REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Belajar dari Dortmund Perihal Memanusiakan Suporter


Aditya Hasymi pada 2021-10-19 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Selama ini rumus mengecap kesuksesan adalah persoalan vertikal. Tentang bagaimana bersiap diri agar nantinya diberi berkah oleh sang pencipta. Hingga seringkali mereka yang dekat secara horizontal, sesama manusia, terlupa untuk diperhatikan.

Terlalu sibuk mengejar kesuksesan tak jarang membuat lupa hal dasar dari hidup: memanusiakan manusia. Berjuang keras hingga tidak peduli lagi soal saling menghargai, menghormati, dan tidak mengadili sesama insan. Padahal, mereka yang punya jiwa ini punya andil atas kelangsungan kehidupan. Wujudnya memang tak kasat mata namun penting.

Sepak bola bisa dianggap olahraga yang tumbuh berkat manusia. Bermula dari kumpulan jiwa-jiwa. Sebelas lawan sebelas hingga bermain sendiri terasa hambar. Maka dari itu, sudah selayaknya rasa kebersamaan menjadi pondasi.

Sulit untuk mempercayai kebersamaan manusia merupakan hal penting di sepakbola? Tanyakan saja pada Borussia Dortmund. Ya, si kuning hitam ini telah merasakan pahit manis hingga getirnya sepak bola berkat si penggerak roda kehidupan. Pernah berada di posisi terwahid, lalu jatuh ke lubang paling dasar dalam periode singkat, lantas kembali lagi dalam lintasan semua karena barisan manusia berpredikat suporter.

Musim 1990-an akan dikenang bagi seluruh pandemen Dortmund sebagai era keemasan tim. Bagaimana tidak, kala itu di bawah asuhan tangan dingin Ottmar Hitzfeld, Die Schwarzgelben diperhitungkan sebagai juara liga jauh sebelum Bayern mendominasi. Pesaing mereka pun hanya tetangga berisik Schalke 04 dan Hamburg SV. Gelar kampiun Bundesliga beruntun berhasil diraih pada musim 1994/1995 dan 1995/1996.

Masih di era yang sama, nama besar kesebelasan kuning hitam juga harum di kancah Eropa. Tim yang berdiri tahun 1909 ini mampu berlaga di final Piala UEFA walaupun kalah agregat 6-1 dari Juventus. Puncaknya si kuping besar sukses digamit oleh Riedle dan kawan-kawan dalam partai revans atas Bianconeri di tanah Munich musim 1996-1997. Setahun setelahnya menjadi pelengkap tinta emas setelah status klub terbaik di dunia dipatenkan dengan menang 2-0 atas Cruzeiro di partai puncak Intercontinental Cup.

Akan tetapi, di balik keemasan yang menyelimuti Dortmund di era 90-an, ada satu hal yang penting malah justru luput dari jangkauan: menjaga hubungan baik dengan para suporter. BVB kala itu belum paham betul bahwa ‘pemain ke-12’ ini adalah bagian penting dari gerak langkah kesebelasan. Mereka yang setia mendukung ini dianggap angin lalu oleh manajemen Die Borussen.


sumber foto: The Athletic

Apa yang ada di benak petinggi Dortmund saat itu berpaku soal mencari keuntungan secara finansial. Segala cara ditempuh dengan atas dasar cuan berlimpah. Upaya tersebut dilakukan dengan membuat BVB sebagai firma terbuka. Kuning hitam melantai di bursa saham Jerman pada medio Oktober 2000 dan menjadikan mereka klub pertama yang melakukanya.

Hanya saja Dortmund melakukan ekspansi bisnis secara gegabah. Ada langkah yang keliru dimana ketika masuk bursa saham berarti kepemilikan terbuka untuk publik, manajemen klub malahan tak mengindahkan unsur tersebut. Upaya suporter untuk memiliki saham dipagari betul. Ditambah lagi pemain dan suporter begitu berjarak dengan tak ada sapaan ramah saat bertanding, yang secara branding klub pun tak ramah untuk publik.

Ketidakpekaan Dortmund akan pentingnya unsur publik dalam kesuksesan klub berujung pada kondisi pahit. Palu godam itu seakan memukul telak tim dari Lembar Ruhr ini ketika pengadilan memvonis kondisi keuangan menuju kebangkrutan pada 2003.

Sungguh ironis, Dortmund menjadi kesebelasan pertama yang go public terancam gulung tikar pada waktu itu, karena tak mengindahkan barisan suporter yang setia mendukungnya.

 
Yellow Wall yang Menyelamatkan Dortmund

Karma itu nyata bagi mereka yang menyepelekan urusan memanusiakan manusia. Bagi Dortmund ujaran tersebut benar berlaku adanya. Tak menghiraukan suporter yang setia mendukung membuat BVB merasakan kerugian teramat dalam.

Manis era keemasan hilang tak berbekas. Identitas nama stadion mau tak mau hilang karena harus dijual demi pemasukan dari Westfalenstadion menjadi Signal Iduna Park. Gaji pemain terkorbankan dengan pemotongan sebesar 20%. Bahkan, rasa malu harus ditanggung karena sang rival, FC Bayern, sampai harus mengulurkan tangan meminjamkan dua juta euro.

Pada saat kesebelasan berada di titik nadir barulah terasa bahwa yang benar-benar mencintai sepenuh jiwa raga adalah suporter. Ketika semua pergi, bahkan pemain bintang sekalipun, selalu ada barisan setia tanpa pamrih tetap bertahan.

Borussia Dortmund beruntung punya The Yellow Wall. Serdadu yang menyemut di belakang gawang tiap Die Borussen merumput ini menunjukkan perhatian paling besar kala situasi tak berpihak.

Suporter tim kuning hitam ini berunjuk rasa besar-besaran agar klub tidak dijual ke investor baru walaupun dalam kondisi hampir bangkrut. Tak hanya seruan, kelompok pendukung ini juga pasang badan akan ambil bagian membiayai klub dengan bergabung sebagai pemilik saham.

Kali ini petinggi Dortmund tidak menutup telinga dari seruan suporternya sendiri. Mereka sadar bahwa kesebelasan ini besar karena pendukungnya yang turut membangun. Hans-Joachim Watzke, sebagai CEO baru kala itu, membuka diri kepada masyarakat untuk membantu dan lahirkan gelombang dukungan ‘Wir sind die Dortmunder’ - kita adalah Dortmund. Berbagai lapisan masyarakat mulai dari warga, pengusaha, hingga pemerintah daerah Bersatu menyelamatkan BVB.

Peristiwa ini menjadi titik balik bagaimana Dortmund mampu kembali ke level pro dengan keuangan yang sehat. Berkat jasa suporter, medio 2008 neraca keuangan dari Die Borussen berwarna hijau dan dinyatakan telah keluar dari keadaan pailit.

Bangkitnya Dortmund dari kebangkrutan oleh suporter ini pula kemudian mengilhami kepemilikan klub oleh suporter di Bundesliga. Tersebutlah peraturan 50+1, sebuah aturan dengan semangat penegasan bahwa para pendukung punya posisi tawar lebih atas kesebelasan yang didukung.


sumber foto: Getty Images

Hubungan Dortmund dengan The Yellow Wall semakin beriringan setelahnya. Kedua entitas tersebut saling bekerja sama memajukan tim. Hasil disemai dengan terbentuknya identitas kesebelasan berupa permainan menyerang cepat bertumpu pada pemain muda. Tersematlah filosofi tim ‘Echte Liebe’ yang berarti cinta sejati di jersey pemain, sebagai pengingat sinergi antara tim dan para pendukung.

Dari apa yang dialami Borussia Dortmund semakin menunjukkan bahwa upaya mengolah si kulit bundar ini adalah perkara memanusiakan manusia, atau dalam hal ini barisan suporter. Bermula dari manusia dan akan kembali lagi ke manusia.


TAG: Dortmund Klub






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI