REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Ancaman Pandemi di Balik Yogya sebagai Destinasi Sepak Bola


Aditya Hasymi pada 2020-10-10 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Daya tarik Yogyakarta dengan kenyamanan yang ditawarkan mampu menarik berbagai pihak untuk menggelar aktivitasnya, tak terkecuali dengan sepak bola. Namun, di musim kala pandemi merebak seperti saat ini, terdapat ancaman virus yang mengintai.

Yogyakarta sebagai sebuah provinsi memang telah dikenal khalayak ramai sebagai daerah yang amat istimewa. Sejarah yang kental, kuliner yang nikmat, hingga keramahan dari warganya membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Banyak masyarakat, entah itu lokal maupun mancanegara, berduyun-duyun untuk melancong.

Pun dengan urusan sepak bola. Provinsi yang memiliki empat kabupaten ini menjadi wilayah yang kerap kali menjadi episentrum berputarnya kompetisi. Tak terhitung mulai dari gelaran kompetisi untuk usia dini macam Piala Soeratin, hingga yang paling senior dalam persaingan Liga 1, pernah dipanggungkan di kota pelajar ini.

Sejarah panjang bal-balan yang tumbuh diawali dari wilayah tengah Pulau Jawa ini menjadi alasan kuat, bagaimana Yogyakarta selalu dilibatkan dalam hal keriuhan di lapangan hijau. Organisasi yang memayungi sepak bola tanah air, PSSI, terbentuk pada 19 April 1930 tepat berada di kota gudeg ini. Oleh Soeratin Sosrosoegondo, cita-cita luhur membangun bangsa melalui olahraga sebelas lawan sebelas ini dikumandangkan dari sudut Jalan Mawar, yang kini diabadikan menjadi Monumen PSSI.

Provinsi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia ini juga turut aktif dalam ekosistem sepak bola tanah air. Terhitung terdapat 13 klub berasal dari Yogya baik yang berkompetisi secara profesional maupun amatir. Trio PSS Sleman, PSIM Yogya, dan Persiba Bantul menjadi perwakilan dari provinsi dengan luas 3.185 km ini dalam piramida kompetisi nasional di Liga 1, Liga 2, dan Liga 3. Sementara Persig Gunung Kidul, Persikup Kulon Progo, Satria Adikarta, hingga beberapa tim bentukan kampus turut aktif dalam gelaran amatir maupun semi-pro.

Begitu aktifnya Yogyakarta turut mengembangkan sepak bola nasional menjadikan PSSI kerap mengadakan hajatan besarnya di provinsi ini. Tak terhitung berapa banyak pertandingan penting, pemusatan latihan tim nasional berbagai umur, hingga sekadar partai usiran pernah dimainkan pada beberapa stadion di provinsi yang dijuluki kota budaya ini.

Geliat kompetisi sepak bola di Liga 1 dan Liga 2 yang akan kembali hadir setelah tertunda oleh pandemi turut melibatkan Yogyakarta. Dalam lanjutan kembali Liga 1 yang tersentralisasi, DIY ditunjuk oleh PSSI dan PT.Liga Indonesia Baru sebagai operator liga untuk menjadi kandang dari kesebelasan luar Jawa. Kesebelasan seperti Persiraja Banda Aceh, Borneo FC, Barito Putera, PSM Makassar, dan Persipura Jayapura rencananya akan bermain di tiga stadion terbaik di Yogya.

Pro dan kontra pun bermunculan dengan inisiasi PSSI untuk memusatkan gelaran Liga 1 di Yogyakarta bagi klub yang berada di luar Jawa. Secara positif hal ini disebut kembali menyemarakkan geliat sepak bola tanah air dan memutar kembali roda ekonomi di dalamnya. Dari sisi sebaliknya, kekhawatiran terjadinya penumpukan massa yang berimbas pada hadirnya kluster baru penyebaran Covid-19 tampak nyata.

Fasilitas yang mumpuni menjadi alasan utama diliriknya Yogyakarta sebagai tuan rumah banyak kompetisi sepak bola. Demikian pula PSSI menunjuk provinsi yang bertetangga dengan Jawa Tengah ini untuk menggelar lanjutan Liga 1 sebagai kandang dari kesebelasan luar jawa. Stadion yang mendekati standar FIFA dan lahan tempat latihan yang memadai menjadi kunci bagaimana Yogya kerap kali menjadi destinasi sepak bola bergulir.

Siapa yang tak kenal Stadion Maguwoharjo, Stadion Mandala Krida, dan Stadion Sultan Agung. Ketiga merupakan stadion yang berdiri megah di Yogyakarta sebagai kandang dari klub yang berlaga di kompetisi Liga 1, Liga 2, dan Liga 3.

PSS Sleman yang berkandang di Maguwoharjo mampu menampung 32.000 penonton kerap kali menjadi venue untuk gelaran tim nasional. Baik tim senior maupun kelompok umur pernah merumput di lapangan bumi Sembada ini. Kualitas rumput yang menggunakan jenis sosiesea matrelia linmer yang diimpor langsung dari Italia semakin menegaskan kualitas dari stadion ini yang berusaha mencapai level internasional.

Mandala Krida sebagai stadion yang penuh sejarah juga turut menjadi pilihan dari tempat gelaran sepak bola professional tanah air. Kandang dari PSIM Yogyakarta ini bahkan telah berbenah pada sektor tribun sebagai bentuk pemugaran. Kini, tampilan dari tempat duduk stadion yang menjadi rumah saat Laskar Mataram berlaga di Liga 2 ini semakin mendekati venue yang terstandarisasi oleh FIFA. Bentuk modern dari Stadion Mandala Krida ini sempat diikutkan dalam bidding salah satu stadion yang akan digunakan dalam penyelenggaran Piala Dunia U-20, walaupun hasilnya belum memuaskan.

Lapangan latihan yang memenuhi standar, dan utamanya, terawat dengan baik juga tersedia di Yogyakarta. Tak banyak lapangan latihan yang memiliki lintasan atletik yang memadai, seperti yang ada di Lapangan sepak bola Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Area Latihan yang dikelola oleh perguruan tinggi di kota pelajar ini menjadi favorit bagi tim nasional maupun klub-klub Liga 1 untuk melakukan pemusatan latihan.

Akhir-akhir ini, naik daun pula kawasan latihan yang berada di lapangan Yogyakarta Independent School (YIS). Sebut saja Kalteng Putra, Persebaya, Madura United, hingga PS Tira pernah melakukan pemusatan di lahan yang masih tergabung dalam fasilitas sekolah ini. Desain rumput yang menggunakan jenis evergreen, rumput yang cepat tumbuh dengan warna aslinya walau kerap tercerabut, ditengarai menjadi alasan utama beberapa klub Liga 1 memusatkan pra musimnya di lapangan ini.

Selain fasilitas yang lengkap, biaya operasional yang cukup murah menjadi pertimbangan utama bagaimana Yogyakarta menjadi tujuan dalam aktivitas persepakbolaan nasional. Sebut saja Lapangan FIK UNY yang sering digunakan untuk latihan klub-klub profesional, hanya ditarik sebesar lima ratus ribu untuk tiap jam nya. Harga yang sama belum tentu ditemukan, semisal di Jakarta, untuk sebuah lapangan latihan dengan akses dan fasilitas yang memadai.

Semua hal tersebut menjadi bekal positif bagi Yogyakarta sebagai provinsi destinasi sepak bola. Namun, apabila dihadapkan pada kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, apakah keuntungan sebagai daerah tujuan bal-balan tanah air masih dapat dirasakan?

Begitu prospeknya Yogyakarta sebagai destinasi sepak bola tanah air menjadi semacam buah simalakama disaat pandemi melanda seperti saat ini. Potensi datangnya penduduk, dalam hal ini pemain dan ofisial, dari luar kota cukup besar. Hal ini turut membuka kesempatan akan penyebaran virus korona yang lebih masif di wilayah yang merupakan peleburan dari Negara Kesultanan Yogya dan Negara Kadipaten Paku Alaman ini.

Kasus mewabahnya Covid-19 pun belum bisa dikatakan mereda di Yogyakarta. Hingga 4 Oktober 2020 kemarin, pertambahan kasus positif masih terus terjadi dengan 19 kasus baru. Secara total, di wilayah Yogya, terdapat 2.791 kasus dari data yang dirilis oleh Pemda DIY sampai saat ini. Apabila tak diantisipasi lebih jauh, apalagi dengan potensi kerumunan yang bakal terjadi ketika Liga 1 jadi digelar terpusat, kluster penularan baru tentu bisa saja muncul.

Seruan untuk menghentikan agar Liga 1 dibatalkan untuk dapat dipanggungkan kembali di Yogyakarta terus menyeruak. Indonesian Police Watch (IPW), sebuah lembaga independen yang berisikan pewarta berita yang biasa meliput di lingkungan kepolisian, menunjukan ketidaksepakatan atas upaya untuk melanjutkan kompetisi sepak bola kasta tertinggi. Dalam rilisnya, Ketua Presidium IPW Neta S Pane meminta agar Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak memberikan izin kepada PSSI, untuk memakai wilayahnya sebagai tempat gelaran Liga 1.

“Kami menghimbau agar Sri Sultan HB X dan warga Yogya agar menolak niatan klub-klub Liga 1 untuk menjadikan wilayahnya sebagai home base baru. Hal tersebut penting, mengingat kedatangan pemain dan ofisial tentunya berpotensi tinggi membawa virus korona kendati tanpa gejala”, tukas Neta S Pane mewakili IPW seperti yang dikutip pada laman bola.net.

Memang, dapat disadari bahwa Yogyakarta merupakan wilayah destinasi ideal dari panggung sepak bola nasional, dengan faktor pendukung yang sangat kuat. Namun, di era kala wabah Covid-19 masih terus menghantui, maka keputusan bijak untuk sejenak menghentikan aktivitas di lapangan hijau penting untuk dijadikan pertimbangan. Sebelum semuanya terlambat.


TAG: Liga 1 Liga 2 Liga Indonesia Covid Jogja Laga






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI