REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Cuma Silvio Berlusconi yang Bisa Jadi Pawang Kesuksesan AC Milan


M Bimo pada 2020-10-13 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Silvio Berlusconi punya dua sisi kehidupan di Italia. Dalam ranah politik, ia merupakan sosok yang kontroversial. Tingkah laku pribadinya dicap 'kurang ramah' oleh sebagian orang. Kisah kontroversial seperti penggelapan pajak, penipuan keuangan, keterlibatan dalam asosiasi mafia, perilaku penyimpangan seksual, pesta yang dipenuhi cewek-cewek seksi dan manipulasi media, selalu melekat pada diri anggota parlemen Italia ini.


Namun di sepakbola, Berlusconi adalah seorang pahlawan. Superhero yang diakui oleh kelompok suporter AC Milan terlepas dari kontroversi-kontroversinya di luar sana. Namun, tiap diri suporter yang memiliki pandangan politik masing-masing atau bahkan tidak peduli dengan urusan itu, hanya melihat Berlusconi sebagai sosok presiden yang menawarkan kejayaan bagi AC Milan.


Pada akhir November 2016, Curva Sud menampilkan koreografi raksasa yang didedikasikan untuk sang presidente. Dalam koreografi tersebut, terlihat jelas bagaimana gambaran sosok Berlusconi di mata para suporter. Sang presiden dilukis memakai jas berwarna hitam sambil memeluk trofi Liga Champions dan Piala Dunia Antar Klub. Sementara di sekelilingnya masih banyak piala-piala domestik lain yang tak bisa ditadah menggunakan kedua tangan. Ya, gambaran pemimpin klub sepakbola terhebat.


Silvio Berlusconi lahir di Milan pada 29 September 1936. Ia datang dari keluarga kelas menengah. Ayahnya merupakan seorang pegawai bank dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Ia merampungkan studi hukum pada 1961 dan mengkhususkan diri pada bidang hukum periklanan. Selama kuliah, ia menyambi sebagai penyanyi di kapal pesiar. Tahun-tahun berikutnya sebagai penyanyi, ia sempat menciptakan lagu anthem untuk AC Milan.


Berlusconi bukan cuma seorang tokoh politik atau pemimpin klub sepakbola saja. Namun dia juga merupakan seorang pebisnis sukses. Pada 1960an, Berlusconi mulai mengasah bidang kewirausahaannya dengan membeli tanah kemudian membangun apartemen. Satu dekade kemudian, ia mulai mengambil alih kursi presiden di berbagai perusahaan besar termasuk Fininvest dan Italcantieri. Bahkan, ia mendapat jabatan pemimpin di sebuah surat kabar.


Pada 1980, Berlusconi mulai berkecimpung di dunia politik setelah membangun jaringan dengan mantan Perdana Menteri (PM) Bettino Craxi. Kemudian pada 1994, ia mendirikan partai politik sendiri yang diberi nama Forza Italia.


Kembali mundur sedikit pada tahun 1986, AC Milan merupakan klub yang memiliki nama besar namun masih jauh tertinggal dari prestasi yang diukir oleh Juventus. Milan kalah telak jika diukur dari prestasi dan juga soal bisnis klub. Hingga akhirnya pada 24 Maret di tahun yang sama, Berlusconi mengambil alih dan menjadi presiden ke-21 Milan.


"Milan adalah sebuah tim, tapi juga merupakan sebuah produk untuk dijual; sesuatu untuk ditawarkan di pasar," ujar Berlusconi pada konferensi pers perdana sebagai Presiden AC Milan.


Pahlawan dalam kegelapan


Dalam waktu singkat, Berlusconi mendatangkan pemain-pemain berlabel bintang ke San Siro. Roberto Donadoni, Giuseppe Galderisi, Daniele Massaro dan kiper Giovanni Galli masuk di kloter pertama mengisi skuat utama Rossoneri. Namun, perubahan nasib besar-besaran baru terjadi ketika Milan kedatangan pelatih Arrigo Sacchi dan trio Belanda van Basten, Frank Rijkaard dan Ruud Gullit.


Pada musim 1987-1988, Milan menggeser Napoli sebagai juara bertahan Serie A. Pada musim itu, Milan meraih gelar scudetto ke-11 sekaligus menjadi yang pertama di era Silvio Berlusconi. Keberhasilan penting lainnya terjadi setahun kemudian, ketika Rossoneri menguasai Benua Biru dengan mengangkat trofi juara Champions League.


Satu yang terlihat dari era kepemimpinan Berlusconi adalah cukup sering gonta-ganti pelatih kepala. Tak peduli seberapa sukses Milan di bawah nahkoda Sacchi, ia digantikan oleh Fabio Capello. Tapi dominasi Milan di Italia dan Eropa masih terus berlanjut.


Nasib Capello juga sama. Meski sukses besar, namun posisinya tidak serta merta aman. Usai Capello, silih berganti mengisi kursi kosong pelatih Milan mulai dari Oscar Tabarez, Giorgio Morini dan kemudian kembalinya Sacchi dan Capello. Dalam menguasai liga domestik dan Eropa, Milan bukan berarti tanpa pesaing. Juventus terus menempel ketat perjalanan Milan sebagai klub terbaik pada masanya.


Bisa dibilang, era Berlusconi adalah era tersuksesnya AC Milan. Tetapi belakangan, Rossoneri masih nyaman di bawah bayang-bayang Juventus yang sangat dominan. Akhir-akhir ini jangankan Liga Champions, Liga Europa pun masih keteteran. Mengambil alih scudetto juga belum bisa cukup bersaing.


Keadaan ini tampaknya membuat Milan berada dalam era pasca-Berlusconi dan mau tak mau harus mempersiapkan langkah baru. Salah satu cara yang mereka lakukan saat ini adalah dengan menggunakan berbagai platform media sosial untuk menjaring banyak penggemar dan sponsor. Mereka menggunakan platform seperti Twitter, Facebook dan YouTube sebagai alat untuk menempatkan namanya di garis depan sepakbola global.


Kelakuan Berlusconi selama bertahun-tahun dan dalam berbagai kasus memang tak bisa dimaafkan dengan mudah. Dia bagai mafia yang wajahnya hampir selalu terlihat hampir setiap pekan di halaman terdepan media massa. Hal ini terjadi tak lain dan tak bukan karena kekuasaan dia atas media massa di Italia.


Jika dijabarkan, banyak sekali skandal dan kontroversi Berlusconi yang tak mungkin dijelaskan secara gamblang pada artikel ini. Bagaimana seorang miliarder tua Italia berhasil memanipulasi sistem hukum dan politik Italia untuk terpilih berkali-kali sebagai Perdana Menteri. Hal yang harus ditanyakan dan selalu menjadi tanda tanya besar oleh masyarakat Italia yang menggunakan hak suaranya.


Meski menjadi duta sepakbola dunia, terkadang komentar Berlusconi soal wanita, seksualitas hingga rasisme selalu menuai kritik pedas. Dia langganan membuat kesalahan verbal sebagai pemimpin dan selalu menyulut emosi penduduk Italia karena keterlibatannya dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh kontroversial. Salah satu yang terkenal adalah foto akrabnya dengan Kolonel Gaddafi.


Tapi sekali lagi, Berlusconi tetap menjadi pahlawan para suporter AC Milan dan bagi siapapun yang pernah berhubungan dengan Rossoneri. Dialah yang membuat Milan menjadi klub sepakbola moderen dengan menerapkan strategi bisnis yang cerdik dan sangat menguntungkan. Latar belakang Berlusconi sebagai wirausaha dan konglomerat dunia memungkinkan hal itu terjadi.


Satu yang Berlusconi nantikan di kariernya sebagai mantan pemimpin klub sepakbola adalah sosok atau namanya diabadikan di salah satu bagian tubuh AC Milan. Namun masalahnya, San Siro bukanlah stadion milik AC Milan pribadi. Ia tak bisa melakukan seperti klub asal Inggris misalnya, yang dengan mudah mengubah nama tribun menjadi nama legenda mereka atau mendirikan patung sebagai penghormatan untuk sosok legenda.


Pada 1980, San Siro diberi nama lain sebagai Stadion Giuseppe Meazza. Hal ini dilakukan untuk menghormati pemain tak terlupakan yang dua kali menjuarai Piala Dunia bersama timnas Italia. Meazza juga menghabiskan 13 tahun kariernya bersama Inter Milan yang juga menggunakan stadion yang sama.


Hal yang sama bisa saja terjadi untuk Silvio Berlusconi. Tapi bagaimana ya reaksi publik jika salah satu tribun San Siro dinamai Silvio Berlusconi Stand, misalnya, untuk menghormati Presiden terhebat AC Milan ini?


TAG: Milan Ac Milan Berlusconi Tokoh






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI