REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Antidepresan ala Ultras Fortuna Dusseldorf


M Bimo pada 2021-06-07 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Menjadi seorang pesepakbola dituntut harus kuat, baik secara fisik maupun mental. Untuk urusan fisik tentu saja menjadi yang utama. Sebab, pesepakbola dengan fisik yang kuat akan membantunya dalam hal performa di atas lapangan.

Tapi bukan berarti kesehatan mental harus dikesampingkan. Faktor ini rupanya juga sama pentingnya di dalam dunia sepakbola. Memang sih, masalah kesehatan mental sangat jarang disinggung ketika membahas soal sepakbola, tim, pemain, pelatih, ataupun suporter. Tapi ini bisa jadi masalah serius jika dianggap sepele begitu saja.

Masalah mental timbul gak melulu disebabkan oleh apa yang terjadi di atas lapangan. Jika berbicara mental dalam sepakbola, bahasannya pasti mengerucut pada mental bermain seperti di bermain di tempat baru, di bawah tekanan suporter lawan ataupun suporter sendiri, hingga mental berjuang pada pertandingan-pertandingan genting.

Namun, kesehatan mental pemain sepakbola juga acapkali disebabkan dari faktor luar lapangan. Beberapa waktu lalu gelandang asal Islandia yang bermain untuk klub Jerman, Darmstadt 98, Victor Palsson mengaku dalam sebuah wawancara bahwa permainannya hancur berantakan usai kematian ibunya. Hati dia benar-benar hancur dan meraskan kesedihan sepanjang waktu karena kabar duka tersebut.

Ia bahkan sampai tak bisa menahan tangis di depan putranya yang masih berusia tiga tahun. Palsson bahkan mengungkapkan kalau bobot badannya turun sebanyak delapan kilogram, yang kemudian membuat fisiknya tak sebugar biasanya.

Tak ada yang mengerti soal masalah kesehatan mental Palsson sebelum akhirnya ia mengungkapkan sendiri. Ini adalah salah satu contoh yang terjadi pada satu pemain dan tak cuma pemain saja yang mengalaminya, suporter juga pernah.

Salah satu yang cukup fenomenal adalah kematian dari suporter klub Bundesliga, Fortuna Dusseldorf yang meninggal dunia karena mengalami depresi pada 2013 lalu. Suporter ini bernama Cedi dan dia salah satu bagian abadi dari Ultras Dusseldorf.

Kematian Cedi adalah sebuah tragedi, tapi ada hal menarik yang sangat layak mendapat apresiasi dari apa yang dilakukan oleh Ultras Dusseldorf untuk membantu masalah kesehatan mental setelah menimpa salah satu anggotanya ini.


Pionir Gerakan Peduli Kesehatan Mental di Dusseldorf

Cedi menyerah dari perjuangannya melawan depresi dan meninggal dunia pada 2013. Saat ia meninggal, usia suporter Dusseldorf ini masih sangat muda yakni baru 21 tahun.

Kepergian Cedi membawa luka mendalam bagi Ultras Dusseldorf. Mereka menuliskan dua baris kalimat pesan terakhir untuk rekan mereka di dalam website dengan akhir kalimat yang cukup menyentuh, "You're forever in our hearts, ultras never die!"

Setelah kematian Cedi, Fortuna Dusseldorf menjalani pertandingan kandang menjamu SpVgg Furth. Dusseldorf memenangkan pertandingan tersebut, tapi tidak ada selebrasi apapun baik dari pemain maupun suporter untuk merayakannya. Spanduk berukuran cukup besar bertuliskan "R.I.P Cedi" membentang di tribun tempat para Ultras Dusseldorf berdiri, menandakan penghormatan setinggi-tingginya untuk sang suporter.

Setahun setelah tragedi Cedi, para ultras kembali memperingati hari kelabu tersebut dengan membuat koreo yang di setiap kertasnya bertuliskan nama Cedi. Koreo tersebut memiliki makna emosional yang tinggi. Tak sedikit suporter yang menitikkan air mata saat momen tersebut.

Ultras Dusseldorf tak cuma bisa membuat koreo yang indah. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka bekerja sama dengan lembaga kesehatan lokal membuat gerakan melawan depresi. Berbagai gerakan mereka buat seperti membuka dompet donasi, mengadakan seminar dengan para ahli dan menyediakan sesi konseling dengan ahli kesehatan mental untuk suporter dan warga Dusseldorf.


sumber foto: Ultras Düsseldorf

Pada 2019 lalu, Ultras Dusseldorf dengan gerakannya ini berhasil mengumpulkan 6.000 Euro atau setara dengan Rp104 juta dan mendonasikannya kepada pusat bantuan depresi lokal di sana. Bahkan yang turut serta pada gerakan ini nggak cuma suporter saja, banyak psikologis, pakar kesehatan mental, serta dokter yang tertarik dan ikut membantu menyukseskan gerakan ini.

Gerakan peduli kesehatan mental ini masih terus berjalan hingga saat ini. Tahun ini, Ultras Dusseldorf kembali menggalang donasi dan lelang yang seluruh hasilnya akan disumbangkan ke pusat bantuan depresi di Dusseldorf.

Cara mereka mengumpulkan donasi pun cukup simpel, ada suporter yang langsung mengirimkan sejumlah uang. Tapi Ultras Dusseldorf juga menyediakan donasi dalam bentuk pembelian merchandise klub seperti jersey, stiker, syal, hingga bertemu dengan para legenda Fortuna Dusseldorf.

Selain didukung oleh para ahli dalam bidang kesehatan, aksi lelang yang mereka jalankan juga didukung oleh banyak institusi lokal, seperti perusahaan hiburan, institusi kebudayaan hingga perusahaan dan institusi besar lainnya ikut dalam berbagai acara lelang amal.

Ultras Dusseldorf bukan satu-satunya suporter yang sadar dan bergerak melawan depresi dan penyakit mental lain. Kabarnya, suporter klub Jerman lainnya yaitu St. Pauli juga memiliki aksi serupa.


Sudahkah Sepakbola Peduli akan Kesehatan Mental?

Kalau berbicara soal penanganan cedera pemain, teknologi yang dipakai oleh klub-klub sepakbola Eropa mungkin tidak perlu diragukan lagi. Mereka memiliki fisioterapis dan dokter-dokter ahli lain sehingga membuat cedera pemain dapat dideteksi dan ditangani dengan tepat.

Tapi kalau untuk masalah kesehatan mental, sejauh ini pemain masih harus yang aktif untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Victor Palsson seperti yang disinggung di atas tadi, ia memulihkan kegalauannya seorang diri. Bahkan Palsson harus membuat pengakuan di sebuah wawancara bukan melalui konseling yang disediakan oleh klub.

Masalahnya, tidak semua pemain bisa seterbuka Palsson. Kebanyakan orang akan menyembunyikan kesedihan untuk diri mereka sendiri. Sejauh belum ada gerakan dari klub yang belum menyediakan psikolog atau ahli kesehatan mental lainnya di klub, pelatih merupakan orang utama yang wajib mengemban tanggung jawab tersebut.

Dilansir DW, psikolog olahraga Dr. Thorsten Leber menyebutkan ada beberapa pelatih yang bisa menangani kasus ini dengan baik. Mereka mampu melindungi dan mengeluarkan pemain dari krisis kesehatan mental. Tapi ini tentu saja balik lagi kepada pelatihnya, kalau pelatih menganggap itu penting, maka akan diselesaikan dengan baik pula.

Nah, baru-baru ini Premier League membuat persayaratan bahwa semua klub harus bertanggung jawab untuk kesehatan mental. Salah satu yang harus dilakukan adalah pemain wajib menerima pendidikan kesehatan mental yang disediakan oleh klub.

Keputusan ini dibuat juga karena setahun belakangan mental para pemain disebut lebih gampang goyah. Hal ini ditimbulkan karena pandemik COVID-19 yang telah terjadi lebih dari satu tahun. Sehingga dengan mendapat pendidikan kesehatan mental, paling tidak para pemain bisa melakukan antisipasi dasar saat mengalami krisis mental.

Semoga program yang dicanangkan Premier League konsisten dan terus mendapat perkembangan. Sehingga masalah kesehatan mental ini bisa dapat diatasi dengan bantuan pakar. Juga tentu saja hal ini bisa diikuti oleh liga-liga sepakbola lain yang ada di seluruh dunia.


TAG: Antidepresan Fortuna Dusseldorf Kesehatan Mental Sepakbola Jerman






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI