REGISTER
Keranjang Anda Kosong
Total:
0

Darah Kesetiaan yang Mengalir di Tubuh Keluarga Franco Sensi


M Bimo pada 2020-10-14 jam 12:00 PM


Gantigol/Ilham Dito


Berbagai klub sepakbola didirikan dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang dibuat karena urusan bisnis, ada yang berdiri karena passion sang pemilik terhadap sepakbola, dan ada juga yang lahir karena faktor gabungan keduanya.

AS Roma, klub raksasa ibu kota Italia, lahir tak lepas dari peran keluarga Franco Sensi. Seperti diketahui, Franco merupakan salah satu presiden klub yang paling dihormati. Ia lahir pada 1926, di mana kondisi Italia sedang panas-panasnya karena dalam masa peralihan ke zaman rezim fasis.

Ayah Franco, Silvio Sensi adalah pengusaha terkenal dan tersukses di Roma yang memiliki hasrat besar pada dunia sepakbola. Hanya berselang satu tahun dari momen kelahiran Franco, Silvio menjadi orang penting di balik berdirinya klub berjuluk Giallorossi ini.

Saat itu, Serie A sedang didominasi oleh klub-klub besar dari utara Italia. Benito Mussolini yang sempat memimpin Italia pada masa itu, menginginkan adanya klub asal Roma yang bisa menandingi kuatnya klub dari utara. Silvio pun merasa tertantang. Bersama dengan Italo Foschi, Silvio mencapai kesepakatan untuk menggabungkan tiga klub yang berbasis di Roma yakni Fortitudo-ProRoma, Roma Foot Ball Club dan Alba-Audace menjadi AS Roma.

Kemudian setelah terbentuk, Foschi pun dipilih sebagai presiden pertama AS Roma. Satu fakta menarik soal bergabungnya klub-klub ini, ada satu klub asal ibu kota yang menolak merger ialah SS Lazio.

Franco kemudian sering dibawa ke stadion oleh sang ayah, untuk melihat permainan dari tim yang menjadi harapan baru kota Roma. Dari situlah benih-benih cinta terhadap klub mulai tumbuh. Sesuai prediksi, dialah yang meneruskan jejak langkah perjuangan AS Roma dari sang ayah.

Di luar sepakbola, Franco Sensi menghabiskan waktu studinya untuk memperoleh gelar di bidang matematika. Dia juga merupakan seorang pengusaha minyak dan properti yang sukses. Franco juga mengikuti jejak keluarga besarnya yang banyak berkecimpung di politik.

Pergi untuk kembali

Keterlibatan Franco di AS Roma dimulai sejak 1960, di mana ia mengisi kursi wakil presiden. Ia menghabiskan waktu terbaiknya di sana ketika AS Roma memenangkan trofi kejuaraan Eropa pertama mereka, Inter-Cities Fairs Cup pada 1961. Tiga tahun kemudian, Roma berhasil menjuarai Coppa Italia sebagai trofi coppa pertama mereka.

Namun, ia menghabiskan waktu tidak cukup lama di posisi itu. Franco memutuskan untuk mundur dari jajaran petinggi AS Roma ketika Franco Evangelisti menjadi presiden. Faktor berbeda pandangan yang berujung terjadi ketidaksepakatan memaksa Franco hengkang dari klub.

Kecewa tapi tidak putus asa. Cinta Franco Sensi untuk Roma tetap selalu ada. Meski sudah tak lagi menjabat, ia beberapa kali menyatakan pujiannya terhadap peran suporter yang dianggap penting akan kesuksesan Giallorossi pada era 1980an.

Franco meninggalkan Roma dalam keadaan baik. Namun, ia kembali lagi kepada klub ketika keadaannya sedang dalam masalah besar baik di dalam maupun di luar lapangan.

Pada 1993, AS Roma menghadapi krisis. Presiden Roma saat itu, Giuseppe Ciarrapico sedang menghadapi krisis keuangan yang cukup parah. Klub itu sendiri berada di ambang kebangkrutan dan kehancuran.

"Saya membeli Roma ketika di ambang kebangkrutan, membayar 20 miliar lira hanya untuk kemudian menemukan utang 100 miliar," ujar Franco usai berhasil mengambil alih kendali penuh AS Roma.

Franco Sensi adalah pahlawan Giallorossi saat itu. Ia bersama dengan Pietro Mezzaroma membangun kembali klub meski memakan banyak waktu dan uang. Meski demikian, beberapa bulan kemudian Mezzaroma undur diri dan menjadikan Franco sebagai pemilik tunggal.

Kalau bukan karena Franco, Totti sudah hengkang di musim pertamanya

Carlo Mazzone menjadi penunjukkan pelatih pertama yang dilakukan oleh Franco. Sang presiden tampak memilih sosok yang tepat. Mazzone yang lahir dan besar di Roma memiliki hasrat yang sama, membawa kembali kejayaan Giallorossi yang meredup. Pada usaha musim pertamanya, Mazzone membawa Roma finis di urutan 7 klasemen. Hasil yang cukup bagus mengingat kondisi Roma yang saat itu masih compang-camping.

Pemain dan pelatih melakukan yang terbaik di dalam lapangan, Franco Sensi membereskan kekacauan di luar lapangan. Ia berhasil merestrukturisasi keuangan klub, yang berarti membawa Roma jauh dari kemungkinan akan bangkrut. Hubungan antara fans dan klub juga mulai terjalin baik. Suporter tahu saat itu klub mereka sudah berada di tangan yang tepat, hingga akhirnya mendukung penuh apapun yang dilakukan oleh klub.

Mungkin tak banyak yang tahu, hubungan Francesco Totti dan Franco terjalin sangat erat. Totti menjalani debutnya di klub ibu kota hanya beberapa bulan sebelum Franco menjadi presiden. Kalau bukan karena Franco, mungkin hari ini Totti tidak akan dikenal sebagai legenda hidup AS Roma.

Totti hampir bergabung dengan Sampdoria di awal kepemimpinan Franco. Namun, sang presiden menahan Totti untuk tidak ke mana-mana. Ia lebih merelakan Carlos Bianchi yang pergi daripada anak muda Roma ini.

"Berkat dia saya bertahan di Roma. Jika saya pergi, saya tidak akan kembali," kata Totti.

Fabio Capello masuk, menjadi penanda kesuksesan Roma yang baru. Franco membawa Capello untuk menggantikan Zdenek Zeman. Franco memberikan kebebasan kepada mantan pelatih AC Milan ini untuk mengembangkan skuatnya. Secara bertahap, Capello membawa masuk pemain-pemain berkelas seperti Gabriel Batistuta, Walter Samuel, Emerson, dan Jonathan Zebina yang kesemuanya menjadi kunci sukses Roma pada akhir 1990an.

Capello juga bahkan sampai mengubah formasi andalan 4-4-2 yang sering ia pakai, menjadi 3-4-1-2 demi mendapatkan yang terbaik dari trio mematikan Totti, Batistuta dan Vincenzo Montella. Gol-gol dari kaki mereka, serta pertahanan solid yang dipimpin Samuel membawa Roma meraih Scudetto pada 2001.

Lagi-lagi sungguh disayangkan, ketika Roma mulai bangkit dari keterpurukan, Franco Sensi mulai sakit-sakitan. Pada 2004, putrinya, Rosella Sensi mulai menangani operasional klub sehari-hari meski Franco tetap menjabat sebagai presiden. Klub dijalankan dengan sangat baik oleh keluarga Sensi. Giallorossi memenangkan dua Coppa Italia dan Supercoppa antara 2001 dan 2008 sembari menikmati sepakbola yang indah di bawah kendali pelatih muda Luciano Spalletti.

Akhir perjalanan Franco Sensi dan Roma terjadi pada 17 Agustus 2008, di mana ketika itu ia mengembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun. Ia meninggal dunia di kota asalnya tercinta. Sebagai presiden klub ke-20, Franco menjadi presiden terlama yang pernah bertugas. Ia memimpin Roma selama 15 tahun.

Rosella mengambil alih kepemimpinan setelah kematian ayahnya. Dia hampir mengulangi kesuksesan saat Roma terpeleset gagal juara Serie A pada 2010. Sempat ada kabar bahwa Roma bakal membangun stadion baru dan akan dinamakan Stadion Franco Sensi. Namun, rencana besar itu berubah seketika investor asal Amerika Serikat masuk ke klub.

Franco Sensi mungkin kariernya sebagai presiden tak segemilang Silvio Berlusconi di AC Milan. Namun ketika Roma meraih Scudetto pada 2001, membuktikan bahwa pengaruh tangan dingin Franco di klub ini sangat mujarab. Itu yang akan selalu tertanam di benak fans setia Giallorossi.

Ketika suporter melihat kembali perjuangan Franco Sensi selama berkecimpung di AS Roma, mereka akan selalu merasakan kesetiaan yang selalu menaungi keluarga Sensi terhadap Roma. Franco Sensi adalah lambang kesetiaan, kesabaran, keindahan dan kesuksesan dari AS Roma itu sendiri.


TAG: As Roma Serie A Franco Sensi Francesco Totti






BACA LAINNYA




LAPAK


BERITA POPULER


1

Dari DM Instagram, Terungkap Kualitas Vlado Sebagai Pelatih

2

Formasi WM dan Perkembangannya

3

Sejarah Formasi: 4-2-3-1, Gelandang Bertahan dan Pemain Nomor 10

4

Memahami Proses dan Menjaga Ekspektasi Bersama Seto

5

Filosofi Sepakbola Indonesia Adalah Pertala

LEGENDA HARI INI


Card image cap
23 October

Pada tanggal 23 Oktober 1973, pemain Derby County menuntut kepada manajemen agar Brian Clough diperkerjakan kembali sebagai pelatih. Sebuah surat yang ditandatangani oleh setiap anggota tim utama diserahkan kepada ketua klub setelah Clough dan asistennya mengundurkan diri.


IKUTI KAMI