoni masih mendapatkan menit bermain yang minim, namun Inter sadar betul akan masa depan yang cerah untuk pemain muda dengan kekuatan utama kaki kiri ini. Sempat dua kali dipinjamkan, nyatanya membuat mental bermain Bastoni semakin terasah. Peminjaman pertamnya ke Atalanta di musim 2017/2018 lalu kembali mengalami masa peminjaman di AC Parma pada 2018/2019. Bastoni benar-benar datang ke Inter Milan pada Juni 2019.

Setelah melalui masa-masa belajar dari bangku cadangan Atalanta, Bastoni yang jarang diberi kesempatan Gasperini menunjukkan kemampuanya di Atalanta, ditarik Inter Milan untuk dipinjamkan ke Parma. Di Parma, ia menunjukkan kemampuan yang meningkat tajam.   

Di bawah asuhan Roberto D’Aversa, Bastoni mencatatkan 24 kali penampilan, dengan 18 di antaranya sebagai pemain inti. Sedangkan sisanya ia masuk sebagai pengganti. Beruntung, di Parma ia diduetkan dengan bek veteran Portugal, Bruno Alves. Dari Alves, Bastoni banyak belajar tentang bagaimana mengawal pertahanan. Bastoni merupakan duet yang kuat untuk mengimbangi Bruno saat Parma bermain dengan skema empat bek. Sementara saat mereka memainkan formasi tiga bek, maka posisi Bastoni di geser lebih ke kiri, karena kemampuanya dalam memainkan kaki kiri. 

Datang ke Inter Milan sebagai pemain muda yang cukup matang dalam bermain, Bastoni tak kesulitan mendapatkan tempat utama di dalam strategi bermain Conte. Pada musim 2019/2020, ia bermain sebanyak 25 pertandingan dengan 21 kali tampil sejak awal pertandingan. Sebagai satu-satunya bek kaki kiri yang ada dalam daftar pemain Inter, Bastoni akhirnya terpilih menjadi pemain inti.

Di bawah asuhan Conte yang menggunakan skema tiga bek, Bastoni banyak mengisi pos sebelah kiri pertahanan bersama Stefan de Vrij dan Diego Godin. Penampilan impressifnya di baris pertahanan ini berhasil membawa Inter melaju sampai ke babak final Liga Europa 2019/2020 sebelum akhirnya menyerah dari Sevilla. 

Secara teknik, Bastoni memenuhi kualifikasi sebagai bek modern. Kuat dalam bertahan, tenang dalam penguasaan bola serta terampil dalam memulai serangan. Pemain yang mengidolakan Sergio Ramos ini telah banyak belajar dari gaya bermain idolanya itu. Dia mulai belajar satu lawan satu demi antisipasi saat lawan melakukan serangan balik untuk melengkapi kelebihanya selama ini, melakukan distribusi bola ke depan untuk memulai serangan.

Dari sisi mental, ia menunjukkan kematangan seiring dengan usianya yang semakin bertambah. Dia cukup bertanggungjawab dengan bola yang ada di kakinya. Sebuah contoh atas ketenangan Bastoni dapat dilihat pada laga melawan Bayer Leverkusen. Bastoni yang menerima bola jauh di dalam kotak penalti sendiri dari kiper Samir Handanovic tetap tidak kehilangan kendali dan ketenangan meskipun ditutup oleh Kai Havertz. 

Bayer Leverkusen yang saat itu menerapkan pressing atas dengan Kai Havertz yang bertugas menutup ruang gerak Bastoni, Julian Baumgartlinger yang mengawasi Roberto Gagliardini, Moussa Diaby dan Kevin Volland bertugas untuk memantau dan siap menerkam bila bola diarahkan kepada Handanovic dan De Vrij yang diawasi oleh Kerem Demirbay.

Dalam situasi tekanan yang demikian, Bastoni mampu membuat keputusan brilian dalam sepersekian detik untuk memberi umpan pada Ashley Young di sisi kiri yang turun ke bawah untuk memberi opsi umpan.

Penerus tradisi bek tangguh Gli Azzuri

Mengingat semakin intensnya Bastoni dalam memainkan peran utama di dalam skema tiga bek Inter Milan, ini tentu berdampak baik bagi Tim Nasional Italia. Dengan Bastoni mengambil peran utama di sana, kematanganya dalam permainan juga akan semakin terlihat. Kematangan ini yang akan segera dipanen oleh Italia dalam beberapa tahun ke depan.

Tapi Bastoni bukan tanpa cela. Dia bukan tergolong pemain yang memiliki kecepatan. Ini tentu menjadi kekurangan dia saat harus berhadapan dengan penyerang lawan yang memiliki kecepatan dan mengandalkan serangan balik. Kekuranganya dalam hal kecepatan, jika berhasil ia atasi, tentu akan menjadi kekuatan lebih, terutama saat ia didorong lebih ke depan untuk mempertahankan serangan dari sisi kiri. 

Dengan catatan penampilan yang mengesankan, hampir dipastikan ada harapan besar untuk masa depan Bastoni. Usianya masih sangat muda untuk saat ini, 21 tahun. Ia masih punya kesempatan besar untuk terus berkembang.

Sejak era Gaetano Scirea, Franco Baresi,  Paolo Maldini, Giuseppe Bergomi, Alessandro Nesta hingga Fabio Cannavaro, Italia telah diberkati dengan barisan panjang bek kelas dunia selama bertahun-tahun. Tembok besar pertahanan itu hari ini masih dipegang oleh Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Tapi mereka akan segera berakhir.

Sejarah panjang tentang ketangguhan bek-bek Italia ini telah menuntut mereka untuk terus menghasilkan pemain tangguh di posisi ini. Ini bukan lagi hanya sebatas tentang kebutuhan tim. Ini juga tentang tradisi dan identitas sepakbola Italia, Catenaccio. Dan sebelum dua tembok besar pertahanan mereka, Chiellini dan Bonucci dirobohkan oleh zaman, Italia harus segera menemukan penggantinya. Pada Alessandro Bastoni, publik Italia boleh berharap akan terjaganya seni sepakbola Catenaccio mereka.


TAG: Bastoni Inter Milan Milan Serie A Italia






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI