REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Alex Scott dan Pembuktian Komentator Sepakbola Perempuan


M Bimo pada 2021-08-24 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Siaran sepakbola memang tak lengkap kalau tidak ada komentatornya. Bagi pemirsa Indonesia, nama-nama seperti Bung Kusnaeni, Tris Irawan, Yusuf Kurniawan alias Bung Yuke, atau mungkin juga Titis Widyatmoko yang sudah jarang turun gunung cukup familiar di telinga. Mereka lah yang sering menemani pemirsa dengan menjelaskan jalannya pertandingan di siaran TV lokal.

Tapi nama komentator sepakbola luar negeri juga tak kalah familiar buat kamu yang menikmati siaran dari TV luar negeri. Seperti misalnya Jim Beglin, Peter Drury, atau juga Martin Tyler. Buat yang sering main game Pro Evolution Soccer atau FIFA juga pasti sering dengar nama-nama tersebut karena selalu disebutkan di setiap pertandingan.

Tapi belakangan ini menyeruak nama komentator baru yakni Alex Scott. Dia bekerja sebagai presenter dan komentator olahraga di BBC. Namanya semakin mencuat setelah terpilih sebagai komentator perempuan berbahasa Inggris pertama yang suaranya bakal muncul di game FIFA 22.

Scott didapuk sebagai komentator gol. Suaranya bakal terdengar menjelaskan sebuah kejadian gol yang tercipta alih-laih mengomentari jalannya pertandingan selama 90 menit. Jadi dia bakal mengambil alih dari dua komentator utama ketika terjadi sebuah gol.

Untuk bisa berada di titik ini, mantan pemain Arsenal ini melewati cukup banyak perjalanan panjang yang berliku. Kariernya di lapangan hijau cukup cemerlang. Namun di jenjang sebagai komentator dan presenter olahraga, ada beberapa kontroversi yang sempat ia alami. Tapi ada juga tentang perjuangan untuk menunjukkan kualitas seorang komentator perempuan yang selama ini sering diremehkan.

 

Perempuan Kecil yang Memiliki Passion di Lapangan Hijau

Wanita tangguh ini lahir di London Timur 37 tahun yang lalu. Berbeda dengan wanita kebanyakan, Scott justru menggemari sepakbola sejak kecil. Ia bahkan pernah bergabung dengan klub junior lokal dan dia satu-satunya pemain wanita di klub tersebut.

Meski demikian, ia beruntung lahir di keluarga yang sangat suportif. Terutama sang ibu, ia sangat mendukung hobi putrinya di sepakbola.

Karier Scott di lapangan hijau bermula saat tampil di sebuah pertandingan melawan tim dari saudara laki-lakinya. Tim pencari bakat dari Arsenal kebetulan melihat permainannya dan sisanya adalah sejarah. Scott menghadiahi gol kemenangan untuk The Gunners wanita di final UEFA Women's Cup 2007.

Tak hanya itu, ia juga turut menyumbang delapan gelar FA Women's Super League, tujuh piala FA Cup, berlaga di Champions League, dan dua gelar Community Shields. Dia juga merupakan kapten timnas Inggris wanita dan penghuni skuat Britania Raya pada Olimpiade 2012.

Pada 2017, Alex Scott memutuskan untuk gantung sepatu. Setelahnya, pemilik nama lengkap Alexandra Virina Scott ini mendirikan Alex Scott Academy untuk membantu perempuan-perempuan muda yang tertarik dan memiliki ambisi di dunia olahraga.

Berbarengan dengan itu, Scott juga terjun sebagai profesional komentator olahraga pada 2018. Ia mengisi acara Football Focus dan The One Show di stasiun tv BBC. Terbaru, ia didapuk sebagai presenter dan komentator BBC dalam penayangan Olimpiade 2020 Tokyo.

 

Komentator Perempuan yang Masih Dipandang Sebelah Mata

Alex Scott hadir sebagai komentator sepakbola dengan memikul beban yang cukup berat. Pasalnya, selama ini pengetahuan perempuan soal sepakbola masih diremehkan. Sementara, masyarakat menuntut komentator harus dari orang yang memiliki latar belakang paham betul segalanya tentang si kulit bundar.

Mantan pemain Arsenal ini memang lah bukan komentator perempuan pertama yang eksis. Dalam beberapa tahun terakhir, dua stasiun TV asal Britania Raya, BBC dan ITV, meningkatkan penggunaan komentator perempuan pada produksi tayangan olahraga.

Pada gelaran Euro 2016 Prancis lalu, ITV melibatkan dua perempuan sebagai bagian dari tim siarannya, Jacqui Oatley dan Eni Aluko. Sementara BBC memakai tiga presenter dan komentator perempuan yakni Gabby Logan, Kelly Cates dan Caroline Baker.

Satu dekade sebelumnya, sepakbola hampir seluruhnya dikuasai oleh laki-laki. Pada akhir 2014, nama Aluko yang memegang 102 caps untuk timnas Inggris tiba-tiba menyeruak usai diundang pada acara Match Of The Day. Dia menjadi pembicara wanita pertama di acara tersebut. Aluko kemudian bekerja sebagai analis di ITV untuk gelaran Euro 2016.

Meski perlahan-lahan sudah mulai menunjukkan posisinya, komentator perempuan masih saja kerap dianggap remeh. Khususnya di Inggris, komentator perempuan selalu menjadi pro dan kontra di kalangan penikmatnya.

Pada Euro 2020 lalu, ada perdebatan dari warganet yang mengomentari penampilan pelatih tim perempuan Chelsea, Emma Hayes, yang saat itu ditunjuk sebagai presenter dan komentator oleh stasiun ITV.


sumber foto: telegraph

Kalau boleh dinilai, Emma melakukan tugasnya dengan sangat baik pada waktu itu. Banyak pujian yang ia dapatkan. Komentar Emma disebut memberikan angin segar. Tapi pujian yang ia dapatkan sama banyaknya dengan kritikan dari warganet. Tahu sendiri, jempol warganet sangat enteng untuk memberikan komentar jahat. Meski penampilan Emma sangat baik, di mata mereka tetap saja perempuan kurang layak jika menggurui kaum pria kalau untuk urusan sepakbola.

"Seorang wanita memberikan pendapat tentang sepakbola? Urgh. Itu terlihat cukup kontroversial," tulis seorang warganet pada status Twitter miliknya.

"Lebih baik aku mute daripada harus mendengar komentar wanita ini," kata seorang warganet lain.

Peristiwa berbeda terjadi di ajang Olimpiade 2020 Tokyo yang belum lama ini berakhir. Seorang komentator perempuan dari stasiun televisi Prancis, Eurosport, menjadi sorotan. Ia berkali-kali salah menyebutkan nama dan fakta-fakta dari beberapa pemain tim Britania Raya.

Dilansir Unilad, pada pertandingan terakhir grup antara Britania Raya vs Kanada komentator ini salah menyebutkan nama pemain Ellen White menjadi Ellie White. Itu ia lakukan bahkan hampir sepanjang pertandingan. Tak cuma nama Ellen yang salah sebut, ada beberapa nama pemain lagi yang pelafalannya keliru.

Selain itu, komentator yang tak disebutkan namanya ini juga dikatakan menyebut Phil Neville masih sebagai pelatih dari tim nasional perempuan Inggris. Padahal saat menyebutkan itu, faktanya Phil sudah tak berada di kursi pelatih karena kontraknya sudah habis.

Masih ada beberapa fakta salah lagi yang diungkapkan komentator ini. Kejadian itu membuat Eurosport sempat jadi bulan-bulanan warganet Inggris di Twitter.

Kejadian seperti ini bisa menjadi titik lemah komentator perempuan di mata penikmat siaran sepakbola. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, kesalahan seperti tadi bisa dialami oleh siapa saja tak terikat gender. Mau perempuan atau laki-laki, jikalau lagi apes ya, apes saja.

Beban ini juga yang dipikul oleh Alex Scott sebagai komentator wanita yang namanya sedang mencuat. Apalagi suaranya bakal mejeng di game FIFA 22 bersama komentator wanita lainnya, Niar Juanra yang mengisi komentator gol berbahasa Spanyol. Suara mereka pasti akan didengarkan terus-terusan oleh para pemain game yang pastinya juga penonton siaran sepakbola di televisi.

Alex Scott juga pernah menghadapi kritikan pedas. Salah satunya ia dapatkan ketika menjadi presenter tayangan Olimpiade 2020 lalu. Kritikan itu datang dari Lord Digby Jones, mantan anggota dewan bangsawan Britania Raya.

Lord Digby menuliskan dalam cuitan Twitter miliknya bahwa ada yang salah dari aksen Alex Scott saat membawakan acara tersebut. Ia menyebut Scott tidak bisa menyebutkan dengan benar kata berakhiran'-g' dalam beberapa kata seperti fencing, rowing, boxing, swimming, dan beberapa kata lainnya.

Meski kritikan yang dilontarkan politikus itu cukup tajam, namun nyatanya Alex Scott mampu membalasnya dengan baik. Ia membalas cuitan kritikan itu dan menyebut kalau ia bangga dengan aksen yang dia punya. Sebab, itu adalah bagian dari sejarah dan budaya keluarganya.

"Jangan pernah menilai seseorang dari kelas, aksen, atau penampilannya. Terus lah memperjuangkan sejarah luhur dan jangan mau berubah demi siapa pun," balas Scott. Setelah kritikan itu terjadi, Alex Scott tetap menggunakan aksen khasnya dalam memandu acara Olimpiade 2020 di BBC.


TAG: Alex Scott Tokoh






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI