REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Atalanta vs Valencia, Jadi Episentrum Virus Corona di Italia


M. Bimo pada 2020-03-27 jam 12:00 PM


UEFA


Rabu 19 Februari 2020, Atalanta menghadapi pertandingan penting dalam sejarah di ajang Liga Champions. Ini adalah musim debut klub berjuluk La Dea di ajang Eropa. Setelah pada musim lalu mereka mampu finis di peringkat tiga klasemen Serie A. Prestasi kembali diukir oleh pelatih Gian Piero Gasperini setelah membawa Atalanta ke babak 16 besar usai lolos menempati peringkat dua di Grup C.

Perjalanan wakil Italia di babak grup tidaklah mudah. Bahkan pada tiga pertandingan awal, mereka mengalami kekalahan berturut-turut. Pertandingan pembuka Grup C, La Dea kalah telak dari tuan rumah Dinamo Zagreb 0-4. Ketika menjamu Shakhtar Donetsk di pertandingan kedua, mereka juga harus takluk 1-2. Gol pembalik keadaan Manor Solomon di menit 90+5 bikin fans tuan rumah gigit jari.

Pun ketika bertemu Manchester City, Atalanta jadi sasaran empuk. Meski sempat unggul melalui tendangan penalti Ruslan Malinovskyi, tim lawan yang dinahkodai oleh Pep Guardiola berhasil membalas dengan lima gol. Kelima gol itu dicetak oleh brace Sergio Aguero dan hattrick Raheem Sterling.

Namun di tiga pertandingan sisa, hasil cukup positif diraih Atalanta. Menahan imbang 1-1 Manchester City di pertemuan kedua, menang 2-0 atas Dinamo Zagreb dan kemenangan besar 3-0 di kandang Shakhtar Donetsk memastikan langkah mereka lolos dari Grup C sebagai runner up.

Dengan misi untuk lolos ke delapan besar, skuat Atalanta bermain percaya diri ketika menjamu Valencia di babak gugur. Leg pertama dilangsungkan di San Siro, Milan. Stadion ini dipakai karena kandang Atalanta, Stadion Azzuri d'Italia sedang dilakukan renovasi. San Siro juga kebagian untung karena stadion ini bisa menggelar babak gugur Liga Champions lagi setelah terakhir kali pada 2014 lalu.

Setidaknya ada sekitar 40.000 lebih penonton yang hadir di Stadion San Siro. Sejumlah 2.500 di antaranya adalah suporter Valencia yang melakukan perjalanan Spanyol-Italia untuk menyaksikan pertandingan Liga Champions tersebut. Namun mereka tidak sadar, pertandingan itu kini disebut jadi biang kerok penyebaran virus corona terbesar di Italia.

Saat itu pertengahan Februari, kasus corona di Italia belum separah sekarang. Sebelum 22 Februari, belum ada warga negara (WN) Italia yang dinyatakan positif corona. Kasus corona pertama ditemukan pada akhir Januari, di mana sepasang WN Tiongkok asal Wuhan di Italia dikonfirmasi positif.

"Pertandingan digelar pertengahan Februari. Saat itu, kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika benar apa yang mereka katakan bahwa virus itu sudah menyebar di Eropa sejak Januari, maka sangat memungkinkan 40.000 orang Bergamo yang menonton pertandingan di San Siro saling menulari virus," ujar Walikota Bergamo, Giorgio Gori seperti dikutip dari AP pada Kamis (26/3).

Pertandingan Atalanta versus Valencia itu dijuluki Game Zero oleh media lokal. Sebab, saat itu memang kasus WN Italia yang positif corona masih zero alias nol. Dua hari usai dilaksanakan pertandingan, mulai muncul satu persatu warga yang mengadu ke rumah sakit dengan gejala Covid-19.

Kurang dari seminggu setelah pertandingan, kasus positif pertama dilaporkan dari Provinsi Bergamo, tempat klub dan suporter Atalanta berasal. Pada waktu yang hampir bersamaan di Valencia, seorang jurnalis yang melakukan perjalanan ke Italia untuk meliput pertandingan Atalanta vs Valencia juga terinfeksi. Tidak butuh waktu lama, orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya juga terkena. Demikian juga dengan penggemar Valencia yang melakukan awaydays.

Atalanta sendiri baru mengumumkan kasus positif pertama pada pemainnya, yakni kiper Marco Sportiello pada Selasa (24/3). Sementara Valencia mengungkapkan lebih dari sepertiga pasukannya terinfeksi. Padahal, mereka sudah melakukan langkah-langkah pencegahan yang cukup ketat sepulang dari Milan.

Hingga 24 Maret 2020, hampir 7.000 orang di Provinsi Bergamo dinyatakan positif Covid-19. Dilaporkan juga lebih dari 1.000 orang meninggal karena virus itu. Data ini menjadikan Bergamo sebagai provinsi paling parah di seluruh Italia untuk pandemik ini. Di Valencia, memiliki lebih dari 2.600 orang yang terinfeksi.

Luca Lorini, kepala unit perawatan intensif di rumah sakit Pope John XXIII di Bergamo meyakinkan, kalau keramaian yang terjadi pada 19 Februari di stadion San Siro adalah salah satu alasan mengapa di provinsi itu banyak orang yang terinfeksi.

"Saya yakin bahwa 40.000 orang saling berpelukan, berteriak, berciuman dan berdiri dengan jarak yang tak sampai satu sentimeter. Karena Atalanta mencetak empat gol, euforia di tribun membuat penularan ini terjadi begitu cepat," ujarnya.

Kepala Superior Institute of Health Italia, Silvio Brusaferro dalam siaran televisi nasional yang disiarkan oleh lembaga perlindungan sipil mengatakan, kini laga itu menjadi salah satu hipotesis yang sedang dievaluasi sebagai sumber krisis yang terjadi di Bergamo.

Italia hingga kini masih menjadi negara Eropa yang memiliki jumlah kasus paling banyak. Ada hampir 70.000 kasus dengan hampir 7.000 pasien meninggal dunia. Jumlah kematian itu terbanyak di seluruh dunia, bahkan dua kali lipat dari Tiongkok.

Spanyol negara paling parah berikutnya di Eropa dengan jumlah kasus 48.000 orang terinfeksi. Angka kematiannya juga telah melampaui Tiongkok dengan lebih dari 3.400 korban jiwa.

Sejumlah 44.000 lebih penonton yang hadir di pertandingan Atalanta vs Valencia, memecahkan rekor laga kandang dengan penonton terbanyak yang bisa diraih oleh Atalanta. Ini adalah raihan membanggakan untuk klub kecil yang melakukan debut di kompetisi klub tertinggi Eropa.

Sebelum pertandingan dimulai, para suporter Valencia terlihat bebas berkeliaran di kota Milan. Mereka banyak berkumpul di beberapa plaza kota, termasuk Piazza del Duomo, untuk minum dan menyanyikan chants kebanggan mereka.

Saat itu, Eropa belum menjadi benua terdampak paling parah. Saat itu pula, Italia belum mencatatkan negara dengan jumlah kematian pasien Covid-19 terbanyak di dunia. Tapi dilihat dari kondisi sekarang, dengan ribuan orang berkumpul menjadikan penularan virus, pada malam itu, sangatlah tinggi.

Belum lagi mereka yang melakukan perjalanan pulang dari Italia ke Spanyol. Dengan bertemu banyak orang dan menyentuh banyak benda. Perlu diingat juga, ada hampir 30 bus penuh dengan suporter Atalanta yang melakukan perjalanan 60 kilometer dari Bergamo ke Milan.

Pun dengan para pemain, staff dan pejabat dari kedua klub. Mereka berbaur, bertukar hadiah dan berjabat tangan pada makan malam sehari sebelum pertandingan. Saat itu, belum ada istiliah social distancing atau physical distancing untuk meminimalisir penyebaran virus.

Melihat kondisi yang terjadi sekarang, Alejandro "Papu" Gomez sang kapten Atalanta, mengatakan kepada surat kabar Argentina kalau pertandingan Liga Champions itu sangatlah mengerikan.

"Bergamo adalah kota berpenduduk 120.000 orang dan hari itu 40.000 orang pergi ke San Siro. Itu adalah pertandingan bersejarah bagi Atalanta," ungkapnya.

Namun hingga kini, pihak Atalanta baru memberikan pengumuman resmi satu pemainnya saja yang positif. Kontras dengan Valencia yang mengumumkan kalau sepertiga skuatnya dinyatakan positif usai pulang dari Italia. Ini membuat Presiden asosiasi pesepak bola Italia, Damiano Tommasi, kebingungan.

Menurut mantan pemain AS Roma ini, beberapa klub punya pilihan dan hak untuk menguji pemainnya dengan tes Covid-19. Ada beberapa klub yang tuntas menguji seluruh pemain, staff serta pejabat tinggi klub. Tapi ada juga klub yang hanya menguji pemain ketika mereka menunjukkan gejala saja.

Keberhasilan Atalanta melaju ke babak delapan besar Liga Champions ini harus berakhir ironis. Ya, usai mengandaskan Valencia 4-1 di leg pertama, klub berjuluk La Dea ini juga mampu mengalahkan Valencia 4-3 di kandang mereka pada leg kedua. Saat itu, pertandingan digelar secara tertutup alias tanpa penonton.

Kini usai sebulan lebih setelah Game Zero, pertandingan leg pertama itu disebut para ahli sebagai episentrum pandemi virus corona di Bergamo, atau bahkan di Italia. Bom biologis, adalah sebutan yang dikatan seorang spesialis pernapasan untuk menyebut petaka yang dampaknya dirasakan begitu hebat hingga kini.

Akankah pertandingan Game Zero dicatat sejarah sebagai pertandingan "mematikan" atau pertandingan dengan dampak terburuk karena menyebabkan penularan kepada 40.000 lebih penontonnya? Bisa saja kalau para ahli bisa menemukan bukti konkret dan membuktikan kalau laga itu jadi episentrum atau pusat penyebaran virus di Italia. Lalu apa yang bakal terjadi dengan Atalanta yang, kalau benar, telah merugikan negara sampai segininya? Menarik ditunggu. 

 


TAG: Laga Atalanta Valencia Ucl Champions League Corona Italia






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI