REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

B71 Sandoy Juara Bertahan yang Terdegradasi


M Bimo pada 2020-06-01 jam 12:00 PM


memim


Tak ada target lain selain bisa promosi ke kasta tertinggi bagi klub-klub yang berkutat di divisi bawah. Entah statusnya sebagai juara divisi dua atau hanya runner up bahkan juara ketiga, namun promosi adalah salah satu prestasi yang selalu diinginkan bagi pemain dan suporter.

Promosi adalah satu hal, bisa bertahan dari ketatnya zona degradasi divisi utama adalah hal lain. Di situ lah tantangan sebenarnya para klub promosi ketika harus membuktikan kelayakan bisa bersaing di divisi teratas liga.

Namun banyak cerita keajaiban datang dari klub promosi. Datang dari divisi bawah, sebuah klub promosi tiba-tiba mampu merengkuh juara liga mengalahkan dominasi klub papan atas langganan juara. Ketika mendengar cerita tersebut, kebanyakan orang bakal teringat oleh perjuangan Leicester City pada Premier League musim 2015/2016 silam.

Tapi nyatanya jauh sebelum cerita ajaib Leicester City, ada beberapa klub yang punya cerita serupa di liga sepak bola berbagai belahan dunia. Sebut saja Ajax Amsterdam yang mampu juara Eredivisie pada 1918 sebagai status klub promosi. Ada juga Everton yang menjuarai Liga Inggris pada 1932 setelah promosi dari divisi dua.

Dari Prancis, ada AS Monaco yang secara dramatis merengkuh gelar Ligue 1 pada 1978 sebagai status klub promosi. Namun tak ada cerita yang lebih unik dari yang dialami klub bernama B71 Sandoy. Klub asal Kepulauan Faroe ini berhasil juara Faroe Islands Premier League (FIPL) pada 1989 sebagai klub promosi. Namun satu tahun setelahnya, mereka gagal mempertahankan gelar tersebut bahkan jatuh ke jurang degradasi.

Seperti diketahui, Kepulauan Faroe bukanlah negara yang punya ekosistem sepak bola yang besar dan kuat. Masyarakatnya saja baru kenal sepak bola pada 1892 setelah dipengaruhi oleh para pedagang Inggris. Pedagang-pedagang ini kemudian membentuk klub sepak bola bernama Tvoroyrar Boltfelag (TB) yang saat ini masih berkompetisi di divisi teratas sekaligus menjadi klub tertua di Kepulauan Faroe.

Tim nasional Kepulauan Faroe sempat menjadi sorotan dunia karena latar belakang pemain-pemainnya. Ada yang datang dari seorang dokter, polisi hingga pemadam kebakaran. Maklum, di sana pesepak bola profesional adalah sambilan daripada pria-pria yang telah berprofesi seperti yang disebutkan tadi maupun profesi lainnya.

Sandoy, sebuah pulau kecil di Kepulauan Faroe, baru memiliki tim sepak bola pada 1970. Klub ini diberi nama Sand, diambil dari nama depan wilayah mereka. Namun klub ini jangkauannya hanya lokal saja. Akhirnya klub ini dipecah menjadi Sandur dan Skorpun, dua nama yang diambil dari desa yang punya penduduk terpadat di Sandoy. Pemecahan ini semata-mata agar Sandoy memiliki laga sepak bola derby. Sandur dan Skorpun memulai laga derby pertamanya dengan gawang yang dibuat dari dua bongkah batu masing-masing sisi.

Minat masyarakat Sandoy terhadap sepak bola begitu besar. Namun klub sepak bola yang mereka miliki tidak mampu memenuhi ekspektasi masyarakat yang besar tersebut. Kemudian untuk merefleksikan itu, klub Sand tadi kini diubah total menjadi B71 Sandoy. Klub ini dibentuk dan mulai berkompetisi di divisi ketiga, divisi paling bawah FIPL.

Dalam sebuah wawancara, Eli Hentze yang merupakan salah seorang legenda B71 Sandoy mengungkapkan kalau klub ini tidak pernah memenangkan apapun sejak 1970 sampai 1986. 16 tahun yang sepi dari prestasi untuk klub yang baru merangkak di kompetisi sepak bola Faroe.

Namun sebenarnya, ada proses yang signifikan dari B71 Sandoy pada 1980an. Saat itu, suporter Sandoy sedang banyak-banyaknya. Mereka datang dari anak-anak muda yang mulai jatuh cinta dengan keseruan sepak bola. Mereka bukan cuma penggemar, namun ikut terinspirasi dan bermimpi untuk bisa bermain di klub kebanggaan Sandoy itu.

Berangkat dari situ, perlahan-lahan B71 Sandoy mulai memiliki pemain-pemain muda berbakat yang datang dari masyarakatnya sendiri. Eli Hentze, yang kemudian jadi legenda B71 Sandoy merupakan produk dari pemain muda berbakat itu.

Dengan semangat pemain muda, B71 Sandoy menjalani musim 1986 dengan cukup luar biasa. Mereka pertama kali mendapatkan trofi setelah menjuarai divisi tiga. Sejarah terukir, klub ini mampu juara divisi tiga dan juga promosi ke divisi dua untuk pertama kali.

B71 Sandoy kemudian mempertahankan kerangka inti tim juara untuk mengarungi divisi dua. Beruntungnya mereka tidak terdegradasi pada musim debutnya di divisi dua. Bahkan pada musim 1988, dua tahun setelah promosi, B71 Sandoy berhasil menjuarai divisi dua dan berhak promosi ke FIPL. Lagi-lagi para pemain muda yang menjadi aktor di balik kesuksesan tersebut.

Berlaga di divisi tertinggi, tentu membuat klub ini mau tak mau harus melakukan perubahan komposisi pemain dan staff. Mereka mulai dari merekrut pelatih asing asal Polandia, Jan Kaczynski, pada 1988. Pelatih asing ini kemudian membawa dua pemain asal negaranya untuk bermain di B71 Sandoy, yakni gelandang tengah Piotr Krakowski dan kiper Wieslaw Zakrzewski.

Keputusan Sandoy untuk merekrut pelatih dan pemain asing adalah pemandangan yang jarang terjadi di sepak bola Kepulauan Faroe. Bahkan disebutkan, klub ini yang pertama kali menggunakan jasa pemain dan pelatih asing di FIPL.

Namun saat itu Hentze percaya kalau pemain dan pelatih asal Polandia ini mampu membuat tim makin kuat. Pernyataannya berdasar dari fakta yang ternyata Krakowski dan Zakrzewski datang ke Faroe sebagai status mantan pemain yang bertahun-tahun menghabiskan masa kariernya di liga top Polandia. Saat itu, ada aturan pemain Polandia tidak boleh berkarier di luar negeri sebelum usia 30 tahun.

Oleh karena fakta tersebut, sejak kedatangannya ke B71 Sandoy kedua pemain itu dianggap sebagai pemain asing terbaik karena datang langsung dari liga sepak bola papan atas. Dengan bergabungnya dua pemain asing, B71 Sandoy siap menjalani musim debutnya di FIPL pada musim 1989.

Menjalani musim perdana di liga teratas biasanya jadi tantangan terberat bagi klub promosi. Namun ini tak berlaku bagi anak-anak muda yang masih dipertahankan oleh B71 Sandoy. Alih-alih terpengaruh dengan status klub-klub besar papan atas, mereka selalu bermain lepas tanpa beban di setiap pertandingan.

Pertandingan melawan klub-klub kuat terbukti dilalui dengan cukup mulus. Ketika berhadapan dengan B68 Toftir, pemegang dua kali juara FIPL, Sandoy berhasil menuntaskan dengan skor 1-1 pada laga perdana mereka. Malah ketika menghadapi klub dengan pemegang gelar juara 15 kali, Klaksvikar Itrottarfelag, Sandoy berhasil menang dengan skor tiga gol tanpa balas.

Memainkan lima pertandingan musim perdana di FIPL, B71 Sandoy bertengger di posisi puncak. Dengan catatan meraih tiga kemenangan dan dua kali hasil imbang. Namun tampaknya tak ada klub yang bisa menjatuhkan dominasi Sandoy di FIPL musim itu. Termasuk klub juara bertahan dari ibu kota, Havnar Bóltfelag (HB), yang hanya meraih hasil imbang 0-0 dengan Sandoy di putaran pertama.

Kemudian pada akhir musim yang hanya menyisakan satu pertandingan, B71 Sandoy telah dinobatkan menjadi juara FIPL musim 1989. Namun perjuangan anak-anak muda Sandoy masih berlanjut sampai 90 menit terakhir. Tentu saja untuk mengklaim sebagai klub juara yang tak terkalahkan di FIPL musim itu.

HB yang status juara bertahannya direbut, bisa saja jadi perusak pesta juara B71 Sandoy di laga terakhir. Namun sayangnya rencana itu tidak dapat terwujud. Pada pertandingan itu B71 mampu menahan HB dengan skor 2-2. Hasil ini menjadikan B71 Sandoy sebagai klub juara yang tak terkalahkan.

Empat musim yang terlewati sungguh luar biasa untuk B71 Sandoy. Mereka datang dari antah berantah divisi tiga yang kemudian merangkak naik hingga merebut gelar juara FIPL. Namun sayangnya, nasib unik dan langka harus dialami mereka satu musim setelahnya. Tepatnya pada musim 1990, B71 Sandoy mengakhiri musim di zona degradasi yang membuat sang klub promosi yang juara liga tanpa kalah ini harus turun ke divisi dua.

Musim 1990 FIPL berjalan begitu ketat. Kontestan FIPL yang tak begitu banyak, membuat jarak poin antar peringkat tiga dan jurang degradasi sangat tipis. B71 Sandoy terjebak dalam keadaan sulit. Pada pertandingan terakhir, posisinya terjepit antara bisa finis di peringkat tiga jika memenangkan pertandingan terakhir atau terdegradasi jika kalah.

Sayangnya musim itu berlalu begitu buruk, B71 Sandoy tak mampu memenangkan laga terakhirnya. Kejadian ini menjadikan cerita dongeng yang berakhir begitu cepat. Trio pemain dan pelatih Polandia yang menjadi aktor sukses B71 Sandoy musim lalu dipecat. B71 Sandoy kembali mengandalkan pemain muda.

Usai degradasi, B71 Sandoy berusaha untuk kembali ke FIPL, namun prestasinya naik-turun. Mereka bahkan sempat kembali terjerembab ke divisi tiga lagi. Namun hingga musim 2020 ini, B71 Sandoy masih ada di divisi dua Liga Kepulauan Faroe.

Sepak bola memang soal konsistensi. Konsistensi soal taktik, pemain, performa yang nantinya akan bermuara kepada konsistensi prestasi. Atau sebenarnya sepak bola ini hanya menyoal soal keberuntungan semata ya?


TAG: B71 Sandoy






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

3

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

4

Omelan Bang Ben dan Intensitas Permainan Timnas yang Buruk

5

Formasi WM dan Perkembangannya

LEGENDA HARI INI


Card image cap
05 March

Pada tanggal 5 Maret 1870, London menjadi tuan rumah pertandingan internasional pertama di dunia, dengan mempertemukan Timnas Inggris menghadapi sekelompok pemain Skotlandia yang berbasis di London. Pertadningan Itu berakhir imbang 1-1.


IKUTI KAMI