REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Budaya Kekerasan dan Radikalisme dari Ultras Roma


M. Bimo pada 2020-12-30 jam 12:00 PM


Gantigol/Aldito Ilham


Sepakbola seharusnya tak layak menentukan hidup dan mati dari nyawa seseorang. Tidak peduli seberapa setianya kelompok suporter mendukung tim kesayangannya, atau juga betapa bencinya antara satu kelompok kepada kelompok lainnya, menghilangkan sebuah nyawa manusia tidak sebercanda itu.

Namun kenyataannya, kekerasan yang terjadi di dalam tribun maupun di luar stadion seringkali menimbulkan korban jiwa. Tak peduli itu di Indonesia, Inggris atau Italia pernah terjadi hal serupa.

Pada 2018 lalu, adegan penusukan di luar Stadion Anfield menjelang semifinal Liga Champions yang mempertemukan Liverpool dan AS Roma adalah yang terburuk. Telah diputuskan bahwa pelaku yang bersalah pada insiden tersebut adalah oknum suporter AS Roma yang melakukan penusukan terhadap suporter Liverpool, Sean Cox. Ia sempat dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.

Tapi sayangnya, ini bukan kejadian pertama ultras Roma, atau juga klub lain di Italia, terlibat pada insiden berdarah seperti ini. Mereka memiliki perjalanan sejarah sebagai salah satu kelompok ultras yang identik dengan kekerasan dan pandangannya yang radikal.

Jika menilik dari sejarahnya, ultra berasal dari kata Latin yang berarti luar biasa atau ekstrem. Kalau di sepakbola, istilah ini dikenal sebagai kelompok suporter hardcore yang perilakunya dianggap luar biasa.

Di Italia, kelompok-kelompok ultras terorganisir dan menjadi elemen masyarakat sipil yang sangat kuat. Dukungan mereka untuk klub sangat loyal, sementara identitas mereka seringkali didukung oleh politik. Kelompok ultras adalah mereka yang memberikan atmosfer pertandingan mempesona, menghadirkan koreografi, bentangan-bentangan spanduk, kilauan flare dan kebisingan dari sorak sorai yang tak henti diteriakkan.

Fenomena ultras di Italia mulai muncul pada akhir 1960an. Berawal dari konflik sipil yang terjadi, kemudian masyarakat Italia pecah menjadi beberapa kubu. Para pemuda kemudian mulai menyentuh politik, mengadu domba faksi paramiliter sayap kiri dan sayap kanan.

Ketegangan tersebut mengarah ke sepakbola yang kemudian memunculkan kehadiran kaum neo-fasis dan komunis. Kaum-kaum ini keberadaannya cukup tangguh sampai menduduki tribun-tribun stadion di Italia.

Di AS Roma, ada dua kelompok ultras yang didirikan pada awal 1970an, yakni Fedayn berlatar belakang kesetiaan terhadap sayap kiri, sementara kelompok Boys Roma ada di pihak sayap kanan. Oleh karena bercampur dengan politik, kekerasan di sepakbola mulai sering terjadi.

Masih menyangkut kasus penusukan Sean Cox, disebutkan kalau penusuknya adalah salah satu anggota dari Fedayn. Si pelaku ini aktif hadir di Curva Sud Giallorossi. Meski nggak semua ultras senang merusuh, namun kelompok ultras AS Roma dikecualikan.

Untuk perkembangan ultras di Roma sendiri masih ada sangkut pautnya dengan kejadian pada 1944, di mana Nazi melakukan serangan besar di kawasan Quadraro, Roma. Wilayah ini dikenal dengan zona sentimen anti-fasis. Jerman kemudian menangkap 700 orang di sana dan mengirimkannya ke kamp konsentrasi. Sebagian besar dari mereka tewas.

30 tahun kemudian, simpati politik rakyat atas insiden penyerangan yang dilakukan oleh Nazi tersebut menjadi inspirasi berdirinya salah satu kelompok ultras paling terkenal di Roma, Fedayn. Kelompok ini dibentuk oleh seorang komunis terkenal, Roberto Rulli.

Nama Fedayn sendiri dipilih dari nama kelompok pembebasan Palestina. Pandangan dan sikap politik Fedayn, membuat mereka berhadapan langsung dengan kelompok ultras lainnya, Boys Roma yang memiliki pandangan politik berseberangan. Kekerasan tentu menjadi bagian dari ideologi ekstrem mereka.


Terlalu Nyaman Dengan Budaya Kekerasan

Kelompok ultras sayap kanan dan sayap kiri sebenarnya sudah dicoba untuk dipersatukan. Pada 1977, Commandos Ultra Curva Sud didirikan dalam upaya menyatukan mereka. Namun, upaya ini gagal karena sebuah tragedi berdarah.

Seorang pendukung Lazio, Vincenzo Paparelli terbunuh oleh petasan roket yang ditembakkan dari tribun oleh anggota suporter Fedayn. Kematian Paparelli ini menjadi duka nasional juga menjadi tanda bahwa kekerasan sudah menjadi bagian dari tubuh politik ultras di Italia.

Pada 4 Juni 1989, suporter Roma, Antonio De Falchi jatuh pingsan dan meninggal karena serangan jantung setelah dikejar oleh 10 ultras Milan dari Stasiun Milano Centrale. Kematiannya masih diperingati lewat bendera yang dikibarkan di Curva Sud Roma.

Politik pemerintahan negara yang kacau membuat tindakan kekerasan di masyarakat semakin beringas. Kegagalan ini kemudian banyak menimbulkan berbagai bentrokan antara kelompok ultras dan aparat. Jadi, ultras tidak hanya menciptakan konflik kepada sesamanya, melainkan dengan siapa saja yang menghalangi langkah mereka.

Kembali soal bentrokan antara ultras dan ultras ataupun dengan kelompok lain, Roma punya julukan sebagai stab city. Ini diambil dari beberapa kejadian penusukan yang dilakukan oleh para kelompok ultras ibu kota Italia tersebut.

Pada Europa League 2006, sebuah insiden penusukan terjadi di Drunken Ship, sebuah pub lokal rasa internasional karena sering didatangi tamu asing. Beberapa orang ditusuk di sana, tepat hari di mana Roma memainkan pertandingan kontra Middlesbrough.

Enam tahun kemudian, fans Tottenham yang dikenal sebagai pengikut Yahudi, diserang oleh ultras Lazio di pub yang sama. Namun setelah dilakukan penyelidikan, dua pelaku penusukan itu merupakan anggota ultras Roma, bukan Lazio yang merupakan lawan Tottenham pada hari itu.

Pada final Coppa d'Italia 2014 di Roma juga pernah terjadi bentrokan besar antara Daniele De Santis, mantan pemimpin ultras Roma, dan para suporter Napoli. Menggelikan karena pertandingan final itu tidak melibatkan AS Roma sama sekali. Namun karena rivalitas sengit antara Roma dan Napoli, terjadilah kekacauan itu. De Santis menembak tiga suporter Napoli.

Hingga hari ini, kekerasan dan keterlibatan politik di dalam tubuh ultras masih kerap terjadi. Namun perlahan, beberapa kelompok mulai menyadari tujuan mereka berdiri di tribun; mendukung tim mereka dengan cara positif dan menciptakan atmosfer yang bisa membantu membangkitkan semangat serta menjadi tontonan yang menarik.

Kekerasan dan sifat barbar adalah tantangan yang harus mereka binasakan. Meski itu dilakukan oleh kelompok minoritas dari sebuah kelompok yang lebih besar, namun kekerasan yang dimotivasi oleh persaingan antar klub ataupun afiliasi politik adalah sisi gelap budaya ultras di Italia yang masih sulit untuk dihilangkan.


TAG: Ultras As Roma Serie A






BACA LAINNYA


LAPAK


ARTIKEL POPULER


LEGENDA BULAN INI


IKUTI KAMI